Krisis yang sangat berat seperti dampak wabah corona (Covid-19) yang menimpa dunia sejak akhir 2019 – di mana ribuan bahkan jutaan nyawa manusia melayang, dan banyak orang menganggur karena kehilangan pekerjaan, kegagalan dalam usaha, serta relasi sosial yang menjadi lebih sulit – membuat kita bertanya-tanya tentang masa depan dan makna hidup manusia.
Dalam tradisi Kristiani, pertanyaan tentang masa depan sejarah manusia dan dunia direfleksikan dalam keutamaan Kristiani, yaitu Harapan (selain Iman dan Kasih).
Teologi Harapan. Pertama-tama perlu diketahui bahwa sasaran refleksi Ilmu Teologi mencakup baik realitas sekarang maupun yang akan datang atau realitas akhir. Dalam bahasa teknis dikatakan bahwa sasaran refleksi Teologi itu bukan hanya terkait kenyataan dunia di sini dan sekarang (hic et nunc), tetapi juga di tempat lain /di sana dan nanti (alibi et tunc) [Gagliardi 2017, 804].
Cabang Teologi yang bertugas merefleksikan realitas akhir dikenal dengan istilah ‘Teologi Harapan’ atau ‘Eskatologi’. Dimensi alibi et tunc menekankan realitas akhir yang sudah diantisipasi dalam realitas aktual hic et nunc. Jadi kedua dimensi itu sebenarnya saling melengkapi.
Pertanyaan tentang Allah, Manusia, dan Dunia. Inilah tiga topik besar refleksi Teologi Harapan, terkait situasi krisis seperti sekarang ini; dan ketiganya terkait satu sama lain. Pengalaman krisis karena wabah korona, atau dalam krisis yang lain, tidak hanya menimbulkan pertanyaan tentang manusia, tetapi juga tentang Allah. Sebab, realitas akhir sejarah dunia adalah realitas pernyataan diri Allah juga. Tentang Allah, manusia bertanya, bahkan menuntut: Apakah Allah ada? Jika Ia ada, mengapa Ia tega membiarkan tragedi ini menimpa manusia?
Ketika menjadikan semesta (Kej.1), Allah melihat bahwa semua yang dijadikan-Nya itu sungguh baik adanya. Pertanyaannya: apakah akhir sejarah dunia akan menjadi sebuah drama bagi Allah sendiri, atau saat kepenuhan rencana-Nya untuk menyempurnakan dunia yang baik ini? Sebab, jika Allah adalah Pencipta yang Maha Kasih, namun tak kuasa memulihkan ciptaan-Nya, Ia bukan kasih, dan itu berarti Ia mengingkari diri-Nya sendiri. Dan kalau begitu, sejarah dunia ini, dalam bahasa H. U. Von Balthasar, menjadi sebuah drama bagi Allah. Allah yang mengingkari janji-Nya untuk mengasihi ciptaan bukan Allah.
Dan tentang manusia sendiri, di satu pihak ia bertanya: apa makna hidupku dalam krisis yang penuh derita? Jika dunia sekarang ini nyatanya tak menyediakan jawaban yang memuaskan bagiku, apakah ada suatu dunia lain yang lebih baik? Namun di lain pihak, manusia tidak dapat menyangkal bahwa ia ciptaan yang lemah, dan betapa sering ia tak setia pada komitmen merawat bumi serta solider dengan sesama. Oleh sebab itu ia sebenarnya tak patut menuntut sebuah kehidupan yang layak di bumi yang sakit justru karena keserakahan-nya sendiri.
Dunia Bukan Realitas Final. Manusia selalu bertanya tentang apa yang akan terjadi: sebentar lagi, esok, lusa, antara beberapa minggu, bulan, tahun, dan untuk jangka waktu yang lebih panjang. Pertanyaan tersebut diajukan pula bagi dirinya: terkait pekerjaan, rencana, keluarga dan kerabat, tentang lingkungan sekitarnya, tentang realitas sosial, ekonomi, politik, dan tentang bumi tempat ia berpijak. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan ciri manusia sebagai makhluk historis: Ia hidup di sini, kini dan sekarang, namun berorientasi ke depan; ia tidak hanya bertanya tentang dirinya, tetapi juga tentang realitas yang melampaui dirinya.
