Pemazmur mengagumi kemuliaan Tuhan melalui doanya sambil mengajukan pertanyaan tentang manusia: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah manusia sehingga Engkau mengindahkannya? (Mzm 8: 5).
Pertanyaan itu diikuti dengan seruan perasaan kagumnya yang mendalam akan tindakan Allah kepada manusia ciptaan-Nya: “Namun, Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (8: 6).
Kalau kita coba mengulang seruan doa Pemazmur ini dalam hati sambil menghadapkannya dengan situasi aktual dunia, kita dapat merasakan pesannya yang kuat. Dunia kita sekarang ini ditandai oleh sebuah ketegangan mendalam antara kemajuan spektakular teknologi di satu pihak dan tragedi paling kejam yang menimpah manusia di lain pihak.
Aktualitas Gaudium et Spes (GS)
Perang yang menghancurkan hidup manusia, kerusakan bumi yang mengancam masa depan dunia, dan kecerdasan algoritma yang mengaburkan ketulusan hati manusia, memunculkan pertanyaan tentang manusia, tentang makna sejarah serta tujuan hidupnya.
Dalam rangka ulang tahun ke-60 Gaudium et Spes, Komisi Teologi Internasional (KTI) di Vatikan mengeluarkan dokumen berjudul Quo Vadis Humanitas? Dengan sudut pandang antropologi Kristiani, KTI merefleksikan masa depan manusia dalam terang Paskah.
Refleksi teologi-antropologis GS kini menemukan kembali aktualitasnya. Dalam semangat GS, Gereja Katolik mau berdialog dengan sains yang menghasilkan temuan-temuan baru, untuk melindungi keberadaan dan peran manusia dalam konteks sosial dan budaya.
KTI berangkat dari keprihatinan terhadap manusia. Kita berada di persimpangan antara mimpi kemajuan teknologi yang disertai klaim ‘tak terbatas’ di satu pihak, dan risiko terburuknya di pihak lain, yaitu utopia pencarian keabadian dengan asumsi yang naif dan sombong.
Manusia di Persimpangan
Teologi tidak hanya mengobservasi kemajuan. Ia juga mengajukan pertanyaan interogatif tentang keberadaan manusia di hadapan ambivalensi kemajuan. Teknologi itu tampak bagaikan kekuatan ilahi; namun sekaligus ringkih. Perang dengan kecanggihan senjata mengindikasikan bahwa hasil pemikiran manusia dapat digunakan untuk membinasakan dirinya.
Ambivalensi teknologi adalah cerminan ambivalensi manusia. Hal ini menegaskan seruan Paus Leo bahwa di era kontemporer ini kita berhadapan dengan bentuk revolusi industri yang baru, yaitu teknologi AI, yang sekaligus menantang kita untuk menjaga martabat manusia.
Pertanyaan Quo vadis humanitas merupakan ajakan untuk kembali ke martabat luhur manusia: ia makhluk relasional, yang terbuka kepada realitas lain di luar dirinya. Iman Kristiani percaya bahwa manusia tidak hanya diciptakan; lebih lagi, ia diselamatkan, disempurnakan.
Perlu disadari bahwa martabat kita sebagai manusia merupakan sebuah anugerah untuk ditanggapi, bukan sesuatu yang dicapai oleh dan dari kita sendiri. Anugerah itu diberikan kepada pribadi dan dijalani dalam sebuah kita komunitas manusia.
Transhumanisme dan Posthumanisme
Secara khusus KTI menanggapi isu–yang disebutnya mitos baru–transhumanisme dan posthumanisme. Isme pertama menawarkan skenario teknologi untuk menghasilkan manusia super melalui upaya mengatasi keterbatasan biologis seperti penuaan dan kematian.
Sedangkan isme kedua menawarkan evolusi digital kondisi manusia. Gagasan manusia cyborg mengaburkan batas tegas antara manusia dan mesin. Manusia modern dilanda pesimisme dari dalam dirinya, sehingga ia mencari perlindungan di balik logika mesin.
Terhadap dua isu tersebut, teologi menegaskan bahwa manusia hidup dalam realitas sejarah; berjalan dalam tuntunan rahmat Allah menuju kesatuannya dengan Pencipta. Keluhuran diri manusia bukan hasil dari teknik maksimalisasi dari fungsi elemen digital.
Sejalan dengan visi Paus Leo, KTI juga menyoroti revolusi digital AI. Patut disadari bahwa AI bukan hanya kemajuan di tangan manusia: ia sudah menjadi ‘lingkungan hidup kita’. Meski demikian kita perlu menyadari dampak penggunaannya dalam empat arah relasi:
Pertama dengan alam-ciptaan. Produk bioteknologi hendaknya tidak menjerumuskan kita ke dalam ilusi kebebasan tanpa batas yang terlepas dari hukum alam. Kedua, dengan sesama. Teknologi digital yang memungkinkan koneksi global handaknya tidak mengaburkan makna hubungan mendalam antarmanusia dalam persaudaraan universal.
