Pada umumnya kata ‘karunia’ dimengerti sebagai suatu pemberian cuma-cuma atau gratis. Kata lain dari kata ‘karunia’ ialah kata rahmat, anugerah, pemberian. Variasi kata tersebut mengacu pada makna utamanya, yaitu belas kasih dan kerahiman Allah. Ketika umat Israel berada dalam situasi yang memilukan karena dosa mereka sendiri, Allah tetap menaruh belas kasih dan kerahiman bagi mereka. Dalam Perjanjian Baru, kasih Allah terungkap dalam diri dan hidup Kristus.
Logika karunia dapat kita rasakan dari pengalaman. Seorang pendonor darah dengan rela memberikan darahnya kepada orang yang sakit atau membutuhkan darah. Pihak yang sakit atau penerima darah membutuhkan darah agar ia tetap hidup. Ketika kita mengalami kesulitan secara ekonomi misalnya, kita membutuhkan donatur, yaitu sesama yang menyumbangkan uang atau materi agar kita dapat bertahan hidup. Pendonor memberi dengan senang hati, sebaliknya penerima donor adalah orang yang menerima donasi sebagai pemberian atau hadiah. Ketika sebuah donasi itu begitu berharga bagi kita, kita merasa berhutang kepada donatur, sehingga kita merasa bukan hanya berhutang materi tetapi juga berhutang budi kepadanya. Kita tak mampu membalasnya.
Contoh-contoh tersebut hendak mengatakan bahwa dalam logika ‘karunia’, pihak donatur tidak menuntut jasa apapun dari penerima, tidak juga meminta balasan, karena pemberian itu dilakukan dengan bebas, semata-mata demi kebaikan pihak yang menerimanya. Ciri tindakan memberi seperti ini, dalam arti kata yang sesungguhnya hanya datang dari Allah. Karunia yang diberikan Allah kepada manusia ialah Roh Kudus. Ketika mengajar para murid-Nya berdoa, Yesus meyakinkan mereka bahwa Bapa di Surga tidak hanya menganugerahkan rejeki sehari-hari yang dimohon umat-Nya: Bapa akan “memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk 11: 13). Penginjil Yohanes merefleksikan bahwa Roh Kudus itu akan menyertai para murid untuk selama-lamanya. Dialah Roh kebenaran. Roh Kudus yang akan diutus Yesus bertindak sebagai pengajar, penghibur, penolong, dan pemimpin (bdk.Yoh 14: 16-17, 26; 16: 7, 13).
“Karunia merupakan ciri hakiki dari Roh Kudus” (Melone, Donum in quo omnia alia dona donantur, 52, 66). Roh Kudus merupakan anugerah paling luhur (primum donum); dan karena itu merupakan karunia kekal, model dari segala karunia. Ciri-ciri tersebut memperlihatkan bahwa Roh Kudus merupakan anugerah Allah yang tak terbalaskan (datio irredibilis). “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?” (1Kor 4: 7), demikian pertanyaan Paulus. Rupa-rupa karunia yang diterima manusia bersumber dari dan disempurnakan berkat daya Roh Kudus. Anugerah Roh merupakan rahmat pengudus yang mengantar manusia untuk mengambil bagian dalam kesatuan dengan sang Khalik Melone, Donum in quo omnia alia dona donantur, 68-70).
Menurut Santo Bonaventura, dari Roh Kudus terpancar tiga kualitas: kemurahan hati, keluhuran pribadi ilahi, dan kebebasan. Roh mengalirkan kemurahan hati tertinggi, sebab Ia datang sebagai karunia dan bukan hasil jasa manusia. Roh merupakan keluhuran tertinggi, sebab memancarkan karunia yang tiada bandingnya. Roh juga membawa kebebasan: Kebenaran yang diajarkan itu begitu kaya sehingga berdaya membebaskan orang dari kemiskinan rohani (Serm. 25, 1-2 (IX, 309).
Kualitas kemurahan hati dipancarkan Allah untuk menyembuhkan manusia, baik secara jasmani maupun rohani. Sebagai Pribadi Ilahi, Roh Kudus memenuhi jiwa manusia yang haus akan kebenaran; artinya Roh kebenaran tidak hanya berupa gagasan abstrak, melainkan pribadi konkret. Sebagai Pengajar, Roh mewariskan kebijaksanaan yang memenuhi hati para murid seingga mereka memiliki dalam diri karisma dan keutamaan untuk berani menjadi saksi kebangkitan Kristus (Serm. 25, 1-2 (IX, 310).
Karena keluhurannya yang tertinggi dalam kualitas-kualitas tersebut, Roh Kudus pantas dipuji (admirabilis), disembah (venerabilis), dan didambakan (desiderabilis). Ia adalah satu-satunya sumber kekal (uno fonte aeterno) yang mengalirkan aneka rahmat, karunia dan kebahagiaan. Karunia Roh itu begitu luhur sehingga merupakan pemberian gratis Allah kepada manusia. Bonaventura menggambarkan bahwa karunia Roh itu ‘lebih manis dari madu’. Kemanisan itu meresapi segenap ciptaan. Jika dikatakan bahwa Roh itu mengajarkan kebenaran, ajaran-Nya itu meresapi jiwa manusia sehingga mereka diliputi kemanisan, maksudnya penghiburan dan sukacita (Serm. 25, 6. 8-10 (IX, 310-311).
