Pertama-tama perlu dikatakan bahwa tidak ada kata ‘tringgual’ dalam Kitab Suci, namun jelas disebut Bapa, Putra dan Roh Kudus, dan peran ketiganya selalu harmonis dan bersekutu, tidak berlawanan atau bertentangan. Istilah-istilah seperti ‘trinitas’, ‘pribadi’, ‘kodrat’ adalah istilah-istilah teknis yang muncul dalam rumusan dogmatis yang muncul dari ajaran Gereja melalu konsili-konsili sejak abad ke empat.
“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28: 19). Perlu diperhatikan bahwa dalam teks ini hanya satu kali disebut kata nama, bukan tiga nama.
Teks Matius ini merupakan petunjuk bahwa sejak semula umat Kristiani dibaptis dalam iman akan Allah Tritunggal: Bapa, Putra, Roh Kudus. Bertolak dari pengalaman iman, jemaat sudah percaya dan menyebut nama Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam seruan doa dan pujian mereka.
Kesaksian Injil tentang Allah Trinitas dinyatakan pula pada peristiwa pembaptisan Yesus di sungai Yordan. Ketika dibaptis, Putra melihat langit terbuka dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya (Mrk 1: 10; bdk. Mat. 3: 13-17; Luk. 3: 21-22), serentak mendengar suara Bapa yang memanggil-Nya sebagai Anak yang terkasih (Mrk. 1: 11). Teks-teks ini menekankan persekutuan antara Bapa, Putra dan Roh yang bersifat utuh dan stabil.
Terkait dengan peristiwa baptis itu, para penginjil juga memberi tekanan tentang penyertaan Roh Kudus secara tetap dan stabil dalam diri Yesus: Roh turun ke atas Dia (Luk 3: 22), tinggal di atas-Nya (Yoh 1: 32); turun dan tinggal di atas-Nya (1: 33). Berkat penyertaan Roh, relasi kesatuan antara Bapa dan Putra terwujud secara penuh. Roh Kudus berperan sebagai penyelaras relasi persekutuan Bapa dan Putra. [Bordoni 1995: 47-8].
Dengan kata lain, yang terjadi dalam pembaptisan di sungai Yordan bukan sekedar penyerahan tugas dari Bapa kepada Putra, melainkan manifestasi persekutuan erat antara keduanya dalam ikatan Roh yang satu dan sama [Salvadori 2011: 217].
Teks lain seperti Yoh 19: 30 (Mat 27: 50, Mrk 15: 33, Luk 23: 46) menekankan totalitas ketaatan Putra kepada Bapa dalam kesatuan Roh Kudus, sebagaimana tampak pada salib Kristus: “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai’. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan “menyerahkan nyawa-Nya”.
Menyerahkan nyawa artinya: menyerahkan Roh-Nya, yaitu diri seutuhnya kepada Bapa. Yesus dikandung Maria dari Roh Kudus, dan pada peristiwa baptis, Roh turun ke atas Dia, sehingga Ia berkenan bagi Bapa. Kini di salib, Roh itu dihembuskan Kristus kepada Bapa.
Roh yang dihembuskan Putra itu adalah Roh kasih yang menyatukan Bapa dan Putra. Roh yang telah menyertai Yesus selama hidup dan karya-Nya di dunia kini dikurbankan sebagai kasih yang total, ungkapan kesatuan abadi dan utuh dengan kehendak Bapa.
Roh Kudus yang adalah kasih Bapa kepada Putra, kini di salib dipersembahkan kembali oleh Putra kepada Bapa. Roh Kudus merupakan persembahan Bapa kepada Putra yang kini dipersembahkan Putra seutuhnya kepada Bapa. [Bordoni, 1995: 248-9]. Santo Agustinus memaknai Roh Kudus sebagai anugerah bersama (dunum commune) Bapa dan Putra.
Oleh daya Roh, kasih antara Bapa dan Putra menjadi sempurna: Keduanya adalah satu Roh/Anima, satu kehendak, satu kasih. Dalam Roh, relasi kasih antara Bapa dan Putra bersifat inklusif: bukan lagi Roh Bapa atau Putra melainkan Bapa dan Putra. Patut diingat bahwa “roh” bukan hanya nama bersama untuk Bapa dan Putra, melainkan identifikasi eksistensi Tuhan: “Allah itu Roh” (Yoh 4: 24).
“Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” (1Yoh 5: 7). Teks ini diperdebatkan para ahli karena merupakan bentuk peredaksian yang baru muncul menjelang abad ke III, kiranya bagian dari teks liturgis untuk menanggapi bidaah arianisme yang menyangkal keilahian Yesus. Terlepas dari perdebatan itu, teks ini dengan jelas menyebut Tiga Pribadi Ilahi serta persekutuan antara ketiganya.
Terima kasih Pater utk penjelasannya
Tuhan memberkati selalu.
Trima kasih Pater …semoga Roh Kudus semakin menerangi hati dan pikiran kita agat berpikir dan memahami denga baik.. tentang ..Tritunggal..
Terima kasih banyak pater…untuk pencerahannya JBU ,salam
Tuhan memberkati selalu.
Kak Pater luar biasa sharenya yg sl memberi pencererahan dan menginspirasi semua orang…
Terima ksh to sharenya shg kami makin memahami ttg Trinitas ..
Slm sehat dan tetap zemangaat dr kami b3..
?????????????
Tuhan memberkati selalu.
Terima kasih Pater.. Salam dan doa, semoga Pater sehat selalu.