Seperti diberitakan di vaticannews, Komisi Para Uskup Eropa (COMECE) mengemukakan pandangan mereka terhadap Uni Eropa (UE) terkait penggunaan Inteligensi Buatan (Artificial Intelligence atau AI).
Pandangan itu dikemukakan setelah UE mengeluarkan dokumen terkait penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan. Para Uskup meminta UE untuk menggunakan pendekatan human-sentris untuk AI demi mendukung kehidupan semua umat manusia, baik pribadi maupun bersama.
Manusia Berbeda dengan AI. Para Uskup menyerukan penggunaan AI yang sungguh berakar pada martabat manusia dan perlindungan privasi. Data dan algoritma adalah pendorong utama AI, tetapi manusia “menentukan dan memprogram tujuan yang harus dicapai sistem AI.”
Bagi para Uskup istilah Kecerdasan Buatan perlu diklarifikasi, sebab hal itu “jelas berbeda dari perilaku manusia.” Iman Kristen memaknai pribadi manusia sebagai “makhluk yang berbeda secara kualitatif dari makhluk lain, karena memiliki martabat transendental, cerdas, bebas, dan mampu, karenanya, melakukan tindakan moral.”
“Sistem AI tidak bebas sama seperti pribadi manusia dan, dalam hal ini, tindakannya tidak dapat dinilai berdasarkan kriteria moral yang diterapkan pada tindakan manusia,” tegas para Uskup.
Para Uskup Eropa mempertanyakan rencana pembentukan badan Uni Eropa baru untuk mengatur AI dan dunia perobotan, karena terkesan sebagai penambahan yang berlebihan.
Sekiranya badan seperti itu dibentuk, para Uskup mendorong sebuah model struktur pemerintahan yang “menjamin partisipasi para pemangku kepentingan,” termasuk Gereja, yang “memiliki status kusus sebagai mitra dalam lembaga-lembaga Uni Eropa”.
AI Melawan Pencucian Uang. Para Uskup mendukung pentingnya penggunaan AI dalam perang melawan kejahatan keuangan – terutama pencucian uang , namun menolak sistem AI untuk “kontrol sosial” dan “campur tangan yang tidak semestinya dalam organisasi Gereja dan organisasi amal.”
Bagi para Uskup, “sangat penting untuk menyeimbangkan transparansi dengan privasi dan otonomi,”. Dan dalam konteks melawan fenomena ini diperlukan peningkatan sistem AI.
Sistem Militer. Sambil menunjuk absennya pembahasan tentang AI dalam dunia militer dalam dokumen Kertas Putih yang dibuat UE, para Uskup tetap mendesak UE untuk “melarang sistem bersenjata yang sepenuhnya otonom tanpa pengawasan manusia” serta terus mengupayakan “negosiasi internasional tentang instrumen hukum yang melarang sistem otonomi penggunaan senjata mematikan.”
Keamanan Cyber. Para Uskup mempertimbangkan bahwa AI dapat meningkatkan keamanan dalam ruang digital, tetapi juga dapat membuka kerentanan baru. Mereka mencontohkan kenyataan bahwa diplomasi digital dengan AI memiliki konsekuensi luas bagi tatanan demokratis karena penyalahgunaan informasi yang tak terkendali, atau aksi luar oleh pelaku-pelaku swasta.
Sehubungan dengan ini, mereka mengusulkan pembuatan syarat wajib untuk teknologi AI berisiko yang dapat memengaruhi keselamatan publik. Diserukan pula penguatan infrastruktur krusial dalam melawan tantangan keamanan yang disebabkan oleh AI, pengawasan perusahaan swasta serta keuntungan yang diperoleh dari kontrol pengumpulan dan analisis data pribadi.
Perlindungan Anak. Dokumen COMECE juga memuat usulan terperinci terkait hak asasi, termasuk tanggung jawab, keselamatan, algoritma, perlindungan bagi anak-anak dan data pribadi. Maka para Uskup meminta pula kewajiban dari produsen untuk menyediakan fitur yang mencegah pengunggahan perangkat lunak yang berdampak pada keselamatan selama penggunaan produk AI.
Mereka juga menyerukan Perlindungan bagi anak-anak sebagai “pelaku paling rentan dalam penggunaan dan penerapan AI.” Mereka menegaskan bahwa produsen harus memiliki kewajiban eksplisit untuk mempertimbangkan kerugian non-material yang dapat disebabkan oleh produk mereka bagi anak-anak, pengguna yang rentan, dan orang lanjut usia di lingkungan perawatan.
COMECE mengatakan bahwa tentu saja data diperlukan agar AI berfungsi, namun kontrol manusia harus tetap menjadi pusat penggunaan AI demi “menegakkan standar tinggi perlindungan data.”
Pada bulan Februari 2020, COMECE berpartisipasi dalam lokakarya Algoritma yang Baik? Kecerdasan Buatan, Etika, Hukum, Kesehatan yang diadakan di Vatikan pada Sidang ke 26 Majelis Akademi Kepausan untuk Kehidupan. Pada kesempatan itu telah ditandatangani dokumen Seruan Roma untuk Etika AI – yang memuat penegasan bahwa inovasi digital dan kemajuan teknologi membantu kejeniusan manusia tetapi tidak menggantikannya.
Wowww alat seperti apa lagi itu. Sekarang aja uda sangat canggi bahkan punya hp yg bagus aja ms gaptek…..
Terima kasih Pater
Terima kasih Pater
Terima kasih Pater….. Salam dan doa, semoga Pater sehat selalu.
Saya sering merasa takut sendiri. Bagaimana algoritma menandai setiap artikel, pilihan film atau podcast pilihan saya yang terhubung dengan sistem google atau spotify. Notifikasi-notifikasi artikel, film atau podcast semacamnya akan muncul dilayar handphone memberikan tawaran untuk didengarkan atau ditonton. Tehnologi AI demikian jauh membaca otak dan kesukaan saya dengan lebih cerdas dari manusia. Padahal AI adalah ciptaan manusia sendiri tetapi rasa-rasanya saat ini malah semakin menguasai kehidupan manusia.
Tengkyu romo, saya jadi teringat kembali kengerian saya beberapa tahun terakhir ttg kemajuan pesat tehnologi AI ini.
Kita diajak untuk menggunakan teknologi AI secara bijaksana. Teknologi bukan manusia: ia buatan manusia. Teknologi tidak memiliki perasaan, emosi dan pilihan bebas; maka manusialah yang mengendalikan teknologi. Manusia membutuhkan teknologi, namun ia sesungguhnya tidak bergantung pada teknologi. Manusia bebas memutuskan dan menentukan pilihannya. Tuhan memberkati.