Minggu, 02-02-2020 pkl 15.00 WIB, di Gereja Katerdral Jakarta, berlangsung perayaan Ekaristi bagi Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seluruh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Ekaristi dipimpin oleh Bapa Kardinal Igantius Suharyo, dan dampingi empat orang imam.
Hadir dalam Ekaristi ini 167 keluarga ABK, lebih dari 92 volunteer, serta anggota panita yang menyiapkan seluruh perayaan. Mengesankan bahwa beberapa petugas liturgis seperti lektor, pemazmur dan pembawa persembahan adalah ABK.
Ekaristi yang bertepatan dengan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah ini berlangsung lancar dan tenang. Para orangtua dan volunteer mendampingi para saudari dan saudara berkebutuhan khusus. Perayaan ini terasa sebagai doa dan ungkapan kasih bersama bagi ABK maupun bagi para orangtua dan volunteer yang memberikan pendampingan, menyalurkan kasih bagi ABK. Suasana keakraban juga terasa melalui sapaan-sapaan dan foto bersama di akhir Ekaristi.
Khotbah singkat Bapa Kardinal memuat ajakan bagi semua yang hadir untuk belajar menjadi murid Kristus. Semua kita adalah murid Kristus, siapapun, apapun keadaan kita. Sebagai orangtua Yesus, Maria dan Yusuf pun menjalani hidup sebagai murid Yesus. Melalui peran mereka lah ‘Yesus bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk 2: 40).
Teladan kemuridan juga tampak dalam figur-figur lain dalam Injil, yaitu Simeon: seorang yang benar dan saleh, yang hidup dengan mengandalkan hikmat Roh Kudus (bdk. Luk. 2: 25-26). Figur yang lain ialah Hana, seorang perempuan lanjut usia, yang siang malam beribadah dan berpuasa di Bait Allah (bdk Luk. 36-37).
Dari contoh-contoh semangat kemuridan ini, Bapa Kardinal mengajak semua umat yang hadir untuk belajar menjadi murid yang berhikmat, yaitu tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup karena menaruh harapan pada tindakan Allah.
Bapa Uskup juga menyinggung dua tokoh penting di zaman modern yang menemukan makna hidup mereka melalui hidup bersama para penyandang disabilitas: Pastor Henri Nouwen (1932-1996) dari Belanda, seorang profesor terkemuka, dan Jean Vanier (1928-2019) dari Kanada, seorang teolog awam Katolik.
Kedua tokoh tersebut telah meninggalkan profesi yang menjanjikan dan warisan kekayaan keluarga untuk hidup bersama kaum disabilitas. Inti kesaksian dua tokoh ini sama: Mereka mencari makna hidup yang otentik, dan dari para disabilitas lah mereka menerima ajaran tentang makna hidup dan sukacita sejati.
Tentu saja melalui perayaan seperti ini Gereja KAJ mau memberi inspirasi bagi keuskupan lain untuk terus melakukan gerakan-gerakan pelayanan bagi ABK, khususnya pelayanan sakramental. “Bagi kami hari ini bukan hanya sebuah Misa, tetapi sebuah Gerekan Peduli ABK. Semoga Gerakan ini akan menjadi gerakan semua Keuskupan dan paroki-paroki di Indonesia”, demikian harapan seorang volunteer yang kami catat.
Gereja tentu patut berima kasih kepada para orangtua dari ABK, kepada para volunteer yang merelakan waktu dan tenaga, para donatur, perawat dan dokter, maupun psikolog, yang memberikan kesaksian kepada dunia tentang kekuatan harapan akan kasih Tuhan dalam situasi-situasi sulit kehidupan. Semoga dalam pengalaman sulit hidup, kita semua terus mau belajar menjadi murid-murid yang berhikmat.
Woooww…Puji Tuhan ikut senang dengar n baca informasi dr Pater…cb sy lg di jkt pasti menyempatkan datang ikut misa. Sy skrg jg mengajar ABK Pater…pendampingan imannya jg, Desember th 2018 baru mendampingi sakramen inisiasi murid sy dr Papua di greja Kota Baru Yogya beserta ratusan ABK yg lain, misa dipimpin Bapa Uskup Rubi
Trima kasih pater infonya.. Tuhan memang adil ..bagi merrka yang berkekurangan ..Tuhan melengkapi.. kebutha mereka dengan rahmat dan kasihNya… Semoga kita juga boleh memberi sukacita sejati dari hati yang tulus …karna semua yang ad akan berlalu… Ia setia Mengasihi Kita…
Terima kasih Sr, Tuhan memberkati kita selalu, Pax te cum!