Suara Yohanes di padang gurun adalah suara kebenaran. Kebenaran adalah lawan dari kepalsuan. Suara itu menggugah kesadaran pendengar. Tergugah adalah awal yang baik bagi perubahan.
Dua kelompok orang datang kepada Yohanes untuk dibaptis, yaitu orang banyak (rakyat biasa) dan pemungut cukai. Mereka mengajukan pertanyaan yang sama: ‘apakah yang harus kami perbuat?’
Jawaban Yohanes gamblang. Kepada orang banyak: bagikanlah pakaian dan makananmu kepada sesama. Kepada pemungut cukai: jangan merampas dan memeras. Puaslah dengan hakmu.
Solider dan adil. Itulah tanda-tanda orang yang memiliki bersukacita. Sukacita batin: bukan sekedar perasaan senang, tak sebatas rasa bahagia, tetapi hati penuh syukur karena bisa bersolider dan adil.
Uang dan harta memang penting. Manusia membutuhkan keduanya. Tetapi orang yang hidup penuh syukur tak mau membiarkan batinnya dibebani rasa sesal karena egoisme dan perampasan.
Orang mungkin merasa puas dan senang karena aksi korupnya tidak diketahui; nyaman karena berhasil memeras sesama secara halus. Tapi dambaan terdalam absen: tak merasakan sukacita batiniah.
Minggu ketiga Adven disebut Minggu gaudete. Gaudete berarti ‘bersukacitalah’. Sebenarnya dalam diri manusia Tuhan tanam benih sukacita. Namun kalau orang terus dihimpit kepalsuan, sukacita tak tumbuh.
Yohanes membaptis dengan air, Mesias membaptis dengan roh dan api. Air melambangkan pengalaman sentimentil, labil, mengalir. Api melambangkan kematangan. Api menempa sesuatu menjadi baru, stabil.
Diperlukan kekuatan roh dan api supaya manusia dibentuk menjadi ciptaan baru. Roh itu simbol hidup baru. Api melambangkan pemurnian. Sukacita dan pemurnian hendaknya berjalan seiring.
Terima kasih Pater
Luar biasa pembahasan ini