Sebagai makhluk historis, ‘peristiwa manusia’ terjadi pada suatu tempat yang disebut bumi atau dunia. Seorang warga negara Indonesia misalnya, menyebut bumi sebagai Ibu Pertiwi: Ia bangga memiliki Indonesia sebagai tanah air-nya, seperti diungkapkan Ismail Marzuki dalam lagunya “Indonesia Tanah Air Beta”: Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya…Di sana tempat lahir beta, dibuai, dibesarkan bunda”. Warga negara ini juga berharap agar bumi Indonesia akan menjadi tempat berlindung di hari tua, dan lebih jauh lagi: menjadi tempat akhir menutup mata. Ia merasa bangga dan cinta akan bumi tempat ia hidup, namun di saat yang sama ia menyadari pula bahwa bumi ini tidak akan dihuni selamanya, sebab akan tiba saat ia menutup mata, dan tanah air ini harus diwariskan kepada generasi berikut.
Manusia terbiasa mengalami hidup di bumi. Kita merasa memilikinya, maka menyebutnya ibu bumi, bumi kita, tanah air kita. Namun fakta hidup harian, sebagaimana direfleksikan Greshake [2009, 14-16], memperlihatkan bahwa ternyata ‘bumi kita’ tidak memuaskan semua hasrat atau dambaan kita. Menyadari bahwa bumi tidak menyediakan jawaban definitif terhadap pertanyaan-pertanyaan manusia, juga berarti sadar bahwa keberadaan manusia sendiri tidak bersifat kekal. Manusia itu ciptaan. Ia fana; ia makhluk historis: pernah ada dan akan tidak ada lagi atau binasa.
Bumi yang dihuni manusia ini bukan realitas yang sudah selesai: ia lebih tepat dimaknai sebagai realitas yang ‘hampir selesai’ atau ‘sebelum akhir’ (penultimate). Sejarah dunia tidak menyediakan jawaban definitif atas pertanyaan manusia mengenai realitas terakhir. Lagi pula pertanyaan yang diajukan manusia bukan hanya tentang hal-hal sementara. Misalnya perihal bagaimana hal ini atau itu terjadi, tentang orang ini atau orang itu, melainkan terhadap realitas secara total. Pertanyaan manusia tentang masa depan bersifat menyeluruh, diajukan bukan sekedar untuk memenuhi rasa ingin tahu, tetapi mencakup makna dan tujuan akhir sejarah.
Bapa Gereja Latin terkemuka, Santo Agustinus menggambarkan manusia sebagai peziarah di dunia (homo viator): Selama masih di dunia manusia sedang melintasi jalan (in via) sambil mengarahkan pandangan kepada tujuan akhir (in patria). Sebagai ‘warga asing’ di dunia ini, manusia perlu sadar bahwa pengalaman sukacita yang tidak disertai harapan akan masa depan bukanlah sukacita sejati dan merupakan sebuah sukacita palsu saja [Malgeri 2019, 38-39].
Dalam karyanya, De Civitate Dei Agustinus menggambarkan bahwa dambaan manusia yang paling dalam ialah damai yang paling utuh dan pasti (pax plenissima atque certissima). Maka, dalam peziarahannya di dunia, hendaknya manusia tak mencari ikatan pada hasrat alami dan badani, tetapi mengarahkan diri kepada kepenuhan adikodrati: ia melakukan aktivitas di dunia sekarang (actio), dengan mata batin yang terarah kepada masa depan (contemplatio).
Dengan kata lain, dimensi antropologi hendaknya mengarah kepada dimensi eskatologi. Perlu diingat bahwa bagi Agustinus, damai akhirat itu bukan alasan bagi manusia untuk lari dari dunia. Manusia tetap aktif di dunia dalam kesadaran bahwa ia memang berada di dunia, tetapi bukan dari dunia [Malgeri 2019, 62-63]. Kerinduan manusia akan kesatuan dengan Allah tercetus dalam kata-kata Agustinus dalam buku Confessions: “Engkau telah menjadikan kami bagi-Mu, dan jiwa kami belum berdiam sebelum ia beristirahat dalam Engkau” [Conf. I: 1].
