Gambaran orang mengenai ciri Mesias bisa berbeda-beda. Renungan lalu memberi kesan kuat bahwa Yohanes Pembaptis termasuk orang yang menampilkan Mesias sebagai sosok hakim yang akan membenahi segala yang tidak beres; figur Ilahi yang dengan tegas menyuarakan keadilan dan kebenaran.
Karena itu ketika membaptis, Yohanes mengecam orang Farisi dan orang Saduki sebagai ular beludak yang tidak dapat melarikan diri dari murka Allah. Ia juga mengidentikkan orang berdosa dengan pohon yang tidak menghasilkan buah baik sehingga pantas ditebang dan dibuang ke dalam api.
Meski demikian, dari dalam penjara ia mendengar tentang karya pelayanan Yesus yang ternyata tidak terlalu cocok dengan sosok Mesias yang diharapkannya itu. Ternyata Yesus tampil bukan sebagai hakim yang tangguh, melainkan yang bersikap lemah lembut, murah hati terhadap kaum miskin dan para penderita.
Karena ragu-ragu Yohanes menyuruh murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang atau haruskah kami menantikan orang lain”?
Menarik bahwa Yesus tidak langsung menjawab “ya” atau “tidak”. Ia hanya menunjuk pada kenyataan bahwa orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan.
Yesus juga memberi kesaksian bahwa karya-Nya menyangkut pemberitaan Kabar Baik (Injil) kepada orang miskin. Tidak hanya itu; Ia pun menjanjikan kebahagiaan bagi murid yang setia: “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku”.
Dengan kata lain, murid-murid Yohanes (dan Yohanes sendiri) secara halus diminta oleh Yesus untuk membaca tanda-tanda tersebut, lalu menyimpulkan sendiri siapakah Yesus, dan Mesias seperti apakah Dia?
Yesus memperlihatkan sosok Mesias yang berbelaskasih, yang mewujudkan karya penyelamatan dengan mengunggulkan pengampunan di atas penghakiman. Yesus juga adalah Mesias yang berkarya di tengah-tengah orang-orang yang rendah hati, yang sungguh-sungguh hanya mengandalkan Tuhan.
Apakah Yohanes tidak penting? Ia tetap penting! Ia Nabi istimewa, bahkan lebih dari seorang nabi. Dialah yang telah menyiapkan jalan bagi Mesias. Tetapi perannya sebagai pendahulu itu sekarang telah dipenuhi oleh warta Kerajaan Allah melalui ‘peristiwa Yesus’ .
Yesus sendiri sebagai kepenuhan warta Kerajaan Allah kini telah datang. Di hadapan Yesus semua manusia, termasuk Yohanes, semakin kecil. Yohanes sendiri telah bersaksi: “Ia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”.
Pesan Injil: Pertama, mari kita belajar dari kemantapan iman Yohenes. Kemantapan itu oleh Yesus dipertentangkan dengan buluh yang digoyangkan angin sebagai lambang ketidakstabilan (labil) atau suka ikut arus.
Dikatakan labil, karena ada orang yang beriman menurut arus perasaan: yang penting rasa puas dan senang. Kemantapan Yohanes dipertentangkan juga dengan pakaian halus dan indah sebagai lambang kemapanan dan kenyamanan yang fana.
Seperti Yohanes di padang gurun, marilah kita pandang zaman sekarang ini sebagai semacam padang gurun, di mana orang harus menentukan apa yang paling esensial untuk menumbuhkan imannya akan Yesus Kristus.
Bagaimana kita tahu apa yang utama dalam padang gurun zaman ini? Rambun-rambunya talah diperlihatkan dalam nubuat Yesaya dan pekerjaan Yesus sendiri: pengampunan, pembebasan, dan solidaritas dengan sesama.
Seperti murid-murid Yohanes dan banyak orang yang mendengarkan Yesus, kita juga perlu memahami ciri kemesiasan Yesus agar dapat memberi kesaksian yang cocok dengan kemesiasan Yesus itu: lemah lembut dan berbelas kasih.
Tetapi untuk itu, poin kedua yang penting ialah bahwa kita sendiri harus terlebihdahulu mengoreksi konsep dan kesaksian hidup lama – dalam keluarga, komunitas, paraoki – yang mungkin lebih mencerminkan Mesias yang suka menghukum, yang kurang sabar, yang gemar dengan kekuasaan.
Ketiga, harapan dalam kesulitan hidup. Ketika mengalami kesepian seperti pengalaman Yohanes dalam penjara, kita tidak putus asa, melainkan tetap memupuk harapan dan kegembiraan, tetap membela yang baik dan benar, karena percaya akan janji Yesus ini: “berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku”.
Terimakasih Padre untuk bahan refleksi pribadi saya
Pax te cum Pater!
Terima kasih ama pater telah menyuguhkan Santapan Sabda yang meneguhkan.__Sebagai murid Yesu ( lemah lembut dan belas kasih.__Berusaha untu memperbahaui diri
__Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Yesus***(Salam & Doa..semoga ama pater sehat selalu dan terus berkarya).