Kesaksian Jean Vanier (1928-2019) dalam A Cry Is Heard. My Path to Peace (2018) menyiratkan sebuah seruan yang kuat: disabilitas bukan hanya masalah manusia. Bumi yang kita huni ini telah menjadi sebuah planet yang disable: Ia menjerit namun tidak terdengar. Manusia sibuk dengan dirinya. Ibarat seorang disable, dalam diamnya bumi berharap pada manusia.
Semua manusia memiliki disabilitas. Jean Vanier mendirikan dan melayani komunintas L’Arche, rumah bagi disabilitas intelektual dengan sebuah kesadaran batin yang mendalam: semua manusia memiliki bentuk disabilitas tertentu dalam dirinya: “Kita semua terlahir dengan kelemahan yang ekstrim. Kita akan mati dengan kelemahan yang ekstrim” (75-6). Setiap manusia dalah person. Sebagai person, ia adalah misteri dari Tuhan; ia menantikan Tuhan dengan sejuta kelemahannya. Misteri person ialah perjumpaan dengan orang lain (111).
Berada bersama para penyandang disabilitas, bagi Vanier, ‘menyembuhkan setiap orang, baik disabilitas maupun mereka yang menolong. Setiap orang dibarui’ (61). “Selama hidup saya, orang-orang disabilitas intelektual lah yang telah perlahan-lahan mengubah saya, membebaskan saya dari ketakutan-ketakutan saya, menyingkap kemanusiaanku sendiri … Bersama mereka saya perlahan-lahan belajar membebaskan diri, merendahkan diri, menerima kelemahanku…” (6-7), demikian kesaksian Vanier di halaman-halaman awal bukunya.
Sentuhan mengalahkan Kesepian. Bagi Vanier, memberikan sentuhan pada tubuh para penyandang disabilitas secara lembut dan perlahan termasuk terapi. Itulah yang ia lakukan ketika menemani Erik yang buta, tuli, dan kesulitan menggerakkan anggota tubuh. “Saya menemukan tingkatan lain dari relasi, khususnya pada tubuh. Yang ingin dirasakan Erik ialah perasaan bahwa ia menjadi bagian dari kelompok, komunitas, sebuah keluarga. Kami menolong dia untuk menjauh dari kesendirian dan kondisi tidak sadar, membantu dia sadar bahwa ia penting bagi kami. Perlahan-lahan Erik mengerti bahwa ia adalah seseorang. Ia menjadi lebih tenang. Kami lalu mengerti bahwa kakinya perlu dioperasi. Akhirnya ia mulai berjalan” (69).
Perjumpaan. Setelah puluhan tahun melayani para disabilitas, Filsuf Prancis ini menemukan bahwa mereka adalah guru baginya. Mereka yang telah mengubah hidupnya. Mengapa ia meyakini demikian? “Alasannya sederhana. Tangisan mereka lahir dari hasrat yang otentik untuk masuk dalam relasi, dan itu bukan sebuah keinginan individu untuk berhasil, untuk mobilitas sosial. Mereka tidak pernah berniat merebut sesuatu… kehadiran mereka perlahan-lahan membuka batas-batas yang telah kita bangun untuk menutupi keringkihan dan kelemahan kita dan memperkuat perasaan berkuasa. Ini membawa kita kepada perjumpaan yang benar, bebas dari hati ke hati yang khas….. Mereka mereka menyembuhkan insting superioritas budaya. Mereka membantu kita masuk dalam hal paling esensial dalam hidup” (74-75).
Ruang Kosong Relasi. Tahun 1973 komunitas L’Arche, menerima Pauline, 40 tahun. Ia terlahir sebagai disabel pada lengan dan kaki. Ia juga menderita epilepsi. Ia bersikap bersikap kasar, sehingga ditakuti. Komunitas mulai mengerti bahwa prilakunya merupakan ekspresi tekanan yang dialami selama hidup. Kebutuhan akan relasi belum tidak terpenuhi. Banyak orang membully dia, ada yang berkata kepadanya: ‘ideot’! Mereka menjauh dari dia. Di sekolah, di jalan, di lingkungan sosial, ia tersingkir selama 40 tahun. Psikater komunitas L’Arche, Ero Franko mengobservasi dan mengatakan bahwa sikap Pauline yang kasar adalah sebuah terikan dari dalam hati: “Adakah seseorang mau menjadi temanku?” (77).
Sikap memberontak pada seorang penyandang disabilitas menyampaikan pesan bahwa relasi merupakan ruang terdalam pada manusia. Ketika ruang itu tertutup, maka manusia menjadi terasing. Sebab ia pada hakikatnya adalah relasional. Sekarang ini terjadi krisis kemanusiaan, karena relasi tak lagi tulus. Dari para disable, kita belajar tentang makna asli relasi.
Dari kemurahan hati menuju Perjumpaan. Yang dibutuhkan seorang penyandang disable dari para pendamping bukan hanya kemurahan hati, melainkan juga perjumpaan yang tulus. Dan yang dibutuhkan dalam perjumpaan itu ialah kesediaan untuk mendengar. Mendengar menjadi bentuk otoritas (outhority through listening) dari para pendamping kaum disabilitas.
Vainier menggambarkan bahwa dalam komunitas disabilitas, bahasa tubuh seorang disable kepada pendamping atau volunteer kadang-kadang menyiratkan pesan bahwa ‘kamu tidak pernah mau berjumpa dengan aku, kamu hanya selalu ingin agar aku segera berubah’. Sebuah kisah mengesankan dari Vanier ini yang kiranya memberi pesan bagi para pendamping atau volunteer:
“Saya mengenal seorang pemuda, terlahir dalam keluarga sempurna. Sebagai mahasiswa ia adalah seorang yang cemerlang, kebanggaan orangtua. Setelah lulus kuliah ia sukses meniti karier, mendapat promosi demi promosi jabatan. Di mata dunia ia adalah pria ideal. Di tengah kesibukannya ia masih meluangkan waktu dan tenaga membantu orang-orang yang berkekurangan. Ia bagus dalam segala hal, keculai satu hal: ia tidak mampu mendengar dan berjumpa (encounter) dengan mereka yang tertekan, sulit masuk dalam relasi dengan mereka. Ia terlalu fokus pada pada dirinya, pada kemampuannya, sehingga tidak terbuka bagi mereka yang lemah. Situasi berubah karena adik perempuannya menderita sakit mental. Menghadapi kenyataan situasi adiknya, ia kehilangan pijakan. Ia merasa kewalahan. Ia harus menerima kerapuhannya dengan rendah hati. Ia harus belajar meminta tolong. Pada akhirnya, saudarinya lah yang menolongnya masuk ke inti terdalam kemanusiaannya, dalam ruang perjumpaan yang benar. Ia dibarui oleh hadiah hidup dan kasih saudarinya” (83).