Dalam Khotbah pada hari Pentakosta, dengan variasi lain, Bonaventura menekankan tigas kualitas Roh Kudus, yaitu sebagai kebenaran tertinggi (summa veritas), kemurahan hati tertinggi (summa caritas), dan kuasa tertinggi (summa potestas). Sebagai sumber kebenaran, Roh memancarkan terang kebenaran yang tak terbantahkan (infallibilis veritas) yang menerangi akal budi manusia. Sebagai satu-satunya sumber belas kasih, Ia meresapi hati manusia dengan kasih agar mereka selalu mendambakan Allah. Akhirnya oleh daya kuasa-Nya Ia meresapi manusia dengan kekuatan yang memampukannya untuk bertekun dalam iman. Tiga kualitas ini paralel dengan tiga kemampuan utama manusia yaitu berpikir, menghendaki dan mengasihi (Serm. 27, 1-6 (IX, 330-331).
Roh Kudus sebagai Kasih Karunia
Terinspirasi oleh Santo Paulus, Bonaventura menegaskan bahwa bobot dari karunia Roh ialah kasih. Rasul Paulus menyejajarkan kata ‘karunia’ dengan ‘kasih’, sehingga menjadi kasih karunia (bdk. Ef 2: 4-7; Tit 2: 11). Pemaknaan seperti itu ditempatkannya dalam konteks pemahaman akan karunia rahmat yang terpenuhi dalam diri Yesus; dan hakikat rahmat dimengerti sebagai hadiah gratis kasih Allah (donum gratis datum).
Bonaventura mengidentikkan Roh sebagai karunia rahmat (gratia spiritus sancti). Roh Kudus itu identik dengan rahmat ilahi; kedunya dianugerahi dan diresapi “langsung oleh Allah”. Oleh kerana itu, Bagi Bonaventura, penerimaan karunia Roh Kudus terjadi “bersama dan di dalam rahmat”. Roh Kudus pada dirinya adalah karunia sempurna. Ia merupakan pangkal kebaikan yang mengalir dari Allah Bapa, sumber segala terang, yang nyata dalam Inkarnasi Sabda. Rahmat Roh Kudus itu berperan “memurnikan, menerangi dan membersihkan jiwa manusia; menghidupkan, membarui dan menguatkannya; mengangkat dan menjadikannya serupa dengan Allah, dan karena itu dapat diterima oleh-Nya”. Dalam peran seperti itu, karunia rahmat membawa sukacita (gratia gratum faciens), yaitu kesatuan kekal dengan Allah. Begitu luhur peran rahmat Roh Kudus, maka Bonaventura meyakini bahwa “barang siapa memiliki Roh berarti memiliki Allah” [Brevil., p. V, cap. I, 4 (V, 253)].
Bagaimana karunia itu diberikan oleh Allah? Allah memberinya dengan bebas. Roh Kudus mengalir dari Allah dari kehendak bebas Allah. Sebuah pemberian yang diberikan dengan bebas itu tidak lain berarti kasih. Bonaventura menekankan bahwa Roh Kudus datang dari Bapa dan Putra per modum amoris, artinya terdorong oleh kasih. Roh Kudus merupakan ungkapan dari kehendak bebas Allah untuk mengasihi manusia. Kasih Allah itu bersifat cuma-cuma. Karena itu Roh merupakan pancaran kemurahan hati Allah kepada ciptaan (Melone, Donum in quo omnia alia dona donantur, 63)
Roh Kudus: Penyatu Kasih Bapa dan Putra
Dalam konteks teologi Allah Trinitas, dapat dikatakan bahwa dalam diri Kristus, komunikasi kasih Bapa terungkap secara sempurna. Karena bersifat sempurna, antara Bapa dan Putra tidak ada kecemburuan, melainkan melulu kasih tanpa pamrih (amor caritatis, charity-love). Kasih tanpa pamrih itulah buah dari daya Roh. Dengan kata lain, Roh merupakan prinsip yang menjiwai kasih Bapa dan Putra.
Kasih Bapa merupakan kasih yang sempurna. Dan kasih tersebut diterima oleh Putra. Putra tidak menjadikan kasih itu miliknya sendiri, namun diberikannya kepada dunia, bahkan dengan cara paling radikal, yaitu dengan menderita dan wafat di salib. Roh diberikan kepada manusia secara terus-menerus. Roh merupakan anugerah ilahi, dan kerana itu bersifat kekal pula. Kasih Allah tidak berkesudahan. Dan dari kasih lah mengalir karunia-karunia lain. Kepada manusia Roh menyatakan diri sebagai karunia asali dan tak tergantikan (irredibilis). Tegasnya, Roh adalah diri Allah. Dalam bimbingan Roh Kudus pula manusia berziarah menuju kehidupan abadi.
Terimakasih utk tulisan special ini…
Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum!
Terima kasih Romo tulisan Roh Kudus menjelang hari Pentakosta.
Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum!
Terimakasih atas pencerahannya.Roh Kudus penuh kasih yang tak terbatas bagi manusia.
Terima kasih Sr telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum!
Terima kasih pater, Luar biasa Ulasan yang sangat menarik,***Penjelasan dengan memberi Contoh kongkrit yang menarik pula,membuat para Pembaca Penasaran . Dan pastinya rindu menunggu tulisan berikutnya..*** Sangat berguna untuk KATEKESE UMAT… (Salam & Doa untuk ama romo…Semoga selalu diberikan rahmat Kesehatan )
Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum! ?
Pater Andre,ofm terima kasih untuk tulisan ini yg membuat kami semakin mengetahui,memahami tentang karunia Roh Kudus yg mengalir dalam hidup manusia
Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum!
Dalam bimbingan Roh Kudus kita berziarah…Gracias Padre
Terima kasih pater..atas sharingnya ttg Roh Kudus..buat saya sangat menambah pengertian dan pemahaman ttg Roh Kudus
Terima Kasih Pater. Izin copy ya.