Apa yang terjadi kita berbicara? Kita mengeluarkan suara melalui mulut kita dalam bentuk ucapan tertentu. Suara yang keluar oleh getaran pita suara dan gerakan lidah itu, bermula dari kerja otak yang memungkinkan kita berpikir. Hasil pikiran itu terungkap lewat rangkaian kata-kata.
Buah pikiran itu tidak berwujud benda atau materi, melainkan ide abstrak. Saya dapat memberikan pemikiran atau gagasanku kepada orang lain, tetapi ide itu sendiri tidak berpindah dari saya. Ide atau gagasan tetap menjadi milik subjek yang berpikir. Ini sama halnya dengan karya seni. Ide seni tetap tinggal dalam diri sang seniman, miliknya, sekali pun sudah terungkap dalam bentuk karya yang nyata. Dapat dikatakan bahwa pemikiran itu identik dengan orang yang menghasilkannya. You are what you think, demikian sebuah ungkapan popular.
Oleh sebab itu tindakan berpikir sering dibahasakan dengan tindakan ‘melahirkan ide’, karena buah pikiran yang kita katakan itu memang lahir dari proses berpikir yang dihasilkan dari kerja akal budi kita. Filsuf Yunani Kuno Socrates dikenal dengan metode ‘seni kebidanan’ dalam berfilsafat.
Filsuf anak seorang bidan ini menempatkan diri sebagai bidan yang membantu atau mengarahkan orang untuk melahirkan idenya: Ia suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mempertanyankan lagi jawaban lawan bicaranya, sampai lawan bicara sendiri melahirkan gagasan, artinya menemukan jawaban atau mengerti tentang hal-hal yang sebelumnya tidak terserap oleh daya nalarnya.
Kata kunci dari teks Injil Yohanes 1:1-18 ialah Firman: Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Bagaimana mungkin Firman itu sama dengan Allah? Istilah Logos dalam bahasa Yunani berarti perkataan, pemikiran, rasio atau pengetahuan. Dalam teks-teks biblis dan ibadat liturgis Gereja, kata tersebut diterjemahkan menjadi Firman atau Sabda.
Allah berfirman atau berkata-kata, artinya Firman merupakan ungkapan diri Bapa. Jika Bapa itu ilahi maka Firman juga ilahi. Allah berfirman, dan Firman itu sekaligus berpredikat ilahi. Pribadi yang berfirman dan Firman itu sendiri identik. Firman yang lahir dari Bapa itu adalah satu-satunya predikat yang adekuat dari pemberi wahyu, yaitu Allah Bapa sendiri.
Berdasarkan keyakinan Kitab Suci ini, Gereja Katolik meyakini dalam rumusan iman (Credo panjang) bahwa Putra Allah lahir dari Bapa, bukan dijadikan atau diciptakan. Artinya Firman itu ungkapan jatidiri Bapa, identik dengan Bapa, satu kodrat dengan Bapa, bersifat ilahi seperti Bapa. Firman atau Putra itu bukan sebuah benda hasil buatan Bapa, melainkan gagasan ilahi yang lahir dari-Nya, sebab Bapa identik dengan pemikiran-Nya. Dengan demikian makna kata ‘lahir’ di sini berbeda dengan melahirkan dalam arti biologis.
Seorang Bapa Gereja yang berjasa membela ajaran ini ialah Yustinus Martir. Dengan latar belakang budaya Yunani, ia mengenal dengan baik konsep logos sebagai prinsip dasar alam semesta. Setelah menjadi Kristen, melalui pembacaan teks-teks alkitabiah, ia mengindentikkan logos dengan peran Sabda atau Putra.
Dalam karyanya Apologia ia memberi penekanan pada peran Logos Ilahi yang menjadi manusia, jadi bukan hanya sebagai sebuah prinsip keseimbangan dunia, seperti yang dipikirkan dalam Filsafat alam, melainkan Pribadi Ilahi. Baginya logos merupakan kebenaran universal yang dalam kekristenan diimani sebagai ungkapan diri Allah.
Berbeda dari cara pikir Yunani, Yustinus mengajarkan bahwa dalam semua realitas ciptaan terdapat benih ilahi (logos spermatikos, seed of the Logos). Benih ilahi tersebut merupakan kebenaran awal yang belum menjadi sempurna. Kebenaran awal itu baru menjadi sempurna oleh peristiwa Logos menjadi manusia, atau dalam bahasa Injil ‘Firman menjadi manusia’.
Dalam Apologia, Yustinus menulis demikian: ‘Kami memuliakan Yesus Kristus, yang bagi kami adalah Penguasa segala sesuatu, dan karena alasan itu (penciptaan dan keselamatan), telah dilahirkan, disalibkan pada pemerintahan Pontius Pilatus’ (I, 13). Ia juga menegaskan bahwa ‘sebagai Sabda Tuhan (dia logou Theou), Yesus Kristus Penyelamat kita, telah menjelma sebagai manusia’. Dan sebagai Sabda yang Sulung, ‘Ia juga Tuhan’ (I, 63).
Makasih Pater. Saya tunggu artikel selanjutnya … selamat berkarya …
Thank you so much… God bless
terima kasih ya Pater…. cocok bacaan rohani harian sekalian renungan harian. Gbu
Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum!
Terima kasih ya Pater….sebagai renungan juga menambah pengetahuan saya…terus berkarya..
Selamat Natal dan tahun baru teman..
*FIRMAN MENJADI MANUSIA* Terima kasi pater,ulasan tentang LOGOS.. Menambah wawasan (Salam & Doa sempoga ama pater sehat selalu)
Mengenal dan Memahami.
Seperti sebuah perasaan yang dituangkan menjadi sebuah puisi, entah bernada sedih, senang, rindu, bahkan mistis, tulisan itu akan menunjukkan kepada sang pembaca ataupun pendengar situasi yang dialami oleh penulis itu sendiri. Para pembaca tentunya akan dibawa ke dalam sebuah dimensi yang dimiliki oleh penulis itu sendiri, pembaca atau pendengar akan mencoba mengerti dan memahami jalan kisah penulis, dan pada akhirnya mengenal siapa dia, mengetahui apa yang dia rasakan.
Sama seperti Yesus yang hadir “dilahirkan” bukan diciptakan atau dijadikan, karena ia bagian dari “Sang Penulis itu sendiri” Logos Spermatikoi.
Bagaikan sebuah percikan, yang menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah dan sungguh Manusia.
Memang, sebuah ide yang dituangkan entah dalam bentuk tulisan ataupun bentuk yang lain, akan berdiri sendiri dan akan bermakna ketika dibaca atau dinikmati, Paul Richouer. Ketika hanya berdiri pada sebuah pengenalan dalam menikmati sebuah tulisan tentu hal ini tidak akan cukup, hal yang harus dilakukan adalah mengenal dan memahami. Dengan begitu pastinya para pembaca ataupun pendengar bisa menikmati tulisan itu dengan ide yang dilahirkan dari Sang Penulis itu sendiri.
Terima kasih.