Santo Fransiskus Assisi menggambarkan manusia sebagai musafir dan perantau di dunia. Dalam doa pujiannya yang sangat terkenal, Nyanyian Saudara Matahari, ia mengekspresikan sambutannya kepada maut: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari Maut badani, dari padanya tidak akan terluput insan hidup satu pun. Celakalah mereka yang mati dengan dosa berat; berbahagialah mereka yang didapatinya setia pada kehendak-Mu yang tersuci karena mereka takkan ditimpa maut kedua” [NyaMat.12-12]. Nyanyian indah ini meneguhkan keyakinan bahwa kita dan semua saudara yang telah dijemput saudari maut, akan mengalami kebahagiaan kekal bersama Kristus yang kita imani selama penziarahan di dunia.
Hermeneutika Kematian. Alinea-aline di atas mengatakan bahwa kematian merupakan titik batas definisi hidup manusia. Pembicaraan tentang harapan muncul sebagai diskursus, karena manusia sadar dan menyaksikan peristiwa kematian. Lawan dari kematian ialah kehidupan kekal. Sebagai ciptaan, manusia itu tidak abadi, melainkan fana, dapat mati. Tema Teologi Harapan menjadi relevan karena manusia menyadari eksistensinya yang terbatas; dan kesadarannya itu dipertegas dengan kenyataan peristiwa kematian yang ia saksikan di dunia.
Dapat dikatakan bahwa jauh di balik keseharian manusia, sebetulnya tersembunyi rasa takutnya akan maut; jadi kematian memaksa manusia untuk menjadikan hidupnya sebagai strategi untuk dapat menunda kematian. Sosiolog Zygmunt Bauman bahkan menempatkan kematian sebagai sebuah hermeneutika sosiologis: Ia pun berpandangan bahwa motif tersembunyi dari kreasi kebudayaan ialah kematian [Wohlmuth 2013, 208-209].
Semakin kuat kesadaran akan ancaman maut, semakin intens upaya manusia menundanya, dan semakin intens pula upaya menjadikan hidup lebih baik serta mempertahankan hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan. Dengan kata lain, kematian itu dekat dengan kehidupan, sebab karenanya manusia menjadi sibuk mengisi hidupnya sehari-hari dengan strategi yang lebih baik: mengkonsumsi makanan sehat, melindungi diri dari penyakit, mengantisipasi bencana atau kecelakaan, bahkan berupaya turut melindungi sesama yang terancam maut.
Pemahaman seperti ini menunjukkan bahwa strategi menghadapi kematian terwujud dalam cara hidup. Peristiwa kematian diantisipasi oleh manusia dengan memberi diri bagi kehidupan, sebab dengan demikian kematian itu tak tiba-tiba merenggutnya sebagai sebuah absurditas total. Starategi menghadapi maut akan memperlihatkan apakah seseorang itu heroik atau egois. Seorang heroik akan memperlihatkan upaya membela hidup di hadapan kekejaman maut; seorang egois cenderung lari dari kenyataan dan menyerah. Tradisi Kristiani pada gilirannya, menempatkan harapan sebagai kebajikan yang melampaui heroisme. Sebab, heroisme yang tak ditopang sebuah tujuan akhir hanyalah heroisme kosong, tanpa sebuah finalitas.
Corak Harapan Kristiani. Rumusan Kredo Nikea-Konstantinopel memuat pengakuan iman umat Kristen bahwa Yesus Kristus ‘akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati, dan bahwa Kerajaan-Nya tak akan berakhir’. Pengakuan iman Kristen juga menekankan aspek iman akan tujuan pengharapan kaum beriman, yaitu ‘menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat, masuk dalam persekutuan para kudus’ [DH 150].
Pengakuan iman ini memuat keyakinan mengenai realitas akhir hidup yang terpusat pada diri Yesus Kristus: Ia menjadi jaminan kepenuhan harapan tersebut. Pertanyaanya: Harapan seperti apa yang menjadi ciri khas iman Kristiani? Apakah harapan Kristiani itu dapat dipercaya (credible) atau hanya menawarkan fantasi dan ilusi belaka?
