Dalam rangka ulang tahun ke-60 Gaudium et Spes, Komisi Teologi Internasional di bawah Dikasteri Doktrin Iman mengeluarkan dokumen Quo Vadis Humanitas? Dokumen ini terbit pada tgl 9 Februari 2026 setelah disetujui Paus Leo XIV.
KTI berangkat dari keberadaan aktual manusia: di persimpangan antara mimpi kemajuan tak terbatas di satu pihak dan risiko terburuknya di pihak lain, yang disebut amnesia budaya.
Siapakah manusia? Pertanyaan pemazmur (Mzm 8) ini menemukan aktualitasnya paling kuat di abad-XXI, ketika kita merasakan ketegangan antara kemajuan spektakular ilmu dan teknologi di satu pihak dan tragedi kemanusiaan yang paling kejam di lain pihak.
Teologi tidak hanya mengobservasi kemajuan. Ia mengajukan pertanyaan interogatif tentang keberadaan manusia di hadapan skenario iptek yang juga bercorak fantasi.
Ambaivalensi kemajuan menjadi titik tolak studi KTI. Teknologi itu mengagumkan: tampak seperti suatu kekuatan ilahi; namun sekaligus ia sangat ringkih. Pandemi Covid-19, tragedi perang di banyak wilayah, dan eksploitasi alam ciptaan, menelanjangi teknologi.
KTI kembali memaknai poin fundamental Gaudium et Spes: manusia makhluk relasional, terbuka kepada realitas lain di luar dirinya. Hidup manusia adalah sebuah hadiah dari Pencipta yang hendak ia hayati dalam kebebasannya.
Melawan mitos transhumanisme dan posthumanisme. Isme yang pertama itu menawarkan desain teknologi untuk menghasilkan manusia super melalui upaya mengatasi keterbatasan biologis seperti penuaan dan kematian.
Sedangkan posthumanisme mempertanyakan kekhususan martabat manusia. Gagasan cyberorg mengaburkan batas tegas antara manusia dan mesin. Manusia seolah-olah telah dilanda pesimisme berlebihan, sehingga ia melarikan diri kepada mesin.
Dua isme itu ditanggapi oleh teologi. KTI kembali menegaskan bahwa manusia hidup dalam sejarah, berjalan dalam tuntunan rahmat Allah menuju kesatuannya dengan Pencipta. “Transhuman” manusia bukan hasil dari teknik peningkatan oleh teknologi.
Revolusi digital berupa Akal Imitasi (AI) juga disoroti. KTI menyadari bahwa AI bukan hanya kemajuan di tangan manusia: ia sudah menjadi ‘lingkungan hidup kita’. Kita perlu menyadari dampak penggunaan AI dalam empat arah relasi:
Pertama dengan alam-ciptaan. Produk plastik, beton, dan bioteknologi berisiko menciptakan ilusi kebebasan tanpa syarat yang terlepas dari hukum alam.
Dengan sesama. Teknologi digital yang memungkinkan koneksi global dapat mengubah makna hubungan mendalam antarmanusia dalam fraternitas universal.
Dengan diri sendiri. Ciri FOMO di tengah kecepatan ‘teknologi intelektual’ berisiko membentuk pemahaman diri individu sebagai sekumpulan data yang harus dioptimlkan.
Dengan Tuhan. Ketika dunia direduksi menjadi materi yang dapat dimanipulasi, nilai alam ciptaan sebagai signum kehadiran Pencipta hilang, dan panggilan untuk transendensi diri dimengerti sebagai kelebihan teknologi.
Dampak urban age. Kultur urban age membuat manusia cenderung melupakan makna sejarah. Ketika sebagaian besar manusia hidup di kota-kota besa, ia menjadi tertutup pada kesempitan ‘bagi diri sekarang’ dan karena itu mudah untuk menjadi objek eksperimen tanpa tujuan yang pasti.
Antropologi panggilan. Terhadap risiko-risiko kemajuan itu, teologi menawarkan paradigma antropologi panggilan. Poin ini menekankan keberadaan manusia bukan sebagai hasil lompatan evolutif, melainkan hasil relasi yang menjadikan dia lebih utuh sebagai persona.
Manusia dijadikan untuk diselamatkan. Kristus menyelamatkan manusia bukan dengan menggantikan dia, tetapi menghormati dan membaruinya, mengangkatnya, membersihkan dan menjadikannya secara baru.
Pencipta tak membuat suatu lompatan yang mengubah manusia sekejap seperti cara kerja mesin. Pencipta menemani dia dalam ziarahnya bersama saudari-saudara lain sebagai anak-anak Allah. Tendensi simplifikasi terhadap dinamika pengalaman manusia oleh transhumanisme dan posthumanisme, bagi teologi, merupakan dishumanisasi.
Antroposentrisme Kontekstual. KTI menawarkan poin antroposentrisme kontekstual atau antroposentrisme terbatas dalam berdialog dengan ilmu pengetahuan.
Manusia itu makrokosmos. Perannya di dunia tidak absolut, melainkan kondisional, karena ia hidup dalam relasi, bahkan ketergantungan, dengan ciptaan lain.
Sejak penciptaan manusia dipercayakan untuk berperan sebagai penata yang bertanggung jawab (amministratore responsabile). Di tengah bentangan konser dunia ini, manusia memainkan peran penting, namun ia bukan penguasa absolut.
Dengan gagasan itu KTI menekanan beberapa gagasan: Pertama kemajuan integral. Kemajuan tidak boleh diukur hanya dari dominasi perkembangan teknik, tetapi mencakup seluruh aspek diri manusia, jadi bukan sebatas ukuran teknosains.
Kedua, panggilan manusia. Sejarah manusia ialah jawaban bebas atas panggilan ilahi. Identitas manusia bukan suatu hasil konstruksi, melainkan identitas yang diterima. Manusia sendiri adalah pelaku yang menjawab panggilannya.
Ketiga, memaknai kondisi dramatis manusia. Identitas manusia adalah suatu proses yang kompleks. Manusia berjalan dalam realitas sejarah, termasuk sejarah penderitaan. Realitas ini tentu tidak dapat dicari solusinya dengan jalan pintas teknologi.
Sebagai kesimpulan KTI merefleksikan pentingnya harapan manusia berdasarkan kebangkitan Kristus, dengan figur Maria. Bunda Maria mengikuti Kristus dengan menerima panggilan Allah. Sikap iman Maria bukan hasil lompatan instant.
Masa depan manusia terletak bukan di laboratorium bioenergi, melainkan pada kemampuan ia memaknai sejarahnya: menerima realitas kini tanpa menutup diri dari Misteri.
Kemanusiaan sejati ialah kesediaan untuk membiarkan diri diilahikan oleh Sang Kasih yang menyertainya agar ia sendiri menjadi pelaku kemanusiaan baru.
Harapan akan pembaruan manusia tertuju lebih-lebih pada mereka yang paling rentan terhadap dampak negatif dari ilusi transhumanisme dan posthumanisme.


