Rabu Abu adalah hari Rabu yang ditandai dengan penerimaan abu untuk memulai masa Pra-Paskah selama 40 hari. Masa Pra-Paskah diisi umat beriman dengan aksi amal kasih, puasa, dan doa.
Aksi-aksi itu dilakukan dengan tujuan pertobatan, yaitu mengubah cara hidup yang buruk menjadi lebih baik, lebih membarui diri dengan membuka hati terhadap kerahiman Tuhan.
Disebut Rabu Abu, karena dirayakan pada hari Rabu, dan ditandai dengan penerimaan abu pada dahi umat beriman, tanda kesementaraan hidup manusia, dan bahwa ia bergantung pada Allah.
Abu merupakan simbol biblis yang digunakan sebagai ungkapan pertobatan, misalnya dalam kisah pertobatan orang-orang Ninive setelah mendengar pewartaan Nabi Yunus (Yun 3: 5-9).
Dalam tradisi Gereja, bentuk aksi nyata masa Pra-Paskah ialah berpuasa dengan menyisikan uang ataupun makanan, untuk membantu sesama yang kurang beruntung.
Tujuan dari semua aksi itu ialah pembaruan hati manusia dalam relasinya dengan sesama. Pesan paling mendasar dari masa Pra-Paskah ialah lebih mengasihi sesama sebagai wujud kasih kepada Tuhan.
Durasi 40 hari didasarkan misalnya pada 40 hari Yesus berpuasa dan mengalahkan godaan iblis sebelum Ia melakukan pelayanan secara publik sampai menderita di salib dan bangkit.
Angka 40 (Latin: Quaresima) diambil dari frase Latin yang menjelaskan masa ini,quadraginta dierum tempus liturgicum panitentiae, empat puluh hari liturgis masa penitensi. Durasi 40 hari telah diajarkan Gereja dalam Konsili Ekumenis pertama, Konsili Nicea 325.
Dalam Ekaristi pada hari Rabu Abu, setelah homili imam memberkati abu, merecikinya dengan air suci dan mengoleskannya pada dahi umat beriman.
Paus Gregorius I, pada sekitar tahun 591 menetapkan agar abu yang digunakan ialah abu hasil pembakaran daun palma kering dari perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya.
Paus Urbanus II pada Sinode di Benevento tahun 1091 menetapkan agar abu diberkati di semua gereja.
Kesadaran akan kesementaraan hidup dan pertobatan umat beriman terungkap dalam kata-kata yang diucapkan imam sambil mengoleskan abu di dahi umat beriman:
Versi awal kata-kata imam: Momento, homo, quia pulvis es, et in polverem, reverteris, ingatlah manusia engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu; ini mengingatkan kita akan kata-kata Allah kepada Adam dan Hawa dalam Kel 3 ketika Ia mengusir mereka dari taman Eden.
Pada Konsili Vatikan II rumusan itu dirumuskan secara agak berbeda tanpa mengurangi esensinya, Poenitemini, et credite Evangelio, bertobatalah dan percayalah kepada Injil, mengutip Mrk 1.
Masa Pra-Paskah yang dimulai dengan Rabu Abu merupakan kesempatan bagi umat beriman untuk balik arah (Yunani: metanoia), meninggalkan hidup lama menuju hidup baru dalam kasih Tuhan.



terima kasih Pater