Karunia keempat: Roh Kekuatan. Tema ini menampilkan peran Bunda Maria sebagai teladan spiritualitas kemuridan serta menekankan peran tiga keutamaan Kristiani sebagai humus bagi pohon kekuatan Kristiani: iman, harapan dan kasih.
Bunda Maria ditampilkan sebagai wanita kuat, karena keteguhan jiwanya, rahimnya yang suci, dan keteguhan hatinya untuk ikut Kristus pada jalan salib karena kasih-Nya kepada manusia . Dalam rahim Maria, Allah menjelma dalam pengalaman nyata hidup manusia. Maria pantas disebut sebagai model bagi kaum beriman Kristiani dalam menghayati tiga kebajikan utama, yaitu iman, harapan, kasih.
Roh kekuatan mengalir dari Allah Bapa sumber segala rahmat. Allah yang kekal adalah sumber segenap kekuatan. Tak satu pun wujud ciptaan dapat ada dan hidup tanpa Pencipta. Manusia disebut ciptaan karena ia dijadikan oleh sang Pencipta. Sumber Roh kekuatan dari Bapa Pencipta menjelma dalam Sabda Ilahi. Sabda berperan menguatkan, menyucikan, memurnikan, menebus dan membersihkan jiwa manusia dari dosa.
Itu lah yang disebut misteri Inkarnasi: Allah yang Maha Kuat menjadi daging seperti manusia. Dengan demikian mau dikatakan bahwa manusia bukan hanya makhluk badani, sebab ia dikaruniai kekuatan rohani. Tanpa roh dalam dirinya manusia hanya daging belaka. Oleh karena dimensi spiritual yang dimilikinya manusia mampu membuka diri kepada Allah; ia menemukan keutuhan dirinya dalam Allah (DD V, 4-8).
Pertumbuhan roh kekuatan dalam diri manusia digerakkan oleh tiga keutamaan Kristiani tadi, yaitu daya iman, ketekunan dalam harapan, serta kasih yang berlimpah-limpah. Iman itu bagaikan benteng pertahanan. Iman membentengi manusia agar roh kekuatan dalam dirinya tak mudah luntur oleh karena nafsu kekuasaan, ketertarikan pada hal-hal inderawi, serta godaan harga diri. Godaan-godaan itu dapat dihalau dengan hasrat cinta akan kebenaran ilahi. Sebab, “mata Allah memandang seluruh ciptaan dan memberi kekuatan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya dengan segenap hati” (DD V, 9-10).
Roh kekuatan juga bertumbuh dalam pengharapan. Berharap berarti mengandalkan Allah sebagai kekuatan paripurna. Kekuatan dunia (materi dan kuasa) dan optimisme ilmu pengetahuan bukan jaminan akhir harapan sejati. Harapan Kristiani berjalan pada ruang lingkup makna dan nilai batiniah, bukan pada materi. Harapan ditempatkan dalam horizon transendental: bukan kini dan sekarang, tetapi yang akan datang.
Harapan merupakan energi yang menggerakkan orang agar memaknai ambang batas hidupnya dengan sebuah masa depan baru yang paripurna, the ultimate meaning. Harapan yang radikal bukan pasrah atau pesimisme, melainkan komitmen yang kuat pada keadilan, perdamaian dan keluhuran martabat manusia (DD V, 11).
Akhirnya, sumber asali roh kekuatan ialah cinta kasih. Tidak ada kekuatan lain yang memisahkan kita dari kasih Allah. “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Rom 8: 35). Kasih Allah adalah kekuatan paripurna, maka menolak kasih berarti menolak sumber utama roh kekuatan (DD V, 12).
Bagaimana roh kekuatan dapat dilatih? Ia dilatih antara lain melalui pengalaman konkret. Roh kekuatan bertumbuh melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar prediksi manusia: bencana, penyakit, kejahatan dan kematian. Di hadapan kenyataan-kenyataan pahit itu, orang berupaya tak putus harapan. Roh kekuatan bertumbuh dalam diri orang yang berani menghadapi tantangan hidup. Orang yang teguh hatinya, misalnya tokoh Ayub dalam Perjanjian Lama, menjadi semakin murni dan teruji dalam roh kekuatan (DD V, 13-15).
Kembali kepada Maria sebagai figur roh kekuatan. Ia wanita yang ‘penuh rahmat’, sebagaimana dikatakan Malaikat Gabriel. Ia juga murni, baik raga maupun jiwa. Semua itu ia miliki bukan secara kebetulan, tetapi karena pekerjaan Allah sendiri. Ia adalah contoh pribadi pendengar dan pelaksana Firman Tuhan.
“Perintah-perintah Allah ada dalam hati wanita suci itu, […]. Ia bukan berhala atau semacam dewi; ia bukan orang yang mengerti namun tidak bertindak, melainkan pribadi yang selalu konsisten dalam kata-kata dan tindakan nyata. Hukum-hukum Allah terpatri dalam dirinya. Maria juga kuat dan kudus oleh karena kehendak baiknya yang kuat. Roh kudus menyertai dia, sehingga kesetiaannya menjadi penuh dan berkobar-kobar” (DD VI, 8).
Karena kesetiaannya pada Kristus, Maria turut bersama Putranya memulihkan martabat manusia di hadapan Allah. Maria mengambil bagian dalam penderitaan Kristus lebih dari siapa pun. Dengan bela rasanya akan derita Kristus, ia menjadi figur atau model kekuatan iman umat beriman. Seperti Maria, dalam ketekunan orang dapat menimba banyak pengalaman kehidupan. Ketekunan memurnikan iman seseorang.
Teladan kekuatan Maria ibarat senjata utama dalam menghadapi tantangan hidup. Mengenakan senjata utama berarti tidak menyerah dan lari dari tanggung jawab di dunia. Orang yang memiliki roh kekuatan tidak mudah putus asa, ia hidup penuh sukacita dan harapan; ia mau bersolider dengan sesama dalam situasi sulit. Orang Kristen ada orang ber-pengaharapan (people of hope) karena mereka telah menerima karunia roh kekuatan.
Renungan: Bunda Maria, terima kasih atas teladan iman yang engkau perlihatkan sebagai murid Kristus yang sejati. Semoga melalui doamu ya Bunda Maria, aku dikuatkan dalam iman harapan dan kasih.
Terima kasih Romo.
Sama2. Terima kasih juga, telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum! ?
Terima kasih ama
Semoga melalui *doa BUNDA MARIA*aku dikuatkan dalam Iman Harapan dan Kasih….. Terima kasih Pater. (Salam & Doa,, semoga Pater senantiasa diberi kesehatan)
Thanks Romo… ???
Trima kasih Pater…Maria Pendengar tanpa kata….