Jantung Gereja. Ekaristi merupakan jantung komunitas Gereja. Persekutuan Gereja lahir dari kesatuannya dengan Kristus. “Gereja menimbah kehidupannya dari Ekaristi” (EE 1). Santo Paulus menggambarkan Gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota dan Kristus sebagai kepalanya (1Kor 12: 12-38; Rm 12: 3-8). Dalam Ekaristi ciri persekutuan jemaat dengan Kristus sebagai kepala Tubuh Msitik diungkapkan secara tegas dan jelas.
Menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus berarti dibentuk dalam dan bersama Kristus. Dengan demikian persekutuan mistik dengan Kristus adalah persekutuan Gereja juga. Dalam Ekaristi relasi antara Gereja dengan Allah menampilkan cirinya yang khas:
Gereja bukan hanya umat Allah dalam arti sosiologis tau politik, tetapi secara khusus dalam ikatan kesatuan dengan Kristus. Gereja dipimpin Kristus dan digerakkan oleh kekuatan Roh Kudus, dan dengan demikian menjadi Tubuh Mistik Kristus (Semeraro 1997, 66-69).
Kristus Jaminan Hidup. Dalam Ekaristi, Kristus sendiri memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai jaminan hidup kekal bagi orang yang percaya. “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51).
Persekutan yang berciri eklesial ditopang oleh baptisan yang berdimensi Trinitaris. Jemaat beriman dibaptis ‘dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus’. Dengan sakramen baptis jemaat dipersatukan dalam Kristus yang telah bangkit dari maut, dikuatkan oleh Tubuh dan Darah Kristus melalui Ekaristi, dan menerima Roh Kudus dalam hatinya.
Bukan Kepentingan Pribadi Imam atau Umat. Gereja terdiri dari banyak jemaat, namun mereka semua disatukan oleh Roh yang sama: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1Kor 12: 4-6).
Setiap pribadi disatukan sebagai sebuah jemaat; dan setiap Gereja lokal berada dalam persekutuan dengan Gereja universal. Semua jemaat dipersatukan oleh Kristus sebagai kepala Tubuh: “satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan; satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Ef 4: 4-6).
Ensiklik Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi pada 1943 menekankan bahwa Gereja hidup oleh misi Kristus dan Roh Kudus (MCC 67). Sebagai sebuah persekutuan jemaat, Gereja dikepalai Kristus sendiri. Sebab itu Gereja digambarkan sebagai Tubuh Mistik Kristus.
Oleh sebab itu imam yang diberi kuasa memimpin Ekaristi tidak bertindak atas nama pribadi. Ia mengerjakan apa yang dilakukan Gereja. Kuasa imam sesungguhnya adalah kuasa Kristus melalui Gereja. Dalam arti ketat, Kristus sendirilah yang bertindak dalam Ekaristi.
Trinitaris. Bertolak dari teks Yoh 17: 21-23, Paus menggambarkan kesatuan erat antara persekutuan Trinitas dan persekutuan jemaat. Setiap jemaat disatukan dalam Tubuh Kristus. Dalam dan melalui Dia jemaat berpartisipasi dalam kesatuan antara Bapa dan Putra: “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu” (Yoh 16: 23).
Panggilan Untuk Terlibat dan Berkurban. Ketika seseorang menyambut Ekaristi sesungguhnya ia menyambut Tubuh Kristus, dan saat itu ia dipanggil pula untuk terlibat penuh dalam Tubuh Kristus. Ekaristi menjadi tanda bahwa satu orang anggota tidak terasing dari anggota lain, melainkan terikat satu sama lain dalam Tubuh Mistik Kristus. Dalam kesatuan itu mereka saling melayani dengan meneladan model pemberian diri Kristus di salib.
Dengan kata lain, Ekaristi merupakan perayaan pemberian diri dan keterbukaan menyambut pemberian sesama. Kesediaan memberi dan menerima ini juga mengandung konsekuensi lain, yaitu kesediaan berkurban, bahkan mengalami penderitaan. Terikat dalam tindakan memberi dan menerima berarti melawan egoisme dan tetap tinggal dalam persekutuan kasih.
Identitas Gereja. Dengan merayakan Ekaristi, Gereja menjadi Gereja. Artinya perayaan kebersamaan sekaligus merupakan titik tolak dan tujuan, sebab di dalamnya Gereja melaksanakan diri dengan paling sempurna. Kebersamaan Ekaristi adalah intisari iman Gereja. Dalam Ekaristi setiap anggota umat menggabungkan diri dalam ungkapan iman Gereja. Orang perorangan mempersatukan diri dengan iman Gereja itu.
Oleh sebab itu Konsili Vatikan II menegaskan bahwa setiap pertemuan jemaat dalam Perayaan Ekaristi sudah merupakan Gereja (lokal) sendiri: “Di setiap himpunan di sekitar altar, dengan pelayanan suci Uskup, tampillah lambang cinta kasih dan kesatuan Tubuh mistik itu, syarat mutlak untuk keselamatan. Di jemaat-jemaat itu, meskipun sering hanya kecil dan miskin, atau tinggal tersebar, hiduplah Kristus; dan berkat kekuatan-Nya, terhimpunlah Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Sebab keikutsertaan dalam Tubuh dan Darah Kristus tidak lain berarti berubah menjadi apa yang kita sambut” (LG 26).
Dalam Ekaristi Kudus, umat dapat menyantap “SANTAPAN SABDA” DAN SANTAPAN “TUBUH DAN DARAH KRISTUS” ==. Yesus sendiri berbicara lewat sabdaNya yang kita dengar lewat bacaan Injil,dan Menyantap Tubuh dan darahNya lewat komuni kudus………Terima kasih parer.. Salam dan doa,,Semoga Pater sehat selalu. ???
Terima kasih Pater