‘Mewujudkan kemanusiaan baru’. Frase ini merangkum visi kepemimpinan Paus Fransiskus (M. Prodi, Per una nuova umanità 2018: 51). Ensiklik, Surat Apostolik, Katekese, dan sikap Paus memancarkan kehangatan kasih (tenderness) bagi segenap ciptaan. Ia secara konsisten mengajar dan memberi teladan bagi Gereja tentang penghargaan hak hidup segenap ciptaan, sebab hak hidup adalah anugerah yang hakiki. Visi itu tampak jelas dalam Ensikliknya yang ketiga, Fratelli Tutti (FT).
Intisari Ensiklik. Baik Laudato Si’ maupun FT dijiwai gairah persaudaraan universal yang dihayati Fransiskus Assisi. Cara hidup Fransiskus yang hendak ditampilkan Uskup Bergoglio ialah cinta akan kehidupan. Mencintai kehidupan berarti merawat corak relasionalnya, yang oleh FT disebut persaudaraan (fraternity). Bagi Paus, persaudaraan menekankan nilai khas kristiani yang berbeda dari prinsip kesetaraan (liberty) dan kebebasan (egality) [103].
Bab pertama FT memaparkan situasi dunia aktual sebagai realitas gelap. Kemajuan modern yang dibanggakan manusia nyatanya tidak mampu menangkal krisis. Dalam dunia yang ditandai dengan hiper-konektivitas, orang justu menjadi tuli dan tidak saling peduli. Dengan kata lain, kemajuan ilmu dan teknologi tidak menjamin sikap murah hati antara manusia.
Kemurahan hati terwujud karena kasih yang gratis. Sikap murah ditampilkan oleh figur orang Samaria yang murah hati (Luk.10: 25-37). Kemurahan hati membebaskan dia dari ideologi sempit agama yang telah lama memisahkannya dari sesama. Di hadapan sesama yang terluka, yang dibutuhkan bukan hanya ketaatan pada hukum agama seperti yang ditunjukkan oleh Lewi dan Imam, tetapi kasih-persaudaraan, bahkan dengan orang yang berbeda agama.
FT menantang kita untuk keluar dari segala bentuk eksklusivisme: dari konteks lokal sampai komunitas internasional. Manusia terpanggil untuk mengasihi sesama, sebab ia memang tercipta untuk mengasihi. Corak dasar kasih (caritas) ialah memberi yang baik kepada sesama. Makna kata benevolentia ialah menghendaki yang baik bagi sesama. Visi keterbukaan ini ditegaskan Paus, dengan tekanan pada perhatian bagi imigran yang mengungsi karena perang dan terorisme. Mereka perlu diterima, dilindungi, serta dijamin hak hidupnya.
Faktor penting yang memungkinkan keterbukaan antar negara ialah sistem politik yang sehat. Paus berbicara tentang politik kasih: para leaders mengupayakan keberlanjutan hidup seluruh rakyat. Politik dimaknainya sebagai kesempatan bagi para leaders untuk membangun sistem pemerintahan yang menjamin kebaikan bersama. Indikasi sebuah negara dengan sistem politik kuat ialah terjaminnya kesempatan kerja demi keberlangsungan hidup rakyat.
Agar dapat keluar dari eksklusivisme, kita perlu berdialog. Kata-kata kunci untuk dialog ialah: mendekati, menyampaikan, mendengarkan, mencari dasar bersama. Dialog merupakan media penting bagi visi kemanusiaan yang baru, yaitu persaudaraan universal. Kebajikan yang dijunjung tinggi dalam dialog ialah kebenaran. Dialog merupakan proses terus-menerus.
Tujuan dialog ialah perdamaian. Setiap kita adalah seniman perdamaian. Jadi damai adalah sebuah proses formasi diri manusia. FT menekankan damai batiniah, bukan sekedar rasa damai karena tak ada perang atau melupakan trauma masa lalu. Perdamaian membutuhkan rekonsiliasi, penegakkan keadilan, serta upaya memutus rantai balas dendam.
Demi terwujudnya perdamaian berdasarkan budaya perjumpaan, Paus menekankan bahwa agama memainkan peran sangat penting. Bab terakhir FT berbicara tentang dialog antara agama sebagai media bagi persaudaraan universal. Dialog yang dimaksud bukan sekedar toleransi atau diplomasi, melainkan jalinan persahabatan sosial bermotif kasih dan persaudaraan. Inti ajaran agama ialah kasih dan damai. Perang dan teror bukan agama.
