Yohanes Pembaptis, seorang tokoh yang dalam Injil ditampilkan pada masa Adven, masa penantian penuh harapan akan kedatangan (adventus) Tuhan Yesus Kristus, orang Nazaret.
Yohanes identik dengan suara orang yang berseru-seru di Padang Gurun. Suaranya bukan sekedar bunyi. Ia mengemakan seruan nubuat nabi Yesaya tentang kedatangan Sang Penyelamat.
Suara bukan sekedar bunyi, meskipun kadang-kadang ia hanya menjadi bebunyian saja. Suara bisa membingungkan karena menimbulkan keributan, riuh rendah. Suara bisa mengacaukan.
Suara sering dicari, dikumpulkan, lebih banyak lebih baik. Di ruang kotak suara, orang mempertaruhkan suaranya. Katanya suara rakyat itu suara Tuhan, meskipun rakyat sering dibohongi.
Suara bisa memberi arahan. Suara di balik pengeras suara di stasiun dan bandara memberi petunjuk. Suara dalam rumah ibadat memberi arahan sikap, tak sekedar petunjuk atau provokasi.
Banyak suara-suara di sekitar kita. Ramai sekali. Masuk ke telinga kita, terasa ribut. Tak mudah memilih mana suara yang memberi petunjuk, mana yang hanya mengacaukan.
Di antara keramaian itu ada suara dari padang gurun: ‘luruskanlah jalan Tuhan’. Suara ini mengatakan kebenaran. Ia menyoroti kontradiksi-kontradiksi dalam diri manusia.
Tradisi kristiani meyakini bahwa suara hati itu suara kebenaran. Ia lembut, namun mengusik. Suara hati bahkan berbicara tentang kebenaran sejati: “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hiudup”.
Suara Yohanes mengusik kenyamanan penguasa lalim seperti Herodes. Hati raja terombang-ambing karena suara Yohanes. Yohanes tak bungkam. Ia mati karena membela kebenaran.
Coba dengar suara dari padang gurun: gunung kesombongan diratakan, bukit keangkuhan ditimbun, lika-liku cinta diri diluruskan. Kalau suara itu mengusikmu, jangan takut, itu suatu tanda baik.
Terimakasih tulisannya Pater…
Semoga bisa mendengar suara Tuhan dalam hidup…