Keterbatasan Nalar. Keterbatasan akal budi manusia di hadapan Allah disadari St. Agustinus. Baginya intelek adalah kemampuan manusia yang paling mengagumkan. Namun manusia sendiri tidak mampu menjelaskan asal-usul, wujud serta cara kerja intelek. Dalam De Trinitate ia menulis: “Jika kita tidak mampu memahami bagian paling istimewa dalam diri kita, bagaimana kita mampu memahami Dia yang jauh lebih mulia dari kemampuan istimewa yang kita miliki itu”? (V.2).
Dalam konteks metodologi Teologi, pernyataan Agustinus menegaskan keyakinan bahwa ungkapan diri Allah adalah landasan dari bangunan Ilmu Teologi. Theos-logos secara sederhana berarti Allah berbicara. Para penulis Kitab Suci telah mendengar Sabda dan percaya. ‘Allah berbicara’ bukan berarti Ia mendiktekan perkataan-Nya kepada penulis. Allah menyapa manusia yang memiliki akal budi, perasaan dan kehendak. Maka yang ditulis manusia ialah refleksi imannya akan Allah.
Beriman tak Berarti Malas Berpikir. Tindakan manusia mendengar dan menuliskan Firman menunjukkan bahwa beriman itu tidak identik dengan diam dan pasif. Agustinus mengajarkan bawah meskipun manusia tak mampu menyingkap Allah dengan nalar, ia tidak boleh diam, tetapi terus berpikir dengan nalarnya, bahkan untuk berpikir tentang Allah. Ketika berpikir tentang Allah, manusia dapat tersesat; namun sebaliknya ia juga dapat menemukan nilai-nilai yang sungguh kaya.
Dengan berpikir serius tentang Allah, demikian Agustinus, nalar manusia perlahan dibersihkan dari takhayul atau cara pikir yang picik. Dalam bahasa metodologi: ketika orang berpikir bahwa Allah itu besar dan baik, ia harus tahu bahwa kebaikan dan kebesaran Tuhan pada dirinya jauh melampaui kriteria baik dan besar yang ada dalam pemikirannya. Ketika orang merasa sudah cukup membuktikan adanya Tuhan dan sifat-sifat-Nya, ia melanggar kaidah ilmiah Ilmu Teologi.
Prinsip metodologi serupa tampak dalam pandangan St. Yohanes Damaskus (†749). Dalam De Fide Orthodoxa, ia menulis: “Tuhan memang tidak setara dengan ciptaan. Ini bukan berarti bahwa Tuhan tidak ada, namun bahwa Ia berada di atas semua yang ada, bahkan melampaui eksistensi itu sendiri” (I. 4). Prinsip metodologis dua tokoh yang dikutip ini biasa di sebut jalan negatif (via negativa): Menegasi semua kriteria pemikiranku tentang Allah untuk menegaskan misteri keagungan Allah.
Teologi pada Dirinya dan Teologi Kita. Dalam konteks wacana keterbatasan nalar manusia di hadapan Tuhan itu, Ilmu Teologi membedakan dua istilah teknis: Teologi pada dirinya (Teologia in sè) dan Teologi kita (Teologia nostra). Teologi pada dirinya dikaitkan dengan eksistensi Allah sebagai misteri dalam arti ketat. Sedangkan diskursus teologis yang dibuat oleh kaum beriman disebut Teologi kita, jadi hasil pemikiran manusia berdasarkan data-data wahyu.
Yang dimaksudkan dengan data wahyu ialah terutama Firman atau Logos. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa inti sari dari Alkitab ialah perkataan dan tindakan Tuhan yang mendatangkan keselamatan bagi manusia. Contoh: Kepada Abraham Allah berbicara, dan berjanji untuk memberikan berkat, tanah, dan keturunan (Kel 12). Kepada Musa Allah juga berbicara, berdialog, serta hadir sebagai Penyelamat umat Israel. Allah berjanji dan bersumpah demi diri-Nya sendiri.
Allah Bagi Kita. Sejak Perjanjian Lama sudah tampak jelas bahwa Allah yang dimaksudkan dalam Teologi kita adalah Allah yang berbicara dan bertindak, bukan Allah yang diam dalam diri-Nya. Ia hadir dan menyatakan diri bagi manusia. Abraham mengalami kesetiaan Allah, maka ia percaya kepada-Nya (bdk. Kej 15: 6). Melalui Musa Allah berjanji bahwa Ia peduli pada umat Israel, pasti menuntun mereka keluar dari perbudakan menuju tanah yang berlimpah susu dan madu (Kel 3: 17).
Sampai di sini kiranya jelas bahwa beriman tidak berarti asal percaya. Akal budi turut berperan dalam iman. Dan Allah yang dimaksudkan dalam Ilmu Teologi ialah Allah yang terlibat dalam sejarah manusia. Sebagai Yang Sempurna, Allah seharusnya sudah cukup diri. Ia hanya perlu diam dalam diri. Nah corak misteri dalam Teologi ialah bahwa Allah ternyata tidak puas diri, melainkan selalu menyatakan diri bagi umat-Nya. Berteologi berarti berbicara tentang komunikasi diri Allah.
Dengan mengungkapkan diri siapa pun (baik Allah maupun makhluk ) menjadi terpapar, tersingkap, diketahui. Meski tidak seluruhnya dipastikan mengetahui apa dan siapa sesungguhnya. Terima kasih Pater Andreas Atawolo OFM yang terus mengasah pikiran/akal budi insani sebagai anugerah dengan teologi.
Terima kasih Pater
Terimakasih Pater Andreas untuk pemikiran yang telah menambah pemahaman akan berTeologi. Komunikasi dengan Allah secara terus menerus kiranya menambah pemahaaman kita tentang Dia yang sangat luar biasa yang senantiasa menyatakan diriNya dalam semua peristiwa. Salam sehat Pater?