Yesus kembali ke Kampung halaman-Nya, Nazaret. Seperti biasanya, pada hari Sabat Ia membaca Taurat dan berkhotbah di Sinagoga. Kali ini yang hadir di Sinagoga ialah orang sekampung-Nya. Mereka mengenal Dia. Mereka tahu betul keluarga-Nya, saudar-saudara-Nya, pekerjaan-Nya. Mereka heran, bagaimana orang sekampung mereka ini berbicara penuh kebijaksanaan. Mereka bertanya-tanya bagaimana itu mungkin.
Orang sekampung ini tentu telah mendengar tentang Yesus: mukjizat yang Ia kerjakan, pengajaran-Nya yang penuh wibawa. Bahkan dikatakan bahwa mereka takjub ketika mendengar Dia. Dengan kata lain, mereka punya alasan yang cukup kuat untuk menerima Yesus. Rasa takjub pada Yesus adalah tanda yang baik, tanda awal dari iman-kepercayaan.
Namun rasa takjub itu rupanya tak berhasil mengantar orang-orang Nazaret untuk menerima Yesus. Merka hanya takjub! Mereka sibuk mengajukan beberapa pertanyaan: Dari mana Ia memperoleh semua hikmat; bagaimana Ia dapat melakukan mukjizat; bukankah Dia hanya seorang tukang kayu, bukan pejabat atau tokoh agama, atau public figure?
Ternyata mendengar tentang Yesus, mengetahui tentang Dia, bahkan takjub pada Dia bukan jaminan bahwa orang sungguh beriman kepada Dia. Orang dapat mengenal Yesus melalui buku-buku Teologi, melalui studi, kuliah atau pengajaran, bahkan menjadi ahli tentang Yesus. Tetapi semua itu belum membuktikan bahwa orang sungguh mengimani dan mengasihi Dia.
Saya dapat mengenal dan kagum pada seseorang namun belum tentu sungguh mencintainya. Demikian halnya relasiku dengan Yesus: Sekalipun orang mengetahui dan mengerti tentang Yesus, jika Ia tak sungguh beriman kepada-Nya, ia dapat seja menolak Yesus. Ia kagum pada Yesus, tetapi pada akhirnya kecewa, tak percaya, menolak Dia, meninggalkan tugas kemuridan yang sejati.
Pesan Injil hari ini: rasa takjub pada Yesus harusnya sampai pada iman yang mendalam. Hari ini Yesus menyapaku. Ia hadir secara nyata bagiku. Ia hadir bukan saja untuk dikenal, tetapi agar dicintai. Yesus bukan objek pengetahuan, melainkan Pribadi Ilahi, ungkapan kasih Allah. Hanya iman yang memungkinkan jalinan relasi kasih yang personal dengan Yesus. Bagiku: siapakah Yesus Kristus?
Ia hadir bukan saja untuk dikenal, tetapi agar dicintai. Gracias Padre
Danke Vater