“Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk 1: 10-11).
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28: 19).
“Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu” (1 Yoh 5: 7-8).
“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai’. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh 19: 30).
“Tinggal dan menetap dalam satu sama lain dalam Tiga Pribadi berarti: mereka tidak terpisahkan dan tidak akan terpisah satu dari yang lain dan di antara mereka terjadi sebuah interpenetrasi tanpa saling tercampur, sedemikian rupa sehingga yang terjadi bukan kombinasi atau campuran, melainkan bersekutu satu sama lin. Putra berada dalam Bapa dan Roh Kudus, Roh Kudus dalam Bapa dan Putra, Bapa dalam Putra dan Roh Kudus, sedemikian rupa sehingga tidak terjadi peleburan atau percampuran atau pembauran. Gerakannya hanya satu dan sama, sebab laju dan gerakan ketiga Pribadi adalah satu, hal mana tentu tidak dapat ditemukan pada wujud ciptaan” (Yohanes Damaskus, De Fide Orthodoxa I, 14).
“Mereka yang […] membawa Roh Tuhan dalam dirinya akan diantar menuju Sabda, yaitu Putra, dan Putra menerima mereka dan membawanya kepada Bapa, agar Bapa menyucikan mereka. Karena itu, tanpa Roh Kudus, orang tidak diperkenankan melihat Sabda Tuhan, dan demikian pula tanpa Putra, tak seorangpun dapat mendekati Bapa. Demikianlah pengenalan akan Putra Allah terwujud dalam Roh Kudus” (Ireneus dari Lyon, Demonstratio apostolica, 5).
“Baru saja aku mulai mengontemplasikan Kesatuan, Trinitas menaungi aku dengan kemegahannya. Baru saja aku mulai mengontemplasikan Trinitas, Kesatuan melingkupi aku. Ketika salah satu dari Trinitas tampak padaku, aku memikirkan semuanya, semakin mataku memandangnya dengan utuh, semakin ia luput dari pandanganku. Pikiranku sungguh terbatas untuk memahami hanya Satu, sehingga tak ada lagi ruang di dalamnya. Ketika aku menggabungkan Ketiganya dalam pikiran, aku melihat hanya nyala api tunggal, dan akupun tak sanggup memahami Cahaya yang Tunggal itu” (Athanasius, In Sanctum baptisma, 41).
“Pandanglah penyebaran kemuliaan dalam satu gerakan: Putra dimuliakan oleh Roh; Bapa dimuliakan oleh Putra. Demikian sebaliknya Putra mendapat kemuliaan-Nya dari Bapa dan Putra menjadi kemuliaan bagi Roh. Dalam hal apa Bapa dimuliakan kalau bukan dalam Anak? Dan, dalam siapakah Putra dimuliakan kalau bukan dalam Roh? Dalam gerak berpaduan ini, terjalin kemuliaan bagi Putra melalui Roh dan bagi Bapa melalui Putra” (Gregorius dari Nyssa, Adversus Macedonianos, De Spirito Sancto, GNO/ I, 109, 7-15).
[RR ‘Andreas Fey’, Malang 15/8/19]
Sebagai suatu Iman Trinitas sudah tidak diragukan lagi, yg menjadi penting dan utama, kita refleksikan, bagaimana iman Trinitas, dalam praksis kehidupan di dunia, bagaimana konsistensi iman kita, terhadap riuhnya kehidupan yg tak bertepi, bagi klerus sudah terdapat keteraturan hidup, yg dikondisikan, bagi kaum awam bisakah demikian? Karena dunia ini secara tidak sadar menuju pada penghambaan materi, apresiasi tinggi pada kemudahan dan kenikmatan, sehingga lupa semua itu harta yg akan musnah, kita semua lupa bahwa terdapat harta surgawi yg pelu kita cari dan perhatikan
Terima kasih refleksinya. Semoga orang Kristen semakin dipengaruhi Kristus, bijaksana menghadapi tantangan..
Bagus dan menarik sekaligus rapi tatanan bahasa yang mudah dimengerti, ditangkap oleh nalar karena sederhana cara penyampaiannya. Be gitu lah Roh Kudus mengilhami romo Andre until menuliskan prinsip Tritunggal.
Trinitas kedua adalah cara filsafati menjabarkannya. Bagus, cara yang actually until menggambarkan persekutuan ketiga nya.
Ma’af ini saya jadikan panutan ajaran Trinitas saya selanjutnya.
Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum.
Terima kasih Pater