Manusia dijadikan Sang Pencipta sebagai makhluk yang mampu memaknai keberadaannya di dunia. Semakin dalam manusia menyelami dirinya, semakin jelas ia menemukan kemampuan dan keterbatasan dirinya. Artikel ini hendak menjawab pertanyaan mengapa manusia jatuh dalam dosa dan bagaimana ia dapat membarui diri berkat kasih Allah?
Di satu pihak diyakini bahwa manusia adalah citra Allah. Ia dijadikan sesuai gambaran dan rupa Allah. Sebagai citra Allah, ia dikaruniai kemampuan untuk mengindera dunia di sekitarnya (panca indera), akal budi untuk berpikir secara jernih dan logis, serta kehendak bebas yang identik dengan kemampuan mencintai Allah dan sesama. Berdasarkan kemampuan-kemampuan tersebut, Santo Agustinus Hippo memaknai martabat manusia sebagai citra Allah. Ia meyakini bahwa dalam diri manusia, Allah sendiri telah menampakkan wajah-Nya.
Di lain pihak disadari bahwa manusia tidak selalu menyadari kehadiran Tuhan sebagai Terang dalam hidupnya. Memori, inteligensi dan kehendak bebasnya sering terperangkap dalam hal-hal fana, sehingga ia tidak terarah kepada sang Terang. Secara tajam St. Bonaventura mengibaratkan dosa dengan sikap orang yang ‘membelakangi’ (incurvatus) Terang, sehingga ia terkurung dalam kegelapan. Dalam kegelapan dosa, wajah manusia tidak lagi memancarkan rupa citra Allah. Begini Bonaventura melukiskan kejatuhan manusia:
“Karena manusia telah menjauhkan diri dari sumber Terang dan berpaling kepada harta fana, dan oleh karena kesalahannya sendiri ia telah memperlihatkan punggungnya; sejak dosa asal yang diwariskan kepada semua umat manusia, martabat manusia telah dinodai kebodohan dan keinginan daging; manusia sesungghnya telah menjadi buta dan membungkuk sampai ke tanah, tertelungkup dalam gelap. Ia tidak dapat menatap terang surgawi, kecuali jika rahmat dan keadilan memerangi kedagingannya, dan pengetahuan serta kebijaksanaan menghalau kebodohannya” (Itin., I, 7).
Dalam konteks ini, tema penebusan memiliki makna yang dalam: agar dapat kembali kepada Penciptanya, manusia hendaknya melewati pintu keselamatan, yaitu Yesus Kristus. Sebagai pendosa manusia membutuhkan rahmat pembaruan dari Allah Maharahim. Kembalinya jiwa manusia kepada Tuhan ditopang oleh tiga keutamaan: berkat pembaruan oleh iman, harapan dan kasih akan Kristus, jiwa manusia dibersihkan, diterangi dan disempurnakan oleh rahmat ilahi.
Kristuslah yang memungkinkan pembaruan bagi manusia. Ia adalah pintu, jalan dan pemimpin yang mengantar jiwa kembali kepada Bapa. Ia satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia (1Tim 2:5). Hanya melalui Dia jiwa manusia bersatu kembali dengan sang Kebaikan Tertinggi. Peristiwa salib memperlihatkan bahwa kasih Allah adalah kasih penuh kerendahan hati. Pada salib nyatalah totalitas kasih-Nya: Putera Allah diserahkan ke dalam tangan manusia. Allah, Sang Ada sempurna, sang Kebaikan Tertinggi telah menjelma menjadi manusia hina; Ia memilih ‘jalan turun’, menanggalkan keilahian-Nya dan menjadi salah seorang di antara kita.
Pembaruan jiwa manusia merupakan “buah dari kasih Kristus yang berkobar-kobar, yaitu kasih yang dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Rom. 5:5). Dengan pembaruan itu, sebagaimana dikatakannya dalam Soleloquium,
“mata akan memandang keindahan yang paling cemerlang, lidah akan mengecap rasa yang paling manis, hidung akan mencium aroma yang paling harum, kulit akan merasakan pelukan yang paling hangat, dan telinga mendengarkan suara yang paling merdu” (Solil., IV, 20).
Kepada setiap orang yang memandang salib dengan penuh kerinduan, Yesus yang tersalib itu menjanjikan hidup baru penuh suka cita dan harapan: “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23: 43).
Kata-kata Yesus tersebut menunjukkan bahwa logika salib adalah logika kehidupan: Sang Cinta rela menjadi manusia, merentangkan tangan-Nya di kayu salib untuk merangkul manusia. Dalam kematian Tuhan, manusia menemukan kunci kehidupan. Salib Kristus yang tampak sebagai wajah penderitaan justru memancarkan cahaya kehidupan. Misteri salib mengungkapkan bahwa Allah mencintai kita bukan atas jasa ataupun dosa kita manusia, melainkan karena Allah pada diri-Nya adalah Kasih.
Dalam Hexaёmeron, Bonaventura merenungkan bahwa salib Kristus memancarkan totalitas kasih Allah, yaitu kasih penuh kerendahan hati: “Begitu besar kasih itu sehingga akal budi pun terdiam” (Hexaёm., VIII, 5). Akhirnya dalam karya mistiknya, Soliloquium, ia merenungkan misteri salib dengan indah:
“Dari salib Kristus menantikanmu, kepala-Nya tertunduk hendak menciummu, lengan-lengan-Nya terentang hendak memelukmu, tangan-tangan-Nya terbuka menyambutmu, tubuh-Nya terkulai pasrah seutuhnya, kaki-kaki-Nya terpaku menantimu dalam diam, bahu-bahu-Nya terbuka menyambut kedatanganmu” (Solil. I, 33-34).
Terimakasih pater. Atas renungan yang bagus ini. Saya tertarik dengan logika salib adalah kehidupan. Maka salib bukan yang menakutkan tetapi kehidupan.
Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum!
Terimakasih tulisannya Pater….
Sama2 ya… ?
Manusia melewati pintu keselamatan yaitu Yesus Kristus___Setiap orang yang memandang salib dengan penuh kerinduan Yesus yang tersalib menjanjikan hidup baru penuh sukacita dan harapan.***Terima kasih pater sudah membagikan tulisan (Salam & Doa…semoga ama romo sehat selalu..)
Terimakasih banyak ama pater atas artikelnya..??????
Sama2 ama.. Tuhan memberkati selalu.
“Begitu besar kasih itu sehingga akal budi pun terdiam”. Gracias padre…