Agustinus Aurelius, lahir di Tagaste (kini Souk-Ahras, Aljazair) pada 13 November 354. Sulung dari tiga bersaudara ini lahir dalam sebuah keluarga kelas menengah. Dari ibunya, Monika, seorang Kristen, ia menerima pendidikan keagamaan, namun tidak dibaptis Kristen. Ayahnya, Patrisius seorang yang tidak mengenal agama Kristen (pagan).
Gejolak Masa Muda. Agustinus muda adalah pribadi yang dinamis. Ia terpikat dengan aliran manikeisme: Aliran yang didirikan oleh orang yang bernama Mani ini menekankan dualisme yang radikal; baginya kenyataan di dunia ini terbagi menjadi dua unsur yang bertentangan satu sama lain: roh dan materi, kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap.
Manikeisme ditandai permusuhan mutlak terhadap materi dan tubuh. Prinsip ini tentu berseberangan dengan kekristenan yang menolak pandangan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Iman akan Firman yang menjadi daging tentu berseberang dengan paham manikeisme.
Pada tahun 371 Agustinus kuliah di Kartago. Anak remaja 16 tahun ini memiliki affair dengan seorang putri Kartago. Dari hubungan mereka lahirlah Adeodatus. Peristiwa ini yang kemudian diakui Agustinus sebagai dosa masa muda dalam bukunya Confessions (Pengakuan-Pengakuan). Ibu Monika berdoa dengan meneteskan air mata agar demi pertobatan anaknya.
Doa tulus Monika membuahkan hasil. Pada tahun 387 Agustinus pergi ke Milan. Di sana ia bertemu Ambrosius – uskup Milan yang kemudian membaptisnya menjadi Kristen. Setelah dibaptis ia kembali ke Afrika. Ia kemudian berpindah ke Hippo, di sana ia menerima tahbisan imam, dan kemudian menjadi uskup. Ia meninggal pada 28 Agustus 430 pada usia 76 tahun.
Pengajar yang Berwibawa. Patut diakui bahwa Agustinus adalah pengajar tradisi Gereja Roma yang paling berwibawa. Jika membaca karya Aristoteles adalah kebanggaan para filsuf, maka bagi para teolog, Agustinus adalah figur otoritas bagi Teologi. Pokok utama Teologi Kristen, yaitu Trinitas, Penciptaan, Kristologi, dan Sakramentologi dipaparkan dalam karya-karyanya.
Ia juga dikenal sebagai seorang filsuf, ekseget, pengkhotbah, dan mistikus. Tokoh Skolastik seperti Bonaventura mengagumi Agustinus sebagai ‘yang terbesar dari para Bapa Gereja Latin’ (praecipuus doctor Latinus), ‘Doktor istimewa’ (Doctoris praecipui ). Dari pemikiran Agustinus lah Teologi Kristen mewarisi metodologi teologi crede ut intelligas, percaya agar mengerti.
Makna Sejarah Keselamatan. Dari banyak karya Agustinus, ada tiga karya penting yang perlud disebutkan: The City of God, Confessions, dan The Trinity. Edmun Hill mencoba mengibaratkan tiga karya tersebut dengan ‘tiga drama’, yaitu drama sejarah Gereja sejak zaman Habel dalam Perjanian Lama (ecclesia ab Abel); drama pencarian manusia akan Allah, dan drama tentang kebenaran iman Kristen, yaitu Allah Tritunggal Mahakudus.
Dengan kata lain, tiga karya tersebut menampilkan perjumpaan antara pewahyuan diri Allah dan tanggapan manusia; antara iman (Teologi) dan akal budi (Filsafat dan Ilmu Pengetahuan). Upaya manusia menalar Allah hanya dimungkinkan oleh rahmat Allah sendiri. Dan dalam Allah itu pula manusia berharap agar kelak jiwanya beristirahat dalam damai.
Teologi Antropologi. Iman Kristen meyakini bahwa dalam realitas terdalam diri manusia terdapat benih keterbukaan kepada Allah sebagai Misteri. Manusia adalah makhluk yang rindu akan Penciptanya. Hal ini dikatakan Agustinus dalam Confessions: “Engkau telah menjadikan kami bagi-Mu, dan jiwa kami belum berdiam sebelum ia beristirahat dalam Engkau” (I, 1). Allah adalah tujuan akhir perjalanan jiwa manusia: Dalam Dia lah jiwa manusia menjadi utuh.
Dalam Komentar tentang Mazmur 127, Agustinus memeditasikan sebuah dialog dengan Tuhan. Kepada manusia Tuhan mengatakan bahwa ia dapat memperoleh kebahagiaan di dunia; apa saja yang ia mau pasti terjawab, semua dapat ia miliki, kecuali satu: tidak akan melihat wajah Allah.