Kasih: Pangkal Keutamaan. Dasar dari gairah persaudaraan ialah kasih. Kasih menopang segala kebajikan lain. Corak utama kasih ialah berbuat baik bagi sesama. Corak ini merupakan sebuah anugerah dalam diri manusia. Pada hakikatnya manusia dijadikan untuk saling mengasihi. Sebagai kebajikan yang utama, kasih tidak identik dengan kewajiban moral. Kasih mengalir dari kerahiman Tuhan.
“Tanpa kasih, kita mungkin memiliki hanya keutamaan-keutamaan yang semu, tak mampu menopang kehidupan bersama. Maka, Santo Thomas Aquinas – mengutip Santo Augustinus – mengatakan bahwa kesederhanaan dari orang yang serakah bukanlah kebajikan. Santo Bonaventura, selanjutnya menerangkan bahwa keutamaan-keutamaan lain, tanpa kasih […] tidak memenuhi perintah yang Allah sendiri inginkan untuk dipenuhi” [FT 91].
Persaudaraan yang Inkarnatif. Persaudaraan yang dihayati Santo Fransiskus Assisi dan disuarakan dalam FT mengalir dari pengalaman iman akan Allah Maha Kasih. Semua manusia adalah anak-anak dari satu Bapa. Persaudaraan bukan perasaan sentimental, melainkan kenyataan yang menghendaki jawaban dan aksi nyata atas pertanyaan ‘siapakah saudara dan saudariku’?
Paus menakankan corak persaudaraan universal dengan titik berangkat kesetaraan dasariah manusia, yaitu sebagai makhluk ‘daging’. Perlu dicatat bahwa dalam iman Kristiani, “menjadi daging adalah jalan pilihan Tuhan” untuk memulihkan martabat manusia dari keterpurukan dalam dosa (P. Coda, “Sì Alle Relazioni nuove generate da Gesù Cristo [EG 87-92]” dalam Misericordia e Tenerezza 2019: 270). Fransiskus Assisi yang “yang merasakan persaudaraan dengan matahari, laut dan angin, merasakan pula kesatuannya yang lebih erat dengan mereka dari dagingnya sendiri [FT 2]. ‘Daging’ menggambarkan sifat fana pada semua makhluk insani. Namun yang fana pada manusia itu, bermakna di hadapan Pencipta.
Kefanaan pada manusia mengingatkan bahwa ia bukan diri yang sudah sempurna; ia makhluk peziarah. Orang lain di sekitarnya adalah sesama peziarah yang setara di mata Tuhan: “Marilah kita bermimpi sebagai satu umat manusia, sebagai musafir dari daging manusia yang sama, sebagai anak-anak yang mendiami bumi yang sama, masing-masing dengan kekayaan iman dan keyakinan, masing-masing dengan suaranya, semua saudara!” [FT 8].
FT menempatkan Sabda Yesus sebagai pusat refleksi. Dalam keseharian kita, Yesus sendiri hadir dalam diri sesama yang sakit dan menderita. Paus merefleksikan teladan Kristus dalam kata-kata ini: “[….] di bagian lain Injil Yesus berkata: ‘Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan’ (Mat 25: 35). Yesus berkata demikian karena Ia memiliki hati yang terbuka, sehingga turut merasakan drama hidup orang lain. Santo Paulus menasihati: ‘Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!’(Rm. 12: 15). Ketika hati orang dipenuhi dengan sikap itu, ia mampu menyamakan diri dengan sesama tanpa menyoal tempat lahir dan asalnya. Pada tataran dinamika ini, akhirnya orang memperlakukan sesama sebagai dagingnya sendiri (bdk. Yes 58: 7)” [FT 84].
Agama dan Kemanusiaan. Mengasihi Tuhan berarti mengasihi sesama: “Barangsiapa tidak mengasihi sesama yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4: 20). Agama yang baik mengajarkan damai dan kasih bagi segenap makhluk.
Jika ajaran agama merusak etos humanum, ia kehilangan nilainya yang paling esensial. Sikap orang Samaria yang murah hati (Luk 10: 25-37) serta sikap Fransiskus Assisi, memberikan pesan bahwa ketika ajaran agama dihayati secara otentik, ia bukan menjadi halangan perjumpaan dengan sesama. Paus menyerukan cara baru memandang sesama: bukan yang lain melainkan kita [FT 35].
