Apakah dunia ini diciptakan atau kekal adanya? Pertanyaan ini telah menimbulkan polemik di antara para teolog Abad Pertengahan[1].
Pada umumnya dikenal sebagai polemik de aeternitate mundi (tentang kekekalan dunia). Dua ikon teologi Abad Pertengahan, Thomas Aquinas dan Bonaventura Bagnoregio, menjawab pertanyaan itu secara berbeda.
Aquinas, dalam karyanya De Potentiae (1265-1266) – kemungkinan ditulis dalam periode yang sama dengan Summa theologiae – berargumentasi bahwa tidak ada kontradiksi ketika kita mengatakan bahwa dunia (ciptaan) itu tidak memiliki awal mula (kekal adanya)[2].
Dalam Quodlibetal ia menekankan bahwa mengatakan dunia ini ‘ciptaan yang kekal’, tidak kontradiktif (non implicat contradictionem)[3]. Pandangannya ini kemudian dipertegas dalam karya akhir yang lebih sistematik: De Aeternitate Mundi (selesai ditulis pada sekitar 1271). Dalam karya ini Doctor Angelicus menegaskan bahwa dapat dipikirkan sebuah alam semesta yang kekal[4].
Bagaimana dapat dimengerti bahwa dunia ini bersifat kekal? Pengandaian logisnya ialah demikian: karena dunia ini dijadikan oleh Allah yang kekal, maka ia hendaknya bersifat kekal pula.
Secara filosofis Aquinas mengandaikan adanya wujud “tak terhingga yang nyata/aktual” (actual infinite, infinita actu). Atau, secara negatif, demikian Aquinas, belum ada bukti bahwa Allah tidak dapat menciptakan sebuah wujud yang tak terhingga. “Et preterea non est adhuc demonstratum quod Deus non posit facere ut sint infinita actu” (…up to now it has not been demonstrated that God cannot make it be that an actual infinite number of things exist”)[5].
Pertanyaannya: Apa sesungguhnya inifinitum actu itu? Dan apakah itu bersifat real? Menurut pembacaan Walz, pengandaian akan adanya wujud ‘tidak terhingga yang real’ merupakan sebuah kontradiksi bagi kemahakuasaan Allah. Jika ada wujud tak terhingga yang real, bukankah ia seolah-olah menjadi saingan kemahakuasaan Allah?[6].
Argumentasi Aquinas merupakan contoh pendekatan yang mendorong filsafat, terutama filsafat alam, untuk secara independen menjawab pertanyaan tentang kekekalan dunia. Argumentasi filosofis melampaui kontradiksi “dunia ciptaan kekal adanya”, untuk menawarkan jawaban filosofis-spekulatif yang dapat diterima (plausible). Dalam perspektif ini, independensi dan kebebasan intelek diutamakan, bahkan diyakini memiliki jawaban sendiri tanpa berlandaskan data biblis atau keyakinan iman. Penelitian ilmiah membuka horizon baru, merangsang penalaran yang lebih terbuka, dan tidak cepat puas dengan kayakinan agama[7].
Thomas memisahkan dengan tegas antara ajaran iman berdasarkan wahyu alkitabiah dan kemampuan akal budi. Dalam polemik De aeternitate mundi, ia menegaskan bahwa kepastian akan adanya penciptaan merupakan masalah iman (articulus fidei). Jawaban finalnya terletak pada kehendak bebas Allah sendiri[8]. Hanya berdasarkan data biblis orang percaya bahwa dunia dijadikan; nalar tidak dapat menyediakan bukti ilmiah: “sola fide tenetur, et demonstrative probari non potest”[9]. Dengan jelas Thomas menulis: “[…] I do not believe that a demonstrative reason for this can be devised by us…”[10].
Berbeda dengan Aquinas, Bagi Bonaventura, mengatakan ‘dunia ciptaan bersifat kekal’ adalah sebuah kontradiksi. Terhadap pertanyaan ‘apakah Allah dapat menciptakan wujud tak terhingga yang aktual’, ia memberi jawaban yang berbeda dari Thomas:
“It seems that God cannot produce an effect infinite in intensity, because absolutely nothing is greater than the infinite. If God were to produce an infinite effect, then nothing would be greater than that effect. Therefore, God would not be greater. If part of God’s supreme nobility is that nothing can be equal to him, then producing such an effect is contrary to the nobility of divine power”[11].
Bonaventura membedakan antara infinitum yang potensial dan yang aktual (scilicet in potentia et in actu). Baginya, Allah menjadikan yang pertama, bukan yang kedua. Mengatakan bahwa Allah mencipatakan infinitum nyata/aktual adalah absurd, sebab menimbulkan kontradiksi baik bagi Allah maupun ciptaan: “impossibile simpliciter, quoniam implicat in se contradictionem”[12]. Begini tesis Bonaventura:
“God cannot produce an actual infinite, because that would be inconsistent with the nature of God and the nature of creature. It would be inconsistent with the nature of God: Since God is good in the highest degree; he cannot produce anything unless it is good. Consequently, he cannot produce anything unless it is ordered to him-self. [….] it is necessary that God produces all thing with ‘number, weight and measure’ (Wis 11: 21). God is not able to do otherwise, nor is he able to produce something actually infinite, or an actually infinite number of things. There is also a reason why this would be completely inconsistent with the nature of a creature. For the actually infinite must be pure act; otherwise, if it had any limit or constraint it would be finite. But what is pure act is essentially its own being (suum esse per essentiam), and this kind of thing does not receive its being from some other essence or from nothing. Therefore, if a creature, considered as creature, is from elsewhere (aliunde est), and is from nothing, in no way can it be pure act, and in no way can it be infinite”[13].
