Artikel berikut adalah tulisan kami yang dimuat dalam majalah PRABA no 20, Oktober 2020 (hlm 12-15). Kami menjawab beberapa pertanyaan tertulis yang dikirim oleh redaksi majalah PRABA kepada kami, seputar iman Kristen akan Allah Tritunggal Mahakudus.
Menurut iman Kristiani konsep Allah Tritunggal bisa diterima tetapi seringkali sulit dijelaskan. Bagaimana menurut Romo?
Ajaran-ajaran iman Kristiani memang bukan pertama-tama untuk dijelaskan. Kalau ada orang Kristen berpikir bahwa ia mampu dan harus menjelaskan secara logis misteri Allah Tritunggal, ia sedang menciptakan kesulitan untuk menghayati iman. Allah Tritunggal atau Trinitas adalah sebuah dogma Gereja. Istilah dogma berasal dari bahasa Yunani, dokéō, yang berarti meyakini, mempercayai. Maka yang direfleksikan dalam Teologi Trinitas ialah kesaksian umat Kristiani sejak abad pertama yang sudah percaya akan Allah Trinitas. Kepercayaan itu telah mereka ungkapkan dalam doa liturgis, misalnya dalam ritus Ekaristi dan Baptis yang mereka adakan dalam komunitas, jauh sebelum rumusan dogmatis di abad keempat.
Tentu ada upaya dari para teolog untuk menjelaskan Trinitas; dan aspek pemahaman memang berperan penting dalam rangka beriman. Namun mereka juga sadar betul bahwa penalaran manusia terbatas. Maka pengalaman hidup orang Kristen, khususnya pengelaman akan kasih menjadi sangat penting. Dalam kasih orang mengalami bahwa ada pihak yang mengasihi, ada pihak yang dikasihi, dan kedua pihak tersebut disatukan oleh kasih itu sendiri. Dengan kata lain, praktek kasih berarti memberi (give), menerima (receive) dan berbagi (share). Tiga kata itu merupakan gambaran sederhana tentang iman Gereja akan kasih Allah Trinitas: Kasih Bapa diterima oleh Kristus, dan menjadi utuh dalam persekutuan kasih oleh daya Roh Kudus.
Kitab Perjanjian Baru tidak secara eksplisit menuliskan istilah “Allah Tritunggal”. Apa yang menandai (sejak kapan) dimulainya konsep Tritunggal dan bagaimana hal tersebut berproses?
Istilah ‘Tritunggal’ atau ‘Trinitas’ memang tidak ada dalam Kitab Suci. Namun dalam Kitab Suci kita menemukan akar Dogma Trinitas. Dalam Perjanjian Baru terdapat banyak teks yang jelas menyebut nama Tiga Pribadi Ilahi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus, serta peran mereka yang terkait erat satu sama lain. Misalnya amanat baptis versi Matius, dengan corak triade: “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28: 19). Sebelum teks baptis ini, Matius telah menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak terkasih yang dikandung dari oleh Roh Kudus, bertindak dalam kuasa Roh Kudus (bdk 1: 18-20; 3: 11, 16; 4: 1; 12: 28).
Kesaksian yang bercorak triade juga dinyatakan pada pembaptisan Yesus di sungai Yordan, di mana Putra melihat langit terbuka dan Roh seperti burung merpati ‘turun ke atas-Nya’ (Mrk 1: 10), serentak mendengar suara Bapa yang memanggil-Nya sebagai ‘Anak yang terkasih’ (Mrk. 1: 11). Langit terbuka merupakan simbol pewahyuan diri Allah. Misteri relasi kesatuan antara Bapa dan Putra dalam Roh tampak jelas: yang terjadi dalam pembaptisan ialah manifestasi kesatuan erat antara keduanya dalam ikatan Roh yang satu dan sama.