Anthony Kelly [2006, 5-17] memaparkan corak harapan yang lebih bermakna teologis. Pertama, harapan melampaui optimisme: Dalam harapan ada optimisme, namun optimisme tidak identik dengan harapan (Kristiani). Sikap optimis dikaitkan dengan sikap tenang karena ada sebuah kepastian ke depan. Orang yang merasa optimis percaya bahwa apa yang akan terjadi dapat diprediksi, sehingga hambatan dapat diantisipasi. Sikap optimis terungkap dalam pemikiran logis karena sebuah sistem akan berjalan sesuai rancangan. Pada umumnya prediksi atau kalkulasi logis atas sebuah peristiwa dimungkinkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi; dan itu dapat memberi rasa optimis, sebab kemungkinan error sedapat mungkin dibatasi.
Harapan sejati justru bertentangan dengan harapan berdasarkan rasa optimis. Genuine hope is always ‘against hope’. Harapan berjalan pada saat optimisme tidak lagi menjadi jaminan akhir. Harapan sejati justru terwujud ketika sebuah kalkulasi ilmiah tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Harapan sejati terwujud ketika segala prediksi logis manusia tidak tercapai namun manusia tidak putus asa, melainkan tetap menguatkan hati untuk menghadapi kenyataan. Orang yang berharap sadar betul bahwa realitas hidup tidak dapat dikontrol secara total oleh manusia. Manusia dapat merancang jalan, namun Tuhan adalah penentunya: “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” (Ams 16: 9).
Poin penting yang terkait erat dengan perbedaan antara harapan dan optimisme tampak dalam perbedaan antara makna kata kerja berharap dan berpikir [Greshake 2009, 14-16]. Tujuan tindakan berpikir ialah untuk menemukan jawaban yang pasti dan stabil. Orientasi orang yang berpikir ialah menarik kesimpulan logis. Sebaliknya orang yang berharap membiarkan segala kemungkinan terbuka, tidak mencari kesimpulan definitif atas sebuah pengalaman.
Bagi orang yang berharap, kenyataan absurd pun bukan sebuah akhir yang definitif. Sebab baginya, di balik kenyataan absurd masih terbuka pintu kebaruan. Orang berpengharapan bersikap ‘aneh’ karena apa yang ia dambakan memang tidak dimengerti (bertentangan) oleh kalangan umum yang terbiasa berpikir secara logis. Sebagaimana ditunjukkan dalam Kitab Suci, realitas akhir ditampilkan dalam gambaran dan simbol-simbol, bukan formulasi definitif. Gambaran dan simbol mendorong pembaca untuk terus mengarahkan horison nalarnya kepada makna di baliknya, perihal di tempat lain dan yang akan datang (alibi et tunc).
Muncul pertanyaan: apkah harapan Kristiani itu hanya berdasarkan gambaran-gambaran? Pertanyaan ini akan dijawab dengan lebih baik dengan menafsirkan pendasaran biblis harapan Kristiani. Sementara ini hanya perlu dikatakan bahwa orang yang berharap tidak menjadikan gambaran atau imajinasi apapun sebagai objek definitif harapannya, sebab yang menjadi tujuan final dari harapan Kristiani ialah persekutuan (communio) dengan Allah Trinitas.
Kedua, harapan berjalan pada ruang lingkup makna dan nilai yang luhur, jadi bukan pada meteri. Harapan ditempatkan dalam horizon transendental, artinya ia merupakan semacam energi yang menggerakkan manusia agar memaknai hidupnya berdasarkan sebuah kriteria baru (dan selalu baru), the ultimate meaning. Harapan yang radikal mendorong kekuatan kehendak untuk berkomitmen memaknai kodrat manusia dan seluruh ciptaan secara utuh. Orang yang hidup dalam pengharapan tidak mereduksi dambaannya pada kepentingan sementara.