FT menyerukan suara kritis bagi kedangakalan agama: “…percaya pada Tuhan dan menyembah-Nya bukan jaminan bahwa orang hidup sesuai keinginan Tuhan. Orang beriman belum tentu setia pada semua tuntutan iman itu, meskipun ia bisa merasa dekat dengan Tuhan dan merasa lebih layak dari orang lain. Sebaliknya ada orang yang menghayati iman dengan memupuk hati yang terbuka bagi saudari dan saudara lain, dan itu menjamin keterbukaan otentik kepada Tuhan…. Paradoksnya ialah bahwa sering kali mereka yang tak beriman mampu menjalankan kehendak Tuhan dengan lebih baik dari pada orang beriman” [FT 74].
Jejaring Pengharapan. Menurut saya, salah satu pesan yang bermakna mendalam dari FT ialah pentingnya pengharapan. Kemajuan teknologi digital malah menyebabkan dunia menjadi tuli; manusia tidak saling mendengarkan [bdk. 42-43]. Menghadapi pandemi Covid-19, dunia belajar dari teladan rakyat biasa yang membangun harapan dengan cara memberikan waktu dan tenaga, bahkan hidupnya sendiri: dokter, perawat, guru, petugas kebersihan [bdk. 54].
Ketulian manusia modern itu dihadapakan dengan teladan hidup Fransiskus Assisi: “Santo Fransiskus dari Assisi mendengarkan suara Tuhan, ia mendengarkan suara orang miskin, mendengarkan suara orang sakit, mendengarkan suara alam. Semua itu menjelma dalam dirinya sebagai sebuah cara hidup. Saya berharap agar sikap Fransiskus ini menjadi benih yang bertumbuh dalam hati banyak orang” [FT 48]. Bagi Paus, perjumpaan membangun harapan.
Ciri orang berpengharapan ialah berkorban demi kebaikan lebih luhur serta ‘memperluas jejaring pengharapan’ (inter-hope encounter): satu harapan menopang sesama ketika upaya manusia tiba pada ambang batas, bahkan maut. Orang berpengharapan mau menopang orang yang putus asa, capable of taking a stand with the hopeless [A. Kelly, Eschatology and Hope, 2006: 11-12, 17].
Sikap Fransiskus Assisi yang tampak dalam visi Paus Fransiskus, oleh Jean Vanier dimaknai sebagai cara baru kesaksian tentang harapan dalam dunia yang terluka (wuonded world), yaitu bergerak dari kemurahan hati menuju perjumpaan, from generosity to encounter. Dunia yang menjadi disable karena primat individualisme ini perlu dikembalikan pada corak aslinya, yaitu sebagai realitas yang harmonis dan relasional [J. Vanier, A Cry is Heard, 2018: 82].
Perjumpaan memerlukan cita rasa; mengurbankan waktu dan tenaga; bukan solusi praktis. FT memaknai persaudaraan sebagai realitas hic et nunc untuk disikapi, bukan dengan logika apokaliptisisme – menang dengan menghancurkan – melainkan logika persaudaraan: menang dengan merawat dan menjumpai. Perang dan benci membawa kehancuran, tetapi persaudaraan dan solidaritas memberi harapan (bdk. FT 16) [A. Spadaro: jurnal La Civiltà Cattolica daring].
Meniru Tuhan. Bagaimana saya dapat meniru orang Samaria yang murah hati? Judul Petuah St. Fransiskus yang menjadi judul FT adalah ‘Meniru Tuhan’. Apa yang hendak ditiru? Sebagai Gembala Baik, Yesus bukan hanya menjadi pria dari Nazaret. Ia menjelma menjadi daging. Maka, “Marilah, saudara sekalian, kita memandang Gembala Baik yang telah menanggung sengsara salib untuk menyelamatkan domba-domba-Nya” (Fonti Francescane, 155).
FT relevan bagi Gereja dan Negara Indonesia. Indonesia memiliki beragam pulau, agama, budaya, suku, bahasa, dan sebagainya. Corak tersebut nyata pula dalam komunitas religius, komunitas gerejani, serta organisasi sosial. Masyarakat Indonesia yang sangat beragam ini, sayangnya mudah diadu oleh populisme sempit, yaitu politik yang suka melemparkan isu sentimental agama demi kepentingan politik, yang dalam istilah FT disebut divide et impera [FT 12]. FT dapat menjadi acuan dialog persaudaraan bagi Gereja dan masyarakat Indonesia.
Terima ksh byk sharenya yg sl luar biasa… sangat luar biasa putera St Fransiskus ksk saya ini…
Luar biasa putera-putera Fransiskus smga makin banyak pengikut Fransiskus dan smga kami pun memiliki hati spt Fransiskus….
Slm sehat dan tetap semangaaat dr kami b3…
Terimakasih Pater atas ulasannya yang luar biasa….mari kita mulai lagi karena sampai saat ini kita belum berbuat apa2. Salam charitas..”