Teks lain seperti Yoh 19: 30 (Mat 27: 50, Mrk 15: 33, Luk 23: 46), memberi makna mendalam tentang totalitas ketaatan Putra kepada Bapa dalam Roh: “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai’. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya”. Menyerahkan nyawa artinya: menyerahkan seluruh Roh-Nya, yaitu seluruh eksistensi-Nya, seluruh potensi dan kuasa-Nya kepada Bapa. Jika pada peristiwa baptis, Roh turun ke atas Yesus, dan karena itu Ia berkenan bagi Bapa, kini di salib, Roh itu dihembuskan Kristus. Roh yang dihembuskan itu mendapat kualitas yang baru, yaitu Roh kasih yang menyatukan Bapa dan Putra. Roh yang telah menyertai Yesus selama hidup-Nya kini dikurbankan sebagai bentuk ketaatan total, ungkapan kesatuan utuh dengan kehendak Bapa. Roh Kudus yang merupakan wujud kasih Bapa kepada Putra kini dipersembahkan Putra kepada Bapa. Roh merupakan “persembahan yang dipersembahkan kembali secara utuh”. Santo Agustinus Hippo memaknai Roh Kudus sebagai karunia bersama dari Bapa dan Putra. Dalam kesatuan oleh Roh itu, persekutuan kasih Trinitas menjadi sempurna.
Teks-teks di atas menunjukkan bahwa peran Tiga Pribadi Ilahi tidak terpisahkan satu dari yang lain; ketiganya terjalin dalam sebuah irama trinitaris. Rumusan dogmatis baru muncul pada abada keempat, terutama dalam Konsili Nikea I (325) dan Konstantinopel I (381), yang menghasilkan rumusan Kredo Nikea-Konsantinopel atau sering disebut Kredo Panjang.
Sebelum rumusan Kredo Panjang itu, Tertullianus (†230) adalah tokoh yang pertama kali menggunakan istilah ‘trinitas’ sebagai istilah teknis yang digunakan sampai sekarang. Konsili Konstantinopel II pada tahun 553 menggunakan rumusan dogmatis secara eksplisit: “Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah Allah Tritunggal yang sehakikat, memiliki kodrat, kekuatan dan kuasa yang satu; bahwa Ia adalah Keallahan dalam tiga hypostasis atau pribadi”.
Dalam ilmu matematika/berhitung, 1+1+1=3. Namun Trinitas tidak demikian. Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus merupakan satu pribadi/kesatuan. Bagaimana penjelasannya?
Perkenankan saya menganjurkan agar cara katekese dengan penjelasan matematis 1+1+1=3 sebaiknya tidak digunakan lagi, karena dapat menyesatkan. Jumlah 1+1+1 jelas 3. Allah kita itu Allah Yang Esa, satu bukan tiga. Kiranya lebih tepat menggunakan logika pembagian: 1:1:1=1. Logika ini lebih dekat dengan makna teologis pemberian diri Allah. Misteri Trinitas atau seluruh misteri iman Kristen dapat mengerti hanya karena Allah sudah membahasakan diri. Bapa memberikan diri secara total kepada Putra, karena itu Putra mengidentikkan diri dengan Bapa: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10: 30); “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh 12: 45). Kesatuan antara Bapa dan Putra itu merupakan pemberian diri secara total, yang dipersatukan oleh Roh Kudus. Roh Kudus adalah kasih yang mengikat Bapa dan Putra, sehingga terjadi persekutuan kasih ilahi yang sempurna.
Kasih yang sempurna seperti itu tentu hanya terjadi pada Allah saja, tidak pernah akan terwujud dalam ciptaan yang terbatas. Karena itu penting disadari bahwa analogi-analogi dalam katekese tentang Trinitas Ilahi selalu terbatas, maka sebaiknya jangan dilebih-lebihkan. Para Bapa Gereja merefleksikan bahwa semakin mendalam kita merenungkan keesaan Allah, semakin mendalam pula kita menyelami misteri Trinitas. Sebaliknya semakin kita berupaya memahami corak trinitaris, semakin kita mengagumi pula keesaan-Nya.
Gregorius Nazianze († 230), dalam Oratio, merenungkan misteri Trinitas dalam sebuah doa yang indah: “Baru saja aku mulai mengontemplasikan Kesatuan, Trinitas menaungi aku dengan kemegahannya. Baru saja aku mulai mengontemplasikan Trinitas, Kesatuan melingkupi aku. Ketika salah satu dari Trinitas tampak padaku, aku memikirkan semuanya, semakin mataku memandangnya dengan utuh, semakin ia luput dari pandanganku. Pikiranku sungguh terbatas untuk memahami hanya Satu, sehingga tak ada lagi ruang di dalamnya. Ketika aku menggabungkan Ketiganya dalam pikiran, aku melihat hanya nyala api tunggal, dan akupun tak sanggup memahami Cahaya yang Tunggal itu”.
