Karunia ketujuh: Roh Kebijaksanaan. Siapa yang layak mengklaim diri sebagai orang bijaksana? Tidak ada manusia yang layak. Namun semua manusia mendambakan kebijaksanaan.
Roh kebijaksanaan tidak berbuah dalam jiwa orang yang tidak mendambakannya. Roh kebijaksanaan itu laksana kekasih hati: Rindu berarti cinta. Keduanya selalu berjalan beriringan. Mendambakan kebijaksanaan berarti mau belajar dari sumber kebijaksanaan itu. “Ketika Anda membanggakan diri sebagai orang bijaksana, Anda sedang melawan kebijaksanaan”. Lawan kebijaksanaan ialah kesombongan (DD IX, 1).
Kebijaksanaan itu ibarat terang yang menghalau kegelapan. Dari Allah terpancar terang sempurna. Perjanjian Lama menampilkan sang hikmat dengan figur wanita bijaksana; dialah cahaya indah yang menerangi akal budi manusia. Ia menyediakan perjamuan, mengundang orang menyantap hidangan yang ia sediakan, dan belajar darinya. Terang kebijaksanaan juga menerangi batin manusia, agar ia mengalami sukacita: sukacita yang sejati, bukan sekedar perasaan senang. Dan kebijaksanaan menggerakkan kita untuk bertindak.
Tidak ada kekuatan yang melebihi hikmat. “Hikmat memberi kepada yang memilikinya lebih banyak kekuatan dari pada sepuluh penguasa dalam kota” (Pkh 7:19) [DD IX: 5-7].
Dalam Perjanjian Baru, kebijaksanaan dikaitkan dengan Firman Tuhan: Mendengar-kan Sabda berarti mau menjadi orang bijak: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Mat 7:24). Kebijaksanaan bagaikan pilar-pilar bangunan rumah yang kokoh. Apa saja pilar rumah kebijaksanaan itu? Surat Yakobus 3: 17:
“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik” (DD IX: 7-8).
Murni: Roh kebijaksanaan mengandaikan kemurnian badani dan batin sebagai ungkapan totalitas penyerahan diri kepada Allah. Pendamai: Amarah dan permusuhan pun tak akan mampu merebut damai yang sesungguhnya. Peramah: Orang bijaksana mampu menata tutur kata dan sikapnya. Camkan: “Tutur kata yang buruk membunuh baik yang berbicara maupun yang mendengar. Anda tidak dapat menyerang sesama dengan tutur kata buruk tanpa membunuh diri sendiri dengan pedang yang sama” [DD IX: 16].
Penurut: Pilar ini dimaknai sebagai perasaan hati yang jernih. Dengan pilar ini orang mengupayakan keharmonisan, tetapi bukan sekedar penurut. Ia mengkritik tetapi juga siap menerima kritik. Kemurahan hati: Sikap murah hati merupakan buah nyata kebijaksanaan. Orang bijaksana mau bersolider dengan sesama.
Tidak memihak: Orang bijaksana tidak memihak dan tidak main hakim sendiri. Ia tidak pilih kasih. Tidak munafik: Orang bijaksana tidak memutarbalikkan kata. Kata-katanya sesuai dengan perbuatan. Ia berpegang pada satu kebenaran, yaitu Kristus. Tanpa Kristus, kebijaksanaan kita tidak menghasilkan buah. “Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol 2:3). Dalam Kristus segala kebijaksanaan mencapai kepenuhan-nya dan termaktub dalam hidup kekal (Yoh 17:3) [DD IX: 16-17].
Karunia-karunia Roh sesungguhnya adalah wujud kasih dan kebaikan Tuhan. Bagi Santo Fransiskus Assisi, Tuhan itu paling baik, asal segala yang baik, kebaikan yang tiada bandingnya. Tanpa kebaikan Tuhan, tak ada sesuatu pun yang baik (Urbap 2). Sebab itu Tuhan dimuliakannya sebagai “segala kebaikan, paling baik, seluruhnya baik, hanya Engkau sendiri yang baik” (PujIb 11).
Tuhan telah mengalirkan karunia rahmat dan keutamaan suci melalui Roh-Nya (SalMar 6). Maka menerima kebaikan Allah berarti memiliki Roh-Nya. Fransiskus menghendaki para pengikutnya agar “memiliki Roh Tuhan melampaui segala-galanya dan membiarkan Dia berkarya di dalam diri mereka” (AgBul X: 8).
Karunia-karunia Roh tidak bertentangan satu sama lain. Tidak ada pula persaingan antara mereka. Allah telah memberikan karunia-Nya kepada masing-masing orang sesuai kemampuannya. Santo Fransiskus mengingatkan:
“Siapa memiliki salah satu dan tidak melanggar yang lainnya, ia memiliki semuanya. Siapa melanggar salah satu, ia tidak memiliki satu pun dan melanggar semuanya” (SalKeut 6-7).
Bagaimana dapat diketahui bahwa seseorang sungguh memiliki Roh Tuhan dalam dirinya? Fransiskus Assisi menganjurkan cara sederhana: Pertama, jika benar-benar memiliki Roh Tuhan, orang tidak memegahkan diri karenanya, melainkan tetap bersikap rendah hati sebagai ‘seorang hamba Allah yang hina dan rendah’ (Pth XII).
Kedua, orang yang sungguh dipengaruhi Roh Tuhan juga tidak cemburu, melainkan ikut bergembira, bahkan dengan rasa gembira yang lebih besar, atas karunia yang diterima orang lain. “Berbahagialah hamba, yang tidak lebih bermegah-megah atas kebaikan yang diucapkan dan dikerjakan Tuhan dengan perantaraannya sendiri, dari pada atas apa yang diucapkan dan yang dikerjakan Tuhan dengan perantaraan orang lain” (Pth XVII).
Karunia-karunia roh berbuah dalam diri setiap orang yang membuka hati dan bertekun mengejar kebajikan-kebajikan. Fransiskus pun memohonkan karunia Roh kepada kaum beriman yang dengan tekun dan setia menjalankan keutamaan kristiani untuk mencari kebijaksanaan:
“Semua orang, laki-laki dan perempuan, apabila mereka melakukan hal-hal itu dan bertekun hingga akhir, maka Roh Tuhan akan tinggal pada mereka dan akan memasang tempat tinggal dan kediaman di dalam mereka” (2SurBerim 48).
Terima kasih pater…..Sudah membagi Tulisan mengenai Roh Kebijaksanaan..Saya senang menunggu Tulisan berikutnya.. (Salamm& Doa untuk ama romo..semoga sehat selalu***
Terima kasih ama.
Trima kasih Pater Andre .. Roh kebijaksanaan .. semoga ulasan ini menghantar kita pada kemurnian berkata dan bertindak…
terimakasih Padre untuk setiap permenungan yang menggugah…..tq