Ketiga, dengan diri sendiri. Perlu disadari bahwa ciri FOMO (fear of missing out) di tengah kecepatan ‘teknologi intelektual’ dapat mengerdilkan individu menjadi sekumpulan data yang harus dioptimlkan. Optimisme teknologi ini mengaburkan makna harapan Kristiani.
Akirnya dengan Tuhan. Ketika dunia direduksi menjadi materi yang dapat dimanipulasi atau dimodifikasi, nilai alam ciptaan sebagai signum Sang Pencipta hilang, dan panggilan untuk transendensi diri disempitkan menjadi kekuatan lebih yang dihasilkan oleh teknologi.
Dalam konteks ini KTI mengingatkan tentang dampak kultur urban age. Ketika sebagian besar manusia hidup di kota-kota besar, ia menjadi tertutup pada kesempitan ‘ada bagi diri sekarang’ dan karena itu mudah untuk menjadi objek eksperimen tanpa tujuan yang pasti.
Panggilan Manusia
Terhadap risiko-risiko negatif kemajuan itu, teologi menawarkan refleksi dalam paradigma antropologi panggilan. Poin ini menekankan bahwa sejarah manusia adalah proses: bukan hasil lompatan evolutif, melainkan buah dari relasi dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri.
Bagi iman Katolik, manusia dijadikan untuk diselamatkan. Kristus menyelamatkan manusia bukan dengan menggantinya, melainkan dengan menghormati kebebasannya, mengangkatnya, serta membersihkannya, agar ia menjadi diri yang lebih utuh.
Pencipta tak membuat suatu lompatan yang mengubah manusia secara sekejap seperti cara kerja mesin. Pencipta menemani dia dalam ziarahnya bersama saudari-saudara lain sebagai anak-anak Allah. Simplifikasi pengalaman historis manusia oleh filosofi transhumanisme dan posthumanisme, bagi teologi, merupakan bentuk dishumanisasi.
Antroposentrisme Kontekstual Manusia
KTI menawarkan poin antroposentrisme kontekstual atau antroposentrisme terbatas dalam berdialog dengan ilmu pengetahuan. Manusia itu makrokosmos. Perannya di dunia tidak absolut, melainkan kondisional, karena ia hidup dalam relasi dengan ciptaan lain.
Sejak penciptaan manusia dipercayakan untuk berperan sebagai penata dan perawat yang bertanggung jawab, bukan pemilik dan penguasa ciptaan. Di tengah bentangan konser dunia ini, manusia memainkan peran penting, namun ia bukan penguasa absolut.
Berdasarkan paham antropologis itu, KTI menekankan beberapa poin: Pertama kemajuan integral. Kemajuan tidak boleh diukur hanya dari dominasi perkembangan teknik, tetapi mencakup seluruh aspek diri manusia, jadi bukan sebatas ukuran teknosains.
Kedua, panggilan manusia. Sejarah manusia dimaknai sebagai jawaban bebas atas panggilan ilahi. Martabat manusia bukan suatu hasil konstruksi, melainkan identitas yang dianugerahi. Manusia sendiri adalah pelaku yang menjawab panggilannya.
Ketiga, memaknai kondisi dramatis manusia. Identitas manusia adalah suatu proses yang kompleks. Manusia berjalan dalam realitas sejarah, termasuk sejarah penderitaan dan dukacita. Realitas ini tentu tidak dapat diatasi dengan solusi teknis tawaran teknologi.
Paskah Kristus Terang Pengharapan
Berhadapan dengan fakta keterbatasan dirinya, ada beberapa kemungkinan sikap manusia: ia mengabsolutkan yang terbatas; lari dari yang terbatas kepada yang tidak terbatas namun fiktif; bersepakat dengan yang terbatas; atau berani menghidupi ketegangan antara yang terbatas dan tidak terbatas dalam harapan teguh akan sebuah anugerah pembaruan final.
Sebagai penegasan teologis, KTI merefleksikan pentingnya harapan manusia berdasarkan Paskah Kristus. Dalam konteks ini Bunda Maria menjadi model iman, karena ia mengikuti Kristus dengan memaknai perkara hidupnya. Kesetiaan Maria bukan hasil solusi instant.
Masa depan manusia terletak bukan di laboratorium bioenergi, melainkan pada cara dia memaknai sejarahnya: menerima realitas kini tanpa menutup diri dari Sang Misteri. Harapan dan kegembiraan sejati manusia justru bertumbuh dalam kesediaannya untuk membiarkan diri dilayakkan agar dapat mengambil bagian dalam Persekutuan Kasih Ilahi.
Harapan pembaruan manusia tertuju lebih-lebih pada mereka yang paling rentan terhadap dampak negatif ilusi transhumanisme dan posthumanisme. Dari dukacita karena kefanaannya, manusia menemukan sukacitanya hanya dalam Kristus yang bangkit mengalahkan maut.