Ada sementara asumsi yang mengatakan bila seseorang menghujat Allah Bapa atau Allah Putra masih terampuni, akan tetapi ketika menghujat Allah Roh Kudus tidak terampuni. Benarkah demikian? Mohon penjelasannya.
Asumsi yang Anda maksudkan kiranya mengacu pada teks Mrk 3: 29 dan Mat 12: 31-32. Konteks dari teks tersebut ialah tuduhan para ahli Taurat bahwa Yesus kerasukan kuasa Beelzebul dan mengusir setan dengan kuasa penghulu setan (Mat 12: 24). Tuduhan itu menunjukkan bahwa para ahli Taurat sungguh-sungguh menolak kuasa Yesus: Mereka telah melihat banyak mukjizat yang dibuat Yesus dengan kuasa ilahi, namun mereka dengan sadar menuduh dan menolak Dia. Dalam perspektif teologi Trinitas, menolak Putra berarti menolak Kasih Bapa dan menolak pula Roh yang diutus Bapa untuk mengajarkan kebenaran.
Siapa gerangan manusia sehingga ia berani menghujat Allah? Menyebut nama Allah pun harus dengan penuh hormat. Oleh karena asumsi yang disebut di atas, sebaiknya tidak dijadikan sebagai pembenaran pemisahan Tiga Pribadi Ilahi, ibarat memisahkan tiga individu manusia; yang satu masih dapat mengampuni, yang lain tidak mengampuni.
Allah Trinitas adalah persekutuan sempurna. Ketika kita menyebut Roh Kudus, kita memaksudkan Roh Bapa maupun Putra. Roh adalah ikatan kasih (caritas) Bapa dan Putra. Dalam De Trinitate, Santo Agustinus menulis: “Roh Kudus merupakan wujud persekutuan tak terperikan antara Bapa dan Putra, dan kiranya disebut demikian karena penamaan itu tepat untuk Bapa maupun Putra. Roh merupakan nama komunal bagi pribadi-pribadi lain, sebab Bapa adalah Roh, dan Putra adalah Roh pula; Bapa itu kudus, dan Putra kudus pula”.
Dalam konteks pemahaman ini, pernyataan Yesus dalam teks-teks yang dikutip di atas mengandung pengertian bahwa menghujat Roh berarti menghujat keagungan kasih Allah, dan itu pada dasarnya berarti menolak Allah sendiri. Ketika manusia dengan sadar memilih untuk menolak kasih Allah, maka ia memang bertegar hati, ia menutup diri bagi kerhaiman Allah. Dalam tataran moral, ketika manusia dengan tahu dan mau menolak bisikan suara hati, yang menurut Konsili Vatikan II adalah suara Tuhan (GS. 16), ia menolak bisikan Roh Kebenaran.
Mengapa Yesus disebut Allah Putera?
Yesus disebut Putera Allah karena Ia adalah ungkapan kasih Bapa. Allah itu misteri dalam arti ketat. Namun Ia telah rela mengungkapkan diri dalam diri dan hidup Yesus Kristus. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, yaitu Yesus Kristus (bdk Kis 4: 12). Yesuslah Pengantara yang Esa antara Allah dan manusia (bdk 1Tim 2: 5); Dialah Anak tunggal yang diutus Bapa untuk menyelamatkan dunia (bdk Yoh. 3 : 16-17). Tidak ada orang yang dapat sampai kepada Bapa tanpa melalui Yesus (bdk Yoh 14: 6). Dalam Dia segala sesuatu diperdamaikan dengan Bapa (1 Kol 1: 15-20); Dialah yang menghapus dosa dunia (bdk Yoh 1: 290; dan dengan demikian Bapa mendamaikan dunia dengan diri-Nya (bdk 2Kor 5: 19). Dalam hidup-Nya Yesus berbicara dan bertindak pada tempat Allah Bapa. Ia mengidentikkan diri dengan Bapa: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10: 30). Sebab itu “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh 12: 45). Kata-kata tersebut menunjukkan kehadiran definitif Allah di dalam Kristus.
Teks-teks biblis tersebut mendasari ajaran Gereja dalam Konsili Nikea-Konstantinopel, yang teraktub dalam Kredo Panjang: “Kami percaya akan satu Allah Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu, yang kelihatan dan tak kelihatan; dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah; Ia lahir dari Bapa yang Esa, sehakikat dengan Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar, dilahirkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan oleh-Nya, baik di surga maupun di bumi”. Kata lahir dalam rumusan Kredo ini menujukkan bahwa Yesus berasal dari kodrat Bapa, bukan ciptaan Bapa. Jadi, tidak pernah ada saat ketika Putra tidak ada dalam Bapa, melainkan dari kekal ada dalam diri Bapa. Karena itu Ia sehakikat dengan Bapa, Ia Allah Putra.