Sebab itu, dalam sebuah tatanan ekonomi yang adil sekalipun, harapan tetap berperan. Menarik apa yang dikatakan Paus Benediktus dalam Ensiklik Allah adalah Kasih (Deus Caritas Est): Keyakinan bahwa manusia hidup hanya dari roti saja (Mt 4: 4; bdk Ul 8: 3) adalah ketakhayulan yang merendahkan manusia dan mengingkari justru apa yang khas manusiawi.
Paus emeritus ini merefleksikan bahwa pada manusia selalu akan ada penderitaan yang membutuhkan penghiburan dan bantuan. Senantiasa akan ada kesepian. Selalu juga akan ada keadaan kekurangan sarana jasmani, yang membutuhkan bantuan’ (DCE. 28). Manusia menambatkan harapannya pada dimensi yang lebih dalam, yaitu ruang batinnya, bukan hanya pada jaminan hidup di tataran kebutuhan dasar ataupun kesejahteraan secara sosial.
Ketiga, harapan merupakan sebuah kebajikan teologis (virtus). Sebagai sebuah kebajikan, ia mengandaikan kehendak manusia untuk bertindak secara baik dan benar. Dalam kebajikan itu orang menaruh hormat pada norma-norma moral, tetapi bukan demi legalisme. Dalam pengharapan, orang tetap berani berkorban untuk sebuah kebaikan yang lebih luhur. Dengan keberanian untuk berkorban, orang yang berpengharapan ‘menyebarkan harapan kepada sesama’, mengupayakan inter-hope encounter agar satu harapan menopang harapan yang lain, bahkan ketika usahanya itu tiba pada ambang batas pengharapan, yaitu kematian. Dengan kata lain, harapan memiliki dimensi sosial: it is capable of taking a stand with the hopeless.
Sebagai sebuah kebajikan teologis, harapan mengandaikan dua kebajikan lainnya, iman dan kasih; ia berada bersama keduanya. Iman merupakan pijakan agar kaki kita terus melangkah; harapan bagaikan energi yang mendorong ke visi terjauh yang dituju. Harapan tanpa iman bagaikan berjalan tanpa arah tujuan. Dasar harapan bukan pemikiran logis, melainkan iman. Sebab, “iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr 11: 1). Sebaliknya iman yang tidak disertai harapan itu adalah iman yang kerdil, bahkan sia-sia. Demikian halnya kasih tanpa harapan adalah kesia-siaan, sebab mengasihi berarti mengharapkan hidup yang abadi. Mengatakan kepada seseorang ‘saya mencintaimu’ berarti mengharapkan bahwa ia tidak mati [Kelly 2006, 17]
Masih dalam perspektif kabajikan itu, ciri keempat harapan ialah bahwa ia tidak identik dengan pasrah. Berharap bukan berarti lari dari dunia. Ketekunan dalam berharap justru harus ditunjukkan dengan menjalankan tanggung jawab dalam hidup. Terdapat dimensi etis dalam harapan. Jika kepenuhan eskatologis merupakan anugerah, maka orang yang menerimanya, hendak menjalankannya; jadi harapan merupakan anugerah yang menjadi sebuah tugas.
Alkitab menunjukkan dengan jelas bahwa tanggung jawab manusia merupakan wujud penerimaan dan tanggapannya terhadap janji Allah. Dengan kata lain, tanggung jawab merupakan bagian dari anugerah kebebasan: salib merupakan bagian dari janji keselamatan. Gambarannya demikian: Dalam PL, Allah menganugerahkan tanah terjanji bagi umat Israel. Untuk sampai ke tanah itu, umat Israel hendaknya setia pada perjanjian dengan Allah. Dalam PB, Allah mewahyuakan keselamatan dalam diri Yesus. Untuk mengerti dan mengalami keselamatan dalam Yesus itu, para pengikut-Nya harus ‘memikul salibnya dan mengikuti Dia’.
Dari perspektif tindakan Allah, jelas bahwa kepenuhan masa depan yang definitif bukan hal yang sekonyong-konyong terjadi. Realitas masa depan sudah diantisipasi oleh Allah melalui penyertaan-Nya kepada manusia. Masa depan bagi Israel telah diperlihatkan Allah melalui tindakan pembebasan dari perbudakan di Mesir dan penyertaan-Nya menuju tanah terjanji. Dalam Perjanjian Baru, jelas bahwa masa depan bagi para pengikut Kristus telah diperlihatkan dalam peristiwa Yesus Kristus, yang intinya adalah kasih Allah yang total bagi manusia, yang memuncak dalam kebangkitan-Nya dari maut. Kebangkitan Yesus menjadi paradigma dasar bagi manusia untuk berharap akan hidup baru setelah kematian di dunia fana.
