Karunia keenam: Roh pengertian. Kata kuncinya ialah ‘mendengar-kan’ (to pay attention, bukan sekedar to listen). Mendengar-kan merupakan pintu masuk untuk mengerti sesuatu dengan baik. Semakin besar keinginan untuk mengetahui dan mengerti sesuatu, hendaknya semakin luas pula kesediaan mendengarkan.
Menarik bahwa Injil menekankan kaitan erat antara mendengar-kan dan sikap rendah hati. Bersikap rendah hati berarti mengakui keterbatasan diri, dan mau belajar lagi. Rahasia pengertian tersembunyi bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi dinyatakan Tuhan kepada orang yang rendah hati (bdk Mat 11: 25) [DD VIII, 1].
Bonaventura menganjurkan latihan-latihan untuk menumbuhkan daya roh pengertian: Pertama, mengolah peran indera-indera (senses). Kita sangat membutuhkan kemampuan inderawi untuk mengamati dan memahami realitas, meskipun itu belum cukup. Kita perlu mengolahnya dengan akal sehat agar pengertian kita menjadi jernih. Percaya melulu pada apa yang kelihatan atau menilai seseorang hanya dari penampilan, merupakan cerminan dari pemahaman yang dangkal. Pancaindera perlu diolah agar turut membentuk kepekaan batiniah (sensus cordis), dan bukannya menghalanginya [DD VIII, 3].
Kedua, menjaga ketenangan pikiran. Melalui pikiran yang tenang, daya pengertian dapat berfungsi dengan baik. Ketika orang marah, pikirannya keruh; ia tidak dapat memahami sesuatu dengan jernih. Aristoteles berkata: ‘bersikaplah tenang, maka jiwa akan menjadi bijak’. Daya roh pengertian itu ibarat air: Air jernih bagaikan cermin yang memantulkan wajah kita. Sebaliknya air keruh dan kotor tidak memantulkan objek dengan terang.
Ketiga, kita perlu ‘menawan’ pikiran kita. Kemampuan pikiran itu sangat dahsyat: menjangkau banyak hal. Manusia dapat memikirkan banyak hal secara serentak, serta jauh melampaui batas ruang dan waktu. Kerja sel-sel otak manusia mampu menampung jutaan informasi. Maka, pikiran perlu didisiplinkan (DD VIII, 4-5).
Apa tujuan melatih roh pengertian? Agar kita mampu membuat pembedaan nilai. Kemampuan mengerti membedakan manusia dari hewan. Dengan pengertian yang memadai, kita dapat membuat sebuah keputusan secara jernih, tidak mengikuti naluri atau insting. Dengan bantuan roh pengertian kita juga dapat bersikap bijak: menolak segala yang jahat, mencintai segala yang baik, dan terarah pada Kebaikan Tertinggi.
Usaha manusia untuk menolak kejahatan dikaitkan dengan roh takut akan Allah, yaitu menempatkan Dia sebagai pusat orientasi hidup, dan tidak mudah dipengaruhui pengertian yang dangkal. Dari pengertian yang baik, akan lahir tindakan yang baik pula. Akhirnya, dari pengertian yang jernih dan tindakan baik, kita boleh berharap semakin terarah kepada Kebaikan Tertinggi, tujuan akhir roh pengertian (DD VIII, 7-10).
Tiga sikap yang dipaparkan di atas – menolak yang jahat, mencintai yang baik, dan terarah pada Kebaikan Tertinggi – dapat juga dimaknai menurut kronologi sikap dan tindakan kita, yaitu ingatan akan masa lampau (memoria), pengertian akan hal-hal aktual (praesentia), serta niat untuk mengambil langkah baru di masa depan (futura). Dengan roh pengertian, kita mengevaluasi sikap di masa lampau, meneliti situasi aktual-nyata, dan akhirnya mengambil langkah konkret membarui hidup (DD VIII, 11).
Buah roh pengertian dimungkinkan oleh tiga tingkat kemampuan manusia, yaitu kemampuan kodrati, pengalaman, serta terang ilahi bagi akal budinya. Kemampuan kodrati manusia bersumber pada potensi dalam dirinya sebagai makhluk yang mampu mendengar, berefleksi dan berekspresi. Dengan potensi-potensi kodrati itu ia dapat belajar lebih baik dan menyerap ilmu pengetahuan (DD VIII, 12-13).
Buah roh pengertian juga diperoleh dari pengalaman. Dari pengalaman (yang adalah guru terbaik), kita dapat menemukan prinsip-prinsip universal yang menopang daya pengertian. Dasar terjauh dari kemampuan kodrati dan eksperiensial itu terletak pada faktor ketiga yang dimilikinya, yaitu terang ilahi. Pada manusia, citra Allah, Allah telah meletakkan benih pengetahuan. Allah adalah Terang, dan dengan Terang itu Ia telah menjadikan manusia makhluk berakal budi. Allah adalah sumber awal pengetahuan manusia, Dialah sumber pengertian kita, prinsip dari tata kehidupan (DD VIII, 14-15).
Manusia dikaruniai roh pengertian. Namun Allah tidak memperlakukan manusia seperti malaikat. Inteligensi malaikat niscaya terarah kepada Allah, sedangkan manusia diberi kebebasan. Dengan bantuan roh pengertian manusia berpikir dan bertindak. Artinya manusia tidak seratus persen bebas dari terang ilahi.
Dengan menganugerahkan roh pengertian, Allah menghendaki agar manusia bertumbuh sebagai pribadi yang bebas. Buah utama dari roh pengertian ialah kebebasan untuk mengasihi Allah. Sikap rendah hati memungkinkan kita membiarkan daya pengertian kita dipengaruhi logika Allah, bukan logika dunia (DD VIII, 20).
Terima kasih pater,,,,,,Ulasan yang sangat menarik dan sangat berguna bagi kami Pewarta ****Bahan katekese yang sangat bagus.. (Salam & Doa untuk ama romo….semoga sehat selalu )
Terima kasih bnyk ama. Tuhan memberkati selalu.
Trima kasih Pater …Refleksi dan inspirasi tentang Roh Pengertian memampukan kita ..untuk Mengerti kehendakNya ….
Logika Allah bukan Logika Dunia… Gracias Padre