Yesus sedang melintasi Yerikho. Di sana Ia bertemu dengan seorang pendosa besar, pendosa publik. Nama dan peran si pendosa itu disebut dengan persis: Zakheus kepala pemungut cukai yang amat kaya’. Nama ‘Zakheus’, bentuk pendek dari ‘Zakharia’, yang berarti ‘yang murni dan saleh’, karena itu diingat Tuhan.
Zakheus ingin melihat Yesus, meskipun terhalang oleh perawakannya yang pendek dan kerumunan orang. Iapun berlari mendahului orang lain, memanjat pohon untuk melihat siapa Yesus itu. Lebih dari masalah tubuh yang pendek, ia merasa tidak layak memandang wajah Yesus. Ia hanya ingin memandang Tuhan dari atas pohon.
Namun apa yang terjadi? Yesus justru memanggilnya, bahkan mau menumpang di rumahnya: “Zakheus turunlah, hari ini Aku harus menumpang di rumahmu”. Tuhan tahu siapa orang ini, apa yang ia kerjakannya, sehingga dipandang sebagai pendosa. Namun Ia menghargainya. Ia memanggilnya dengan nama. Tuhan melihatnya sebagai anak Abraham.
‘Aku harus menumpang’: Yesuslah yang berinisiatif mendatangi rumah Zakheus. Kata ‘harus’ menunjukkan kemendesakkan. Adalah hal yang mendesak, bahwa sukacita keselamatan menjadi nyata bagi manusia; bahwa Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Yesus merasa ‘wajib’ menumpang di rumah Zakheus.
Inisiatif Allah inilah yang mengubah Hidup Zakheus: Zakheus yang semula merasa tidak pantas memandang Yesus, sekarang menyambut-Nya dengan sukacita. Rasa sukacita atas pengampunan lebih besar dari pada rasa tidak pantas memandang Yesus: “Tuhan separuh dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat”.
Sabda Tuhan ini menyampaikan pesan penting bagi kita: Pengampunan dari Allah bukan berarti Ia seolah-olah tidak peduli terhadap dosa dan kejahatan. Pengampunan berarti mengubah hidup, transformasi, balik arah. Yang dilakukan Yesus kepada Zakheus ialah mengubah hidupnya, menjadikan dia ciptaan baru.
Apakah pendosa besar seperti Zakheus dapat bertobat secara radikal, menjadi manusia baru dan menyumbangkan kekayaannya untuk banyak orang? Apakah kita percaya bahwa ada pengampunan bagi pendosa besar seperti ini?
Jika kita tidak percaya pada kemungkinan itu sama artinya kita tidak percaya pada warta Injil. Sebab inti dari kabar gembira yang Injil ialah kemungkinan sebuah pembaruan.
Tegasnya: mungkin bahwa Yesus Penyelamat masuk dalam rumah pendosa dan mengubah hidupnya; adalah mungkin seorang kaya raya yang telah berlaku tidak adil mengubah hidupnya menjadi seorang penderma yang murah hati; adalah mungkin bahwa orang yang merasa tidak layak memandang wajah Allah akhirnya dapat menyambut-Nya dengan sukacita.
Ketika seseorang mengalami perjumpaan pribadi dengan kasih Allah, hidupnya sungguh berubah. Tuhan mengubah hati manusia manjadi hati yang baru. Inilah misteri kerahiman Allah. Kuasa Tuhan terwujud secara khusus dalam kuasa mengampuni. Manusia hanyalah sebutir debu di hadapan Tuhan, namun Ia menyayanginya. Tuhan sabar mendidik manusia agar Ia menjauhi kejahatan dan berbalik kepada Allah.
“Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu”, kata Yesus kepada Zakheus. Hari ini, saat ini ketika kita membaca dan mendengarkan Sabda Tuhan ini, mendengar dan menyambutnya dengan sukacita, sesungguhnya Tuhan sedang mengetuk hati Anda, mau tinggal di hati kita.
Jika saat ini Anda mau melihat Tuhan, tetapi seperti Zakheus: hanya ingin melihat wajah-Nya dari kejauhan, karena merasa tidak layak, lihatlah bahwa Tuhan menawarkan sukacita yang lebih besar kepadamu: “Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu”.
Mantap Pater
Mauliate Sr.