Awal Juli lalu, tepatnya tanggal 5, saya dimintai tolong memberikan pelayanan sakramen orang sakit di sebuah rumah sakit di Jakarta. Jujur saja, saya takut mendengar permintaan itu. Apakah saya harus ke rumah sakit dalam situasi beresiko karena wabah korona? Lagi pula komunitas tempat saya tinggal menerapkan isolasi komunitas cukup ketat.
Suster rumah sakit tersebut menjelaskan bahwa nanti saya harus mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap; tentu wajar suster itu mau meyakinkan saya bahwa tidak ada resiko yang perlu ditakuti kalau mengikuti protokol kesehatan dengan mengenakan APD lengkap. Saya pun menjadi berani. Saya menerima permintaan itu.
Meskipun ada rasa was-was, ada satu alasan spontan yang menarik saya: biar ada kisah pengalaman melayani orang sakit pada masa wabah korona. Alasan lain yang berbisik-bisik ialah: tentu pasien yang dimaksud dan keluarganya sangat mengharapkan pelayanan sakramen perminyakan: biasanya karena kondisi pasien sudah sangat lemah.
Saya mau membagikan pengalaman kecil menggunakan Alat Pelindung Diri atau APD. Kurang lebih sejam lamanya saya berada di unit tempat di mana pasien itu dirawat, tetapi pelaksanaan sakramen perminyakan berlangsung singkat: sekitar 20 menit saja. Jadi sekitar 40 menit untuk apa? Untuk proses mengenakan dan melepaskan APD: masker, sarung tangan lengan panjang, face shield, hazmat, tutup kepala, penutup sepatu. Repot!

Jujur saja: waktu 20 menit badan terbungkus APD, sambil membaca rumusan doa dan melakukan ritus sakramen perminyakan adalah hal yang rasanya menyiksa: gerah, kesulitan bernafas, penglihatan kabur. Di balik masker dan face shiled saya harus membuka mata untuk melihat tulisan dengan jelas, dan mengucapkan doa dengan suara jelas.
Pelayanan sakramen perminyakan bukan kerja fisik yang berat, biasa bagi saya, sama sekali tak melelahkan. Namun megenakan APD selema 20 menit itu menyiksa. Saya pikir kalau 20 menit itu begitu tak nyaman, saya membayangkan betapa repot para dokter dan petugas medis yang berjam-jam mengenakan APD lengkap untuk bekerja melayani para pasien.

Sambil berjalan pulang saya melihat petugas kesehatan yang lalu lalang dengan APD. Saya berpikir, kalau banyak orang tidak taat pada protokol kesehatan, sampai kapan para medis ini harus bertahan melayani para pasien. Ya wajar saja jika mereka pun merasa lelah, sakit, dan karena itu banyak dari mereka sudah menjadi korban virus korona.
Sesampai di rumah saya membayangkan kalau paramedis tiba-tiba menjadi masa bodoh, situasi krisis ini menjadi lebih runyam. Paramedis juga manusia seperti kita. Mereka bukan robot. Mari kita dukung mereka. Mereka terpanggil untuk melayani, namun kita lah yang menentukan apakah wabah korona cepat berakhir atau terus menyebar.
Cukup lama saya pikir apakah perlu membagi pengalaman remeh ini. Namun akhirnya saya putuskan menulis dan membaginya, karena saya yakin ada pesan yang bisa disampaikan: Mari kita bantu paramedis, indahkan protokol kesehatan, kita bisa lawan korona.
Terimakasih untuk sharing ini
Awalnya sih lucu ama pater,ketika membaca tulisan ini,namun di akhkir tulisan ini,terdapat pesan moral yg luar biasa..terimakaih ama pater..sukses selalu dalam pelayanannya..????
Luar biasa sdra, tk sheringnya
Terima kasih Pater….
Luar biasa sharenya kak Pater…..saya benar2 salut dan bangga kak Pater y g sl care dg kami para Medis.. smga semua orang bisa taat dg protokol kesehatan kak.. paterr…
Yg menjadi garda terdepan adalah masyarakat…. kami berada garis belakang yg siap to mengatasi masalah yang terjadi…..
Semoga kita semua bijak dan taat thd protokol kesehatan demi saya, anda dan kita semua…..
Slm sehat dan tetap semamgaaat dari kami b3….
Sungguh pengalaman yang menarik Pater,…. Para romo selalu waspada, dan banyak diantaranya yang tidak bisa memenuhi permintaan umat untuk melayani Sakramen perminyakan, kalau romo tersebut mengetahui pasien yang akan dilayaninya positif covid19… Dan untuk pelayanan di Rumah Duka pun, diserahkan kepada Prodiakon….. Walaupun orang yang meninggal bukan karena covid19, tetapi para romo hampir disemua paroki di KAJ, tetap mempertimbangkan keselamatan, karena di RD pasti bertemu dengan banyak orang…. Pengalaman yang saya alami selama masa Pandemi, hampir setiap hari saya melayani orang meninggal di beberapa rumah duka.. Bahkan kadang 2(dua) minggu berturut-turut setiap hari saya melayani di RD… Awal minggu pertama, bulan pertama masa pandemi, saya merasa was was bahkan takut juga, karena mendengar berita di media, korban positip covid19 semakin banyak.. Hampir setiap hari romo paroki selalu mengingatkan saya untuk selalu taat dengan Protokol kesehatan….Dan juga dibekali dengan ayat ayat Kitab Suci yang menjadi senjata untuk melawan covid19. (Mari 91) saya jadikan senjata, dibarengi dengan taat dengan Protokol kesehatan.. YESUS ANDALAN KU====Salam dan doa, semoga Pater sehat selalu==???
Trima kasih Pater… Pengalamannya.. semoga doa Pater menjadi kekuatan bagi para petugas kesehatan ..pasien dan keluarganya…Yesus ..menyertai selalu…