Gereja Ziarah, Gereja Penantian, dan Gereja Jaya. Dimensi lain yang penting dari harapan Kristiani ialah bahwa dinamikanya melampaui kategori waktu kronologis. Waktu dalam Teologi Harapan Kristiani dimaknai dalam kerangka rancangan Allah, tuan atas sejarah. Bagi Allah, masa lalu, masa sekarang dan akan datang adalah satu-kesatuan. Misteri kasih Allah tidak dapat dibatasi oleh pemisahan waktu menurut kriteria manusia (past-present-future).
Kita yang hidup sekarang ini adalah peziarah, yaitu sebagai orang yang percaya bahwa saudari-saudara yang telah menghadap maut, oleh karena iman akan nama Yesus Kristus, sekarang mengalami kejayaan hidup baru. Dasar keyakinan kita itu ialah kesaksian iman Gereja bahwa rahmat kasih Allah telah membaruai mereka dan menjadikan mereka sebagai Gereja kudus di surga. Mereka yang telah berada dalam sukcaita abadi itu diyakini sebagai pendoa bagi kita para peziarah di dunia. Namun para peziarah pun berdoa agar mereka yang masih dalam dunia penantian akhirnya diampuni dan boleh masuk dalam persekutuan dengan Allah Pencipta.
Kristus Sumber dan Tujuan Harapan. Bagi seorang Kristen, sumber dari harapan manusia ialah Yesus Kristus. Iman dan harapan Kristiani tidak bersandar pada ajaran atau ideologi tertentu, melainkan pada pribadi Yesus Kristus. Kristus tidak mewarisi kita sebuah teori tentang kebangkitan, sebab Ia adalah kebangkitan itu sendiri: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ (Yoh 14: 6). Maka bagi seorang pengikut Kristus kematian bukanlah kata terakhir.
Kebangkitan Yesus merupakan realisasi masa depan yang direncanakan Allah bagi manusia dan segenap ciptaan. Kebangkitan berlaku bukan hanya untuk Yesus. Dia, yang telah mati demi kita manusia, kini bangkit pula demi dan bersama kita; Ia membawa kita pada jalan menuju Bapa agar kita pun ambil bagian dalam kemuliaan-Nya. “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22). Kristus sumber harapan kita.
Pembelaan akan kebangkitan terungkap secara tajam dalam perkataan Santo Paulus: “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah kepercayaan kamu” (1 Kor 15: 13). Paulus yakin bahwa meski manusia terkungkung oleh dosa dan maut warisan Adam, namun jauh lebih besarlah kasih karunia Allah yang dilimpahkan kepada semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus (bdk. Rom. 5: 14-15). Maut, musuh terakhir telah dikalahkan (1Kor 15: 26), sehingga oleh-Nya hidup manusia takkan binasa (2Tim 1: 10). Orang Krstiani adalah orang yang berpengharapan (bdk. 1Tes 4: 13; Ef 2: 12).
Terima kasih Pater…….
Terima kasih Pater,telah menyajikan tulisan yang sarat dengan makna… Pemahaman yang sangat mendalam… (Salam & Doa, semoga Pater sehat selalu)
Pater Andre, baguz sekali. Saya suka.
Bgmn saya bisa dapat artik ini dan karya²ainnya ?
Terima kasih,
Oremus pro invicem.
Di blog ini sya muat artikel-arikel saya..
Terima kasih sdra atas artikel yg sangat mendalam dan mudah dipahami semoga kita semua dpt mengintegrasikn dlm hidup
Harapan ditempatkan dalam ruang batin dan ia tidak identik dengan Pasrah.
Terima kasih Pater. Mantul
Sumber dari harapan manusia ialah Yesus Kristus, Gracias Padre