Bagaimana konsep keimanan Tritunggal tersebut bisa diterima dan dipahami oleh agama-agama lain khususnya di Indonesia?
Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan sebuah dialog dan percakapan yang jujur dalam perjumpaan dengan rekan dialog yang berbeda agama. Dialog hendaknya tidak didorong oleh motif mencobai atau menyerang rekan dialog. Ketika kita tahu bahwa yang diajukan kepada kita itu pertanyaan provokatif saja, maka tidak semua pertanyaan perlu dijawab. Dengan kata lain, jika dialog secara teologis itu sulit, kita menempuh jalan lain, yaitu dialog kehidupan, di mana kita memberi kesaksian tentang keutamaan-keutamaan Kristiani.
Dari pihak kita, prinsip mendasar yang perlu dipegang ialah pemahaman dasar tentang Trinitas dan Kristologi. Poin paling esensial yaitu teks Perjanjian Baru, seperti yang dianjurkan di atas, perlu kita miliki. Kita juga perlu percaya diri untuk menjelaskan bahwa Allah kita itu Allah Yang Esa, bukan tiga ilah yang terpisah-pisah. Kalau dikatakan bahwa Allah Bapa Pencipta, Allah Putra Penebus, Allah Roh Kudus Pangkal Karunia, kita perlu menegaskan bahwa ketiganya itu tidak terpisahkan satu sama lain. Allah kita adalah Allah yang relasional.
Keesaan Allah dapat digambarkan dengan pengalaman manusia ketika ia mengasihi sesama secara utuh. Bagi orang Kristiani, ketika seseorang mengasihi orang lain secara tulus, ia bukan mengasihi sesuatu yang dimiliki sesamanya (mobil, rumah, uang), melainkan seluruh dirinya. Dan ketika mereka sungguh saling mengasihi, mereka dipersatukan oleh kasih itu sendiri. Dalam ikatan kasih itu, manusia memiliki pegangan untuk berupaya tidak cemburu, tidak saling marah atau balas dendam, melainkan terus mengasihi dan mengampuni. Kalau kita manusia ciptaan dapat mengerti dan berupaya mengasihi dengan cara demikian, bukankah Allah sendiri yang adalah Mahakasih itu dapat mengasihi dengan cara yang lebih sempurna?
Gambaran konkret tentang kesatuan kasih ialah hidup berkeluarga: suami dan istri disatukan dalam ikatan kasih. Dalam Anjuran Apostolik Amoris Laetitia, Paus Fransiskus memaknai keluarga sebagai ikon Trinitas (AL. 63), artinya keluarga adalah tanda sakramental kasih Allah Trinitas: Bapa mengasihi, Putra dikasihi, dan Roh Kudus adalah pemersatu kasih keduanya. Demikian pula, dalam hidup berkeluarga, satu pria dan satu wanita menjadi kita (we person) karena dipersatukan dalam kasih Allah. Perkawinan Katolik disebut sakramen, sebab ia menandakan sesutu yang bersifat sakral dan suci, yaitu communio kasih Allah Trinitas.
Trima kasih Pater Andre .Mantap ……Iman kadang sulit dijelaskan …dan menjadi nyata saat bersaksi….Kasih Allah dapat dijelaskan karna Iman ..Rohkuduslah menerangi hati dan pikiran kita. Akan Allah ..Trinitas.. ..salam sehat..
Terimakasih Pater, yg saya temukan dalam kitab suci dan renungan dan refleksi saya, Tri Tunggal itu bukan konsep, tapi realitas Iman, disebut dalam Iman Rasuli dan tradisi, jelas Yesus putra Bapa itu riil ada dan Roh Kudus itu juga riil ada, jadi bagi orang Kristen fakta dan kenyataan itu nggak bisa dielakan, dan tentu saja kita percaya Allah Bapa yang mengutus anakNya Yesus Kristus itu riil. Jadi Allah Tunggal itu bukan karangan kita, atau sekedar keyakinan atau kepercayaan, tapi memang sungguh2 riil .