Makna salib Kristus yang direnungkan secara khusus pada Jumat Agung tidak terlepas dari kesadaran diri Yesus (self-consciousness) akan relasi khusus dan ketaatan-Nya yang utuh pada Allah Bapa (Abba). Ketaatan Yesus itu tidak terlepas dari peran Roh Kudus, yang tidak lain adalah belas kasih Bapa. Pada akhir misi-Nya di dunia, menjelang wafat di salib Yesus tidak mempertahankan Roh itu sebagai milik-Nya, tetapi menyerahkan kembali kepada Bapa.
Aku dan Bapa adalah Satu
Ketika Yesus menyebut diri dengan kata ganti orang pertama ‘Aku’, sesungguhnya Ia tidak sedang berkata-kata tentang diri-Nya sendiri, melainkan tentang relasi dengan Bapa-Nya. Yesus dengan sadar mengidentikkan diri dengan Bapa: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10: 30). Sebab itu “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh 12: 45). Kata-kata tersebut menunjukkan kehadiran definitif Allah di dalam Kristus. Dalam diri Yesus terungkap kepenuhan diri ilahi (bdk. Kol 2:9) [Ladaria, La Trinità mistero di Comunione, 54-55].
Pada tahun 1985 Komisi Teologi Internasional (KTI) di Vatikan menerbitkan sebuah artikel bertajuk “Kesadaran Yesus tentang diri dan misi-Nya”. Berdasarkan studi-studi teologi modern, KTI memberi perhatian pada pertanyaan tentang pengetahuan dan kesadaran Yesus. Ketaan Yesus bukan sebuah otomatisme arau rekayasa ilahi, melainkan piliah aktif. Bagi Komisi, wujud kesadaran diri Yesus yang paling khusus tampak dalam klaim kesatuan diri-Nya dengan Allah Bapa, yaitu sebuah persekutuan tak terperikan antara keduanya: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10: 30); “Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (10: 38).
Pengenalan Putra akan Bapa mendorong sikap taat yang dijalani Putra dengan kesadaran dan kehendak bebas. “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 6: 38). Dengan kata lain, pribadi Yesus identik dengan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4: 34). Konsekuensi dari ketaatan total itu ialah pilihan tindakan aktif Yesus menyelesaikan Misi Bapa. “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya” (Yoh 17: 4) [P.Coda, Dalla Trinità, 241].
Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi
Dalam pembaptisan Yesus digambarkan bahwa langit terbuka dan Roh seperti burung merpati ‘turun ke atas-Nya’ (Mrk 1: 10), serentak Ia mendengar suara Bapa yang memanggil-Nya ‘Anak yang terkasih’ (1: 11). Peristiwa baptis ini menggemakan nubuat Nabi Yesaya tentang hamba Yahweh: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa” (Yes 42:1) [Bordoni, La Cristologia nell’orizzonte dello Spirito, 47].
Kesaksian Injil Markus (bdk. Mat. 3: 13-17; Luk. 3: 21-22) tentang baptis Yesus menegaskan bahwa relasi istimewa antara Anak dan Bapa diteguhkan dengan turunya Roh Kudus. Roh Kudus selalu hadir dalam Yesus: Roh “turun ke atas Dia” (Luk 3: 22), “tinggal di atas-Nya” (Yoh 1: 32); “turun dan tinggal di atas-Nya” (1: 33). Berkat penyertaan Roh, relasi antara Bapa dan Putra terpenuhi. Roh Kudus berperan sebagai pengikat relasi Bapa dan Putra [Ibid. 48].
Roh ‘turun ke atas-Nya’, artinya Roh menyatukan kehendak Anak dan Bapa, sehingga seluruh misi Yesus menjadi wujud ketaatan yang total pada Bapa. Misi Yesus di dunia merupakan cara berada-Nya sebagai ‘Anak yang dikasihi Bapa’. Diri Yesus identik dengan misi-Nya: Dia adalah misi Allah. Yang terjadi dalam pembaptisan bukan sekedar penyerahan tugas dari Bapa kepada Putra, melainkan manifestasi kesatuan erat antara keduanya dalam ikatan satu Roh. Menarik untuk dicatat bahwa momen ketika Roh Kudus turun ke atas Yesus, oleh penginjil Lukas dirumuskan sebagai perkenanan Bapa: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3: 22) [Salvadori, L’autocoscienza di Gesù, 206, 217].
