Sosok Bunda Maria memang berdaya pikat. Orang tidak hanya ingin mengenal dia lewat studi teologi (mariologi). Teladan keutamaannya dihormati dalam berbagai bentuk devosi, dari yang bersifat personal sampai yang heboh dan mendunia, bukan hanya oleh umat Katolik, tetapi juga kalangan umum.
Banyak orang mengaguminya: dari rakyat jelata di kampung terpencil sampai seorang Paus di Roma sana. Seakan-akan Maria dapat disandingkan dengan Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan dari Allah Bapa. Sebuah ungkapan mengatakan: Maria tidak pernah cukup diperbincangkan, diperdebatkan, dimuliakan.
Kitab Wahyu menggambarkan demikian: Seorang wanita berselubungkan matahari, dengan bulan di bahwa kakinya, bermahkota dua belas bintang. Simbol bahwa wanita itu istimewa: Ia dilindungi; ada tanda-tanda ajaib yang terjadi dalam dirinya.
Penglihatan itu dipertentangkan dengan simbol lain: Naga besar, warna merah, berkepala tujuh, bertanduk sepuluh. Naga tersebut menyapu dan mencampakkan bintang ke atas bumi, dan bersiap-siap menelan anak yang dilahirkan wanita tersebut. Dalam kisah-kisah klasik, biasanya naga menyimbolkan kuasa jahat.
Tokoh wanita yang hebat juga tampil dalam Injil. Perjumpaan Maria dan Elisabet, dua perempuan yang sedang mengandung, bukan perjumpaan biasa. Elisabet dipenuhi sukacita ketika mendengar salam Maria.
Elisabet pun menyambut Maria sebagai Ibu Tuhan, sebagai perempuan yang berbahagia karena percaya akan kepenuhan Sabda Tuhan dalam dirinya. Mereka saling memberi salam: Elisabet memuji buah rahim Maria, dan Maria menyanyikan Pujian kepada Allah.
Bayi-bayi yang dikisahkan dalan Injil juga istimewa. Ada perasaan sukacita dalam diri keduanya: anak dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan. Para ahli Kitab Suci sepakat bahwa itulah saat pertama perjumpaan antara Yesus dan Yohanes Pembatis; Yohanes melonjak kegirangan melihat Penyelamat.
Ada keyakinan bahwa perkembangan seorang anak dipengaruhi juga oleh apa yang sering diperdengarkan kepadanya. Di zaman dahulu, gerakan-gerakan aneh janin dijadikan bahan ramalan masa depannya. Dalam Kej. 25: 22, Esau dan Yakub bertolak-tolakan dalam rahim Ribka, dan hal itu diartikan sebagai gambaran perselisihan mereka di kemudian hari.
Nyanyian Pujian Maria merupakan ungkapan kekagumannya pada tindakan Allah, karena ia dipilih dan dirahmati untuk ikut serta secara penuh dalam karya penyelamatan. Dengan mengandung dan melahirkan Penyelamat, Maria sendiri disucikan oleh Allah, sehingga terhindar dari noda dosa.
Dapat dikatakan bahwa Maria menerima berkat pertama yang ditujukan untuk keselamatan segenap manusia. Di hadapan Allah ia menyadari dirinya hanyalah hamba yang hina dina, yang berasal dari kalangan sosial rendah. Namun justru melalui hidup dan sikapnya lah Allah mekukan perbuatan-perbuatan ajaib.
Magnifikat Maria ini menjadi model kesaksian iman Gereja mengenai keberpihakan Allah yang istimewa kepada manusia sepanjang sejarah keselamatan: Allah membela orang rendah hati, bukan yang congkak hati, berpihak pada orang yang lapar, tertindas dan malang, bukan orang kaya dan penguasa.
Sikap Allah itu dinyatakannya secara turun-temurun oleh karena janji-Nya sendiri, jadi bukan hal yang asal-asalan atau sementara saja, tapi kontinu. Puncak dari perbuatan ajaib Allah ialah bahwa Ia sendiri merendahkan diri untuk menyelamatkan manusia. Keselamatan mungkin karena belas kasih Allah jauh lebih besar dari dosa manusia. Setiap orang yang mati dalam persekutuan dengan Yesus, akan mengalami keselamatan kekal.
Injil memberi penekanan bukan pada peran Maria sebagai Ibu kandung Yesus, melainkan pertama-tama, kepercayaannya. Maria meletakkan kebahagiaannya pada kasih tindakan kasih Allah semata-mata. Kebahagiaan Maria bergantung pada tindakan Allah (rahmat), bukan pada kuasa dan kekayaan, juga bukan pada status sosial. Dalam Allah saja lah Maria menemukan citra dirinya yang sejati. Maria menjadi model harapan bagi manusia.
Seperti Maria yang mengandung dan melahirkan sang Kebenaran, kita sekalian mencoba mengandung kesetiaan dan kejujuran, bukannya hamil kelaliman dan melahirkan dusta.Kita semua disadarkan bahwa pada zaman modern ini manusia sering meletakkan citra dirinya pada kuasa, uang dan kekayaan.
Naga jahat yang digambarkan oleh Kitab Wahyu tadi, dalam bentuk yang baru pada zaman ini, selalu mengintai untuk menyerang kita. Mari kita berusaha melindungi kebaikan dan kebenaran agar ia tidak dicampakkan oleh naga jahat. Seperti Maria, kita juga dipanggil untuk terlibat dalam karya keselamatan-Nya. Seperti Maria kita hendak menjawab kepada Tuhan: “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.
Tidaklah mudah untuk mengatakan “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” dan itulah kenapa Maria dipilih oleh Tuhan. Bunda Maria taat kepada kehendak Bapa.
Terima kasih Pater …artikel ini kembali mengingatkan saya untuk meneladan bunda Maria.
God bless…
Tetima kasih Pater
Terima kasih banyak pater. Renungan yang sangat menyentuh. Semoga kunjungan Maria dan Elisabeth, menjadi ‘role model’untuk kita saat ini. Kunjungan yang penuh dengan sukacita. Sukacita yg meletakan kebenaran, perbuatan baik dan saling melayani.
Seperti Maria… kita sekalian mencoba mengandung kesetiaan dan kejujuran… Gracias Padre