Bersama beberapa saudara OFM, kami hadir di keuskupan Bogor, ketika bapa Uskup Paskalis Bruno Syukur OFM menyatakan pengunduran dirinya. Sekitar dua jam sebelumnya, kami telah berada bersama beliau, ngobrol santai. Ia tak menyendiri. Ia berbagi kisah.
Hatiku senang melihat ekspresi wajah uskup Paskalis di sore hari itu, 19 Januari 2026. Hari ini pasti ia ingat dalam hidupnya, boleh dikatakan hari ketika ia berada di titik paling rendah dalam riwayat pelayanannya. Namun wajahnya tampak tenang. Ia tidak murung. Ia tertawa.
Tahun 1999-2000 saya mulai mengenal dekat beliau. Waktu itu saya seorang novis OFM dan Pater Paskalis adalah pembimbing – disebut Magister. Senyum ramahnya yang saya kenal 26 tahun lalu, masih mekar di wajahnya. Ia memang dikenal ramah dan murah senyum.
Tahun 2013, ketika bertugas di Kuria General OFM di Roma, ia diangkat sebagai uskup. Salah satu tugasnya waktu itu ialah mengunjungi kami student Asia. Tahun 2022 saya meminta beliau menulis kalimat endorsement untuk buku Allah Trinitas. Ini kenangan manis untuk saya.
Memoriku tentang masa Novisiat muncul ketika Paskalis keluar dari kamarnya dengan jubah coklat sesaat sebelum pengumuman. Saya tak menduga bahwa ia akan mengenakan kembali jubah itu. Hati saya tersentuh. Sebelas tahun sebagai uskup, jubah Fransiskan tetap ia cintai.
Pengumuman didahului Ibadat Sore. Yang paling ditunggu ialah sambuatan perpisahan bapa Uskup. Ia membacakan pernyataan tertulis. Ini pilihan bagus. Tertib bicara dengan poin yang terpilah. Mgr. Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Administrator memberi sambutan lisan.
Sambutan perpisahan Uskup Paskalis terasa teduh, bukan sekedar pernyataan, tetapi refleksi atas pengalaman yang ia sebut sebagai ‘pengalaman mistik’. Setiap poin diperkuat dengan kutipan Kitab Suci. Kasih, ketaatan dan pengampunan menjadi simpul-simpul utama.
Spritualitas Fransiskan mewarnai refleksinya. Teladan kerendahan hati Fransiksus Assisi menjiwai kata-katanya. Saudara Paskalis berdamai dengan dirinya, dengan sesama, dengan Gereja, meskipun tidak semua peristiwa dapat ia mengerti. Api peacemaker mengobarkan hatinya.
Kudengarkan baik-baik ketika bapa Uskup mengklarifikasi isu-isu yang dilemparkan kepadanya. Hati saya berdebar. Dan akhirnya saya lega: Di hadapan para pastor yang hadir, dengan rekaman digital yang siap beredar luas di media sosial, bapa Uskup berbicara lugas, tidak gagap.
Selesai pernyataan pengunduran diri, bapa Uskup berjalan tenang menuju pintu keluar. Tidak ada protokol formal, terkesan hening. Beberapa romo menyalami dia. Ia menyapa ramah mereka yang menyalami dia. Di jalan sunyi ini Uskup Paskalis tetap tersenyum.



Terimakasih Bapak Uskup, susah mengembalakan umat Katholik keuskupan Bogor.
Semoga bapak uskup sehat selalu