Taat pada Kehendak Abba
Yesus hidup dalam kesadaran sebagai Putra akan Allah yang Ia sebut Abba. Dalam Injil Sinoptik, sebutan itu ditemukan dalam Injil tertua, Markus, yaitu dalam doa Yesus di Getzemani (Mrk. 14: 36), dan ketika Ia berseruh dengan suara nyaring di atas salib (15: 35). Inti kesadaran Yesus adalah peran sebagai Anak yang mempunyai relasi unik dengan Bapa melampaui kesadaran tokoh manapun dalam tradisi biblis. Yesus adalah ‘Anak Allah’ (Mrk. 3: 11); ‘Anak yang kekasih’ (12: 6); dan ‘Anak tunggal’ (Yoh. 1: 14). Dalam konteks tradisi Judaisme, di mana penyebutan nama Allah pun dilarang, kesadaran dan keberanian Yesus ini memberi makna baru.
Abba merupakan ungkapan bahasa Aram, bentuk penamaan untuk mengekspresikan kedekatan dan rasa hormat yang mendalam. Yesus menggunakan sapaan itu untuk mengekspresikan pengalaman-Nya akan kasih-sayang (loving mercy) Bapa dalam hidup dan karya-Nya.
Dalam maknanya yang paling asli, kata tersebut ditemukan dalam Mrk 14: 36: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki”. Dalam rasa takut akan maut, serta godaan untuk menghindari beban salib, ketaatan Yesus kepada Bapa terungkap lebih jelas.
Menyerahkan Roh-Nya kepada Bapa
Kasih Yesus kepada Bapa terungkap secara paling radikal dalam peristiwa Salib. Teks Yoh 19: 30 (Mat 27: 50, Mrk 15: 33, Luk 23: 46) memberi makna mendalam tentang totalitas ketaatan Putra kepada Bapa dalam Roh: “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai’. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya”. Menyerahkan nyawa (paredoken to pneuma) artinya: menyerahkan seluruh Roh-Nya, yaitu seluruh eksistensi-Nya, seluruh potensi dan kuasa-Nya kepada Bapa. Jika pada peristiwa baptis, Roh turun ke atas Yesus, dan karena itu Ia berkenan bagi Bapa, kini di salib, Roh itu dihembuskan Kristus (Bordoni, La Cristologia nell’orizzonte dello Spirito, 248-249).
Yesus sudah selesai menjalani tugas-Nya. Ia dapat saja mengklaim keberhasilan itu sebagai milik-Nya. Sekarang saatnya untuk menunjukkan kuasa-Nya dan mempermalukan musuh-musuh-Nya, bahkan membebaskan diri dari kehendak Bapa. Namun itu bukan pilihan Yesus. Roh kasih Bapa yang telah menyertai Dia selama hidup-Nya kini dikurbankan sebagai bentuk ketaatan total, ungkapan kesatuan kasih seutuhnya dengan kehendak Bapa. Roh Kudus yang merupakan wujud kasih Bapa kepada Putra sejak awal mula kini dipersembahkan Putra kepada Bapa. Roh merupakan “persembahan yang dipersembahkan kembali secara utuh”.
Dalam Kasih tidak ada Maut
Dalam kuasa Roh, relasi kasih antara Bapa dan Putra bersifat inklusif: Dinamikanya bukan lagi ‘atau Bapa atau Putra’ melainkan ‘Bapa dan Putra’. Dalam Roh, relasi kasih antara Bapa dan Putra bersifat komunal: yang satu berada bersama atau di dalam yang lain.
Dalam kuasa Roh, yang adalah kasih itu, komunikasi antara Bapa dan Putra merupakan komunikasi sempurna: Mereka satu Roh, satu kehendak, satu kasih. Dalam kasih tidak ada tempat bagi maut!.
Inspiratif & membuka wawasan baru, salib menjadi tanda dialog kasih Bapa dengan Yesus.
Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum!
Terima ksh sdh boleh membaca2 postingan di blog Pater, smg semakin meneguhkan iman. Slm hormat sll u Pater…smg selalu sehat n berbahagia
Selamat Hari Raya Pentakosta. Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini.
Tuhan memberkati selalu