Lalu Tuhan menatap manusia sambil bertanya: “Mengapa wajahmu murung dan sedih ketika Aku berkata ‘kamu tidak akan melihat wajah-Ku lagi’. Jika engkau telah dipuaskan oleh segala kebaikan dan kesenangan dunia, apalagi yang kau cari”? Agustinus menjawab: “Hanya satu hal yang aku minta dari-Mu ya Tuhan, agar aku boleh tinggal di rumah-Mu seumur hidupku”.
Allah Begitu Intim Dengan Hati Manusia. Dalam buku VIII De Trinitate, Agustinus mengulas tema Allah adalah kasih. “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah” (1Yoh 4: 8, 16).
Terinspirasi oleh kata-kata itu ia menulis: “Mengapa orang harus pergi sambil berlari ke langit yang paling tinggi, ke bumi yang paling dalam, hanya untuk mencari Dia yang tinggal dalam diri kita, sekiranya kita mau tinggal dalam Dia”? (VIII, 7.11). Allah begitu dekat dengan kita, lebih intim dari diri kita sendiri. Temukan Dia dalam diri kita.
Berhenti Sejenak. Dalam merefleksikan misteri kasih Allah, Agustinus mengajak para pembacanya ‘berhentik sejenak’. Berhenti, bukan karena telah menemukan jawaban tentang siapa Allah, tetapi karena telah menemukan tempat (locus) di mana orang harus mencarinya:
“Mari kita membiarkan pikiran kita berhenti sejenak, bukan karena ia telah menemukan jawaban yang dicari, tetapi istirahat sebagaimana biasanya, laksana orang yang telah menemukan tempat di mana ia harus mencari sesuatu; ia memang belum menemukannya, namun ia telah menemukan locus di mana ia harus mencarinya” (VIII, 10. 14).
Imago Dei. Manusia dapat terarah kepada Allah karena ia telah dikasihi Allah. Atau dalam bahasa Agustinus, manusia adalah citra Allah (imago Dei), karena memiliki tiga kapasitas utama: mens, notita, amor/ memoria, intlligentia, voluntas (memori, inteligensi dan kehendak). Dengan tiga kamampuan itu, Agustinus menyakini bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan ilahi.
Dalam De Trinitate ia menulis: “Sekarang kita tiba pada pokok diskusi tentang kemampuan manusia, yaitu jiwanya yang dengannya ia mengetahui atau dapat mengetahui Allah …dan dengan demikian kita menemukan bahwa ia adalah citra Allah …. karena ia dikaruniai kemampuan ilahi (capax dei), dan dengan itu dapat berpartisipasi di dalam-Nya (participate in him)…Manusia dapat mengingat, mengerti, dan mencintai. Kita melihat di sini ada triade; tentu bukan Allah, namun sudah merupakan citra-Nya” (XIV, 11).
Berdiam dalam Allah. Agustinus mengibaratkan manusia dengan partikel kecil di mata Tuhan (Conf. I: 1). Namun di hadapan Tuhan manusia begitu berharga. Ia pun mengagumi Allah dalam seruan ini: “Tuhan terang di hatiku, roti bagi lubuk jiwaku, kebajikan yang menyuburkan nalarku, rahim akal budiku” (Conf. I, 13).
Dalam buku ke XV, De Trinitate, uskup Hippo merefleksikan akhir pencarian manusia: “Tatkala kami menggapai-Mu, kami mengakhiri segala sesuatu yang telah kami katakan namun tidak terwujud, dan Engkau masih tetap sama, Engkau segala dalam segala; kami hanya memuliakan Dikau, dan seluruh diri kami bersatu di dalam Engkau” (XV, 51).
Semoga kita selalu berusaha untuk tinggal bersama Allah dan selalu menghadirkan Allah dalam hidup kita… Terima kasih pater. Salam dan doa, semoga pater sehat selalu..
Trima Kasih Pater…Tinggal dan diam dalam KasihNya… Semoga kita semakin dekat dengan Allah…dan sesama..salam Sehat selalu….
Allah melengkapi manusia dg kemampuan Ilahi …kemapuan itu mendorongnya utk menyadari dan menyesali kesalahan yg diperbuat. Dg kemapuan itu pula Ia diarahkan utk mencari sang penciptanya.
Kiranya suatu saat nanti kita pun meminta hal yang sama seperti St. Agustinus ” tinggal di Rumah Tuhan seumur hidup”??
Terima kasih Pater
Kak Pater kami sangat luar biasa…..
Terima ksh pencerahannya semoga kami mencontoh st Agustinus dlm hidup kami setiap hari….
George senang banget nonton you tube ini…
Tertarik banget dia…..kak..
George blg kak pater sangat hebaaat