Dalam Komentar terhadap Buku Kedua Sentences, bertentangan dengan pandangan para Aristotelian tentang kekekalan dunia, Bonaventura membela Credo yang mengajarkan bahwa dunia ini dijadikan oleh Allah. Ia berpandangan bahwa hanya Allah yang kekal; Dialah satu-satunya wujud tidak terhingga yang real (actual infinite). Tidak ada ciptaan yang bersifat tidak terbatas. Mengatakan bahwa ciptaan itu kekal adalah sebuah kontradiksi bagi eksistensi ciptaan itu sendiri. Seandainya Allah menjadikan sesuatu yang kekal di luar diri-Nya, kemahakuasaan Allah sendiri justru dipertanyakan: Adakah sesuatu yang kekal selain Allah?[14].
Keyakinan biblis-teologis Bonaventura tentang adanya penciptaan, jadi bahwa bumi ini ada karena dikehendaki sang Pencipta, mengandung konsekuensi teologis yang mendasar, yaitu bahwa Allah tidak hanya menjadikan dunia, tetapi juga menyempurnakannya.
Penolakannya terhadap argumen kekekalan dunia merupakan sebuah antisipasi terhadap tendensi meterialistis, yaitu memperlakukan alam sebagai sasaran kuasa, tanpa merawatnya sebagai rumah bersama. Sejak munculnya set theory oleh matematikawan Jerman, Giorg Cantor (1845-1918), kritik terhadap konsep infinitum real menjadi polemik hangat di antara para ilmuwan[15].
Catatan kaki:
[1] Richard Dales, Medieval Discussions of the Eternity of the World, E. J. Brill, Leiden, 1990, hlm. 1: “In the 1270s impassioned debates among philosophers, theologians, and clerical administrators at the University of Paris centered principally around three issues: the unity of the active intellect, the animation of the heavens, and the eternity of the world. The only one of these which still seems important today, and the only one which has not become irrelevant because of a change in the world view, is the eternity of the world”.
[2] De Potentia, q. 3, a. 14. resp. ad obiecta; Lihat S. Tommaso D’Aquino, La potenza divina (a cura di Battista Mondin), Studio Domenicano, Bologna, 2003, hlm. 395)
[3] Quodlibet 12, q. 2. a. 2 [3]. S. Tomasso D’Aquino, Le questioni disputate. Questioni su argomenti vari (questiones quodlibetales). Secondo tomo: Quodlibet 1-6 e 12, traduzione, a cura di P. Roberto Coggi, Studio Domenicano, Bologna, 2003, hlm. 687-688.
[4] John F. Wippel, “Aquinas on Creation and Preambles of Faith”, dalam The Thomist, 78 (2014), hlm. 9-10; Bdk. Steven Baldnerd, “Albertus Magnus on Creation: Why Philosophically is Inadequate”, dalam American Catholic Philosophical Quarterly (ACPQ), 1 (2014), hlm. 75.
[5] Sancti Thomae de Aquino, Opera Omnia, De aeternitate mundi, Editori di San Tommaso, Santa Sabina – Roma, 1976, p. 89; lihat M. D. Walz, “Theological and Philosophical Dependencies in St. Bonaventure’s Argument Against an Eternal World and a Brief Thomistic Reply”, dalam ACPQ, 72 (1998), hlm. 94-95).
[6] Bdk. M. D. Walz, “Theological and Philosophical Dependencies in St. Bonaventure’s Argument Against an Eternal World and a Brief Thomistic Reply”, 95.
[7] Lihat Walz, “Bonaventure’s Argument”, 94. Bdk. Gishalberti, “La controversia scolastica sulla creazione ab aeterno”, 227. Gishalberti, “La creazione nella filosofia di S. Tommaso d’Aquino”, dalam Rivista di Filosofia Neo-Scolastica (disingkat RFNS), 61 (1969), hlm. 203.
[8] Bdk. J. Mcginnis, “The Eternity of the World: Proofs and Problems in Aristotle, Avicenna, and Aquinas”, in ACPQ, 88 (2014), p. 281; A. Maurer, Medieval Philosophy. An introduction (edited by E. Gilson), Pontifical Institute PIMS, Toronto, 1982, p.173-175.
[9] Bdk. Bianchi dalam penganar terjemahan karya Boezio di Dacia, Sull’eternità del Mondo (traduzione e note di L. Bianchi), Uicopli, Milano, 2003, 19-20; Bianchi, L’errore di Aristotele. La polemica contro l’eternità del mondo nel XIII secolo, La Nuova Italia, Firenze, 1984, hlm. 121.
[10] Sent. 2, d. 1. q. 1, a. 5, sol. (Dales, Medieval Discussions of the Eternity of the World, 99).
[11] I Sent., d. 43., a. u, q. 3. concl. (I, 771b).
[12] I Sent., d. 43., a. u., q. 3. concl. (I, 778).
[13] Houser and Noone, Commentary on the Sentences, 263.
[14] Bdk. II Sent., d. 1. p.1. a. 1. q. 2., resp. (II, 22ab).
[15] Bdk. William L. Craig, The Kālam cosmological argument, WIPF & STOCK, Eugene, 2000.