Bertekun, Sehati, Berkumpul
Secara monumental penetapan Ekaristi dilakukan oleh Yesus sendiri pada malam Perjamuan Akhir bersama para murid-Nya. Namun penetapan itu tidak terlepas dari seluruh peristiwa hidup, karya dan perutusan-Nya, sebagaimana termaktub misalnya dalam Luk. 4: 18-19. Kata-kata dan amanat Yesus pada Perjamuan Akhir dipelihara serta dipertahankan dalam evolusi Liturgi Gereja, sehingga menjadi warisan paling luhur yang mempersatukan Gereja sebagai sebuah persekutuan spiritual dan batiniah yang merangkul pula segenap ciptaan.
Kata-kata judul di atas, yang diinspirasikan oleh Kis. 2: 46a[1], memuat tekanan utama paper ini, yaitu corak tekun dan sehati yang merekatkan jejaring Gereja sebagai komunitas Ekaristi di masa sulit seperti pandemi korona, tanpa kehilangan harapan untuk boleh berkumpul kembali.
1. Pendasaran Biblis
1.1.Perjamuan-Perjamuan di Masa Hidup Yesus
Kabar Baik Kerajaan Allah diperlihatkan Yesus dalam tindakan menyembuhkan orang sakit, mengusir kuasa jahat, dan membangkitkan orang mati, serta dalam perjamuan makan bersama orang-orang berdosa (Mrk. 2: 13-17 dan paralel). Melalui perjamuan-perjamuan makan Yesus mengungkapkan rahmat pengampunan dari Allah. Perjamuan merupakan ritus rekonsiliasi antara Allah dan para pendosa (bdk. perjamuan bagi anak bungsu dalam Luk 15: 11-32).
Dalam mukjizat penggandaan roti dan ikan yang ditemukan dalam keempat Injil (Mrk 6: 30-44 dan paralel), urutan tindakan Yesus sangat mirip antara satu teks dan teks lain, yaitu: mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkan dan membagikan. Urutan serupa tampak pada Perjamuan Akhir. Jadi, tindakan Yesus pada Perjamuan Akhir bukan sesuatu yang terlalu aneh di mata para murid. Ia telah sering melakukan tindakan serupa selama hidup-Nya.
1.2.Narasi Perjamuan Akhir Paulus dan Sinoptik
Dasar biblis paling esensial bagi teologi Ekaristi ialah teks PB yang memuat tindakan dan perkataan Yesus atas roti dan anggur yang Ia berikan kepada para murid-Nya pada Perjamuan Akhir, serta amanat untuk mengenang-Nya dengan mengulang tindakan tersebut. Tindakan dan amanat Yesus itu, secara teknis disebut Kisah Institusi atau Kata-Kata Institusi.
Dalam PB terdapat empat teks Kisah Institusi, yaitu versi 1Kor 11: 23-26, Luk 22: 15-20, Mrk 14: 22-25, Mat 26: 26-29. Teks-teks tersebut, meskipun dengan perbedaan kecil, intinya seragam, yaitu 1] kata-kata Yesus atas roti dan piala, dan 2] amanat untuk mengenang Dia.
Santo Paulus adalah penulis pertama Perjanjian Baru yang memiliki perhatian pada tema Ekaristi. Surat pertamanya kepada jemaat di Korintus ditulis antara tahun 53-55 Masehi, kurang dari 20 tahun setelah peristiwa salib atau sekitar 10 tahun sebelum penyebaran Injil[2].
Pandangannya tentang Ekaristi terdapat dalam 1Kor 10: 1-5, 14-22 dan 1Kor 11:17-34. Paulus menggunakan istilah ‘Perjamuan Tuhan’ (Dominica Cena) untuk menyebut Ekaristi (1Kor 11: 20). Dalam kewibawaannya sebagai Rasul, ia menegaskan bahwa ajaran tentang Ekaristi yang ia teruskan kepada jemaat adalah warisan yang ‘ia terima dari Tuhan’ (11: 2, 23)[3].
Tentang ciri persekutuan jemaat yang ditampilkan Gereja Paulus, ditekankan ritus pemecahan roti: satu roti dipecah-pecahkan, dan semua jemaat makan dari roti yang satu. Setiap kali merayakan Ekaristi, Gereja menegaskan identitasnya sebagai sebuah persekutuan yang dijiwai oleh Kristus sendiri. Berekaristi berarti mengambil bagian (koinōnia) dalam hidup Kristus. “Kebersamaan ekaristik tidak dibangun oleh manusia sendiri, tetapi oleh Kristus sebagai Tuan Rumah, melalui hidangan-Nya, yang tidak lain adalah diri-Nya sendiri”[4].
Paulus dan Sinoptik menampilkan narasi tentang Perjamuan Akhir berdasarkan situasi komunitasnya masing-masing, jadi sebagai sebuah communio jemaat. Narasi mereka pertama-tama bukan rekaman sejarah, melainkan interese teologis. Secara historis kita tidak mungkin lagi merekonstruksi rumusan asli kata-kata Yesus pada Perjamuan Akhir. Namun, mungkin bagi kita untuk menggali maksud dan maknanya sebagai dasar spiritual bagi Ekaristi Gereja.
1.3.Perjamuan Setelah Kebangkitan dan Perjamuan Jemaat Awal
Ekaristi juga mendapat legitimasi bibilisnya dari perjamuan-perjamuan yang diadakan Kristus yang telah bangkit. Sebagai contoh, kisah tentang dua murid dari Emaus (Luk. 24: 13-35). Tindakan Yesus memecahkan roti merupakan momen transformatif bagi kedua murid: “Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia” (ay. 31)[5].
Ciri narasi Lukas tentang dua murid di Emaus tampak juga dalam narasi tentang Ekaristi jemaat awal: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah” (Kis 2: 46-47).
Unsur-unsur utama Ekaristi tampak dalam teks tersebut: Jemaat berkumpul sehati dengan tekun, terpusat dalam Bait Allah, mengadakan pemecahan roti. Situasi serupa digambarkan dalam Kis 20:7-11. Jemaat berkumpul pada hari pertama, artinya hari Minggu, hari kebangkitan, untuk memecahkan roti. Perkumpulan itu terpusat di ruang atas sebuah rumah. Paulus bertindak sebagai pemimpin jemaat. Ia memecahkan roti, dan mereka semua makan. Lukas menujukkan bahwa pemecahan roti merupakan tanda kehadiran Kristus yang bangkit[6].
1.4.Titik Temu Narasi-Narasi Perjamuan Akhir
Titik temu pertama dari empat versi dasar biblis Kisah Institusi ialah kata-kata Yesus yang mengindentikkan roti dan anggur dengan Tubuh dan Darah-Nya sendiri: Inilah Tubuh-Ku, terimalah dan makanlah; inilah Darah-Ku, terimalah dan minumlah.
Yesus tidak berkata: ‘inilah simbol Tubuh-Ku, inilah simbol Darah-Ku’ atau ‘di sinilah Tubuh-Ku’, ‘di sinilah Darah-Ku’. Roti dan anggur adalah Tubuh dan Darah-Nya. Yesus meminta para murid untuk makan Tubuh dan minum Darah-Nya. Bagi para murid dan bagi Gereja, Tubuh dan Darah Kristus masuk dan mengubah diri jemaat dari dalam.
Titik temu kedua yang sama pentingnya ialah penetapan Ekaristi yang keluar dari mulut Yesus sendiri: Perbuatlah ini sebagai kenangan akan Daku. Dengan kata-kata itu Ia mengamanatkan Gereja untuk mengenangkan Dia dan seluruh karya penebusan-Nya melalui Ekaristi. Atas dasar amanat itu, Ekaristi Gereja pun mendapat legitimasi. Dimensi kenangan tidak hanya menunjuk gagasan mengingat-ingat, melainkan menghadirkan apa yang dikenangkan itu sedemikian rupa sehingga ia betul-betul ada, hadir, berdayaguna (realis praesentia).
Akhirnya kesamaan ketiga ialah antisipasi perjamuan eskatologis dalam Kerajaan Allah atau Kerajaan Bapa. Sebagai Paskah yang Baru, Perjamuan Akhir sekaligus merupakan perayaan partisipasi dalam perjamuan eskatologis (Mrk 14: 25; Mat 26: 29; Luk 22: 16).
Unsur-unsur keseragaman itu mengandung makna yang penting: semua orang yang merayakan Ekaristi, berpartisipasi dalam kehidupan Ilahi. Partisipasi itu bukan sekedar sebuah fenomena sosial melainkan wujud persekutuan batiniah-spiritual. Meskipun setiap penulis PB memiliki interese teologis yang berbeda, mereka tidak mengabaikan unsur paling esensial, yaitu kata-kata dan tindakan Yesus dalam Perjamuan Akhir. Tegasnya, “meskipun ritus Perjamuan Akhir telah dijadikan Gereja sebagai sakramen, unsur-unsur asli ritus itu tidak ditinggalkan”[7].
1.5.Injil Yohanes: Pengajaran tentang Roti Hidup
Tanpa menampilkan Kisah Institusi, penginjil Yohanes menekankan pewahyuan diri Yesus sebagai Roti hidup. Teks Yoh. 6: 51-58 menampilkan dua tanda penting mengenai Ekaristi:
Pertama, ekspresi Yesus seperti ‘makan daging-Ku’, ‘minum darah-Ku’ tidak bernada metafor, melainkan sebagai seruan yang lugas, senada dengan seruan-Nya dalam Injil Sinoptik: ‘ambillah, makanlah, inilah Tubuh-Ku; minumlah, inilah Darah-Ku’. Dalam konteks ini, hidup kekal bukan keyakinan abstrak, karena disertai dengan tindakan makan Daging dan minum Darah Yesus yang adalah benar-benar makanan dan benar-benar minuman (55).
Peran sentral pribadi Yesus dalam Ekaristi tampil dengan kuat: “Barangsiapa makan Daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia” (56). Tegasnya: makan roti dari sorga adalah jaminan hidup kekal (58). Ekaristi merupakan anugerah untuk tinggal bersatu dalam Kristus, bersatu dengan-Nya secara utuh: lahir dan batin, kini dan kelak.
Kedua, berkaitan dengan frase “roti yang Kuberikan itu ialah Daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (ay 51; bdk 1: 14). Menurut Raymond Brown, meskipun Yohanes tidak merekam kata-kata Yesus atas roti dan anggur, namun jika seandainya ia mengetahuinya, maka ayat ini boleh dikatakan sebagai ‘Kisah Institusi’ versi Yohanes.
Penginjil Yohanes tidak menggunakan kata tubuh (Yunani: somma), sebagaimana Injil Sinoptik, melainkan kata daging (sarx)[8]. “Dengan kata daging Yohanes menekankan realisme yang lebih tegas, yaitu bahwa roti Ekaristi adalah benar-benar Tubuh Kristus, dan bukan hanya simbol belaka. Dalam rupa roti dan anggur ekaristis, Yesus Kristus sungguh-sungguh hadir karena roti dan anggur ekaristis itu benar-benar Tubuh dan Darah-Nya”[9].
2. Pendasaran Lain
2.1.Didache
Setelah masa Gereja perdana, mulailah tahap sesudah penulis PB. Salah satu tulisan paling awal ialah Didache (dari bahasa Yunani yang berarti ‘pengajaran’- The teaching of the Lord to the Gentiles through the Twelve Apostles). Didache Segmen II, buku 9 (#2-5) dan 10 (#1-6) merupakan dasar tentang ritus Ekaristi – yang dirangkai dengan Baptis. Berikut sebuah contoh ajakan dan petunjuk bagi komunitas jemaat untuk merayakan Ekaristi:
“Pada hari Tuhan, berkumpullah kamu bersama, adakanlah pemecahan roti dan adakanlah Ekaristi, setelah kamu mengakukan dosa-dosamu, agar kurbanmu menjadi murni. […]. Sesungguhnya tentang kurban inilah Tuhan telah mengatakan bahwa di setiap saat dan tempat akan dipersembahkan kepada-Nya sebuah kurban yang murni, sebab ‘Aku ini Raja Agung’, sabda Tuhan, dan nama-Ku mulia di antara semua manusia”[10].
2.2.Ignatius dari Antiokhia († 107)
Dalam surat-suratnya, Ignatius telah menggunakan istilah pemecahan roti, bahkan istilah eucharistia: “Hendaknya kamu sekalian mengambil bagian dalam satu Ekaristi”[11]. Ekaristi dimaknainya sebagai tindakan syukur yang menyatukan umat: “Hendaklah kamu berpartisipasi dalam satu Ekaristi. Hanya satu daging, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus dan satu piala untuk kesatuan dalam darah-Nya, satu altar, sebagaimana satu uskup, imam dan diakon”[12].
Dalam sebuah surat kepada orang-orang Roma, ditulis menjelang kematiannya, ia bersaksi:
“Aku adalah benih gandum Tuhan, dan aku telah terkubur dalam gigi binatang liar agar aku menjadi roti murni bagi Kristus. […]Aku telah meninggalkan kesukaan akan makanan sementara maupun kesenangan dalam hidup. Aku menginginkan Roti Tuhan, yaitu daging Yesus Kristus, keturunan Daud; dan aku mau minum darah-Nya, yaitu kasih yang kekal”[13].
2.3.Yustinus Martir († 165)
Kesaksian Yustinus tentang Ekaristi ditemukan terutama dalam Apologia, yang ditulis antara 150-160 Masehi. Dalam Apologia I, 66 misalnya ia memberi kesaksian berikut ini:
Kami memandang makanan itu bukan sebagai roti dan minuman biasa. Sebagaimana Yesus Kristus Penyelamat kami telah menjadi manusia oleh Sabda serta Tubuh dan Darah-Nya, demikian halnya kami telah memahami bahwa makanan yang telah didoakan dengan kata-kata doa yang berasal dari-Nya, dan yang olehnya tubuh dan darah kita terpelihara, adalah Tubuh dan Darah Yesus yang telah berinkarnasi. Sebab para Rasul melalui ingatan yang tertuang dalam Injil telah mewarisi apa yang diamanatkan kepada mereka, yaitu bahwa Yesus mengambil roti, dan setelah mengucap syukur, berkata: ‘Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku, inilah Tubuh-Ku’; demikian pula Ia mengambil piala, dan setelah mengucap syukur, Ia berkata: ‘inilah Darah-Ku, lalu memberikannya kepada mereka semua”.
2.4.Hippolitus († 235)
Tulisan Hippolitus yang amat berharga ialah sebuah teks liturgi sebagai petunjuk bagi doa jemaat, yang dikenal sebagai Anafora Hippolitus, dan diduga beredar antara tahun 215-220. Pada Konsili Vatikan II[14] teks tersebut menjadi salah satu bahan dasar yang diadaptasi ke dalam rumusan yang hingga kini kita kenal sebagai Doa Syukur Agung II.
“Ketika Ia diserahkan untuk menderita dengan rela, untuk mengalahkan maut dan melepaskan belenggu kejahatan, dan untuk menginjak api neraka, dan menerangi kaum yang benar, mendirikan sebuah masa, dan memperlihatkan sebuah kebangkitan, Ia mengambil roti, sambil mengucap syukur, berkata: ‘Ambillah dan makanlah, inilah tubuh-Ku yang dipecahkan bagimu’. Demikian pula piala, seraya berkata: ‘Inilah darah-Ku, yang ditumpahkan bagimu. Ketika kamu melakukan ini, lakukanlah untuk mengenangkan Daku’.
Karena itu, untuk mengenangkan kematian dan kebangkitan-Nya, kami mempersembahkan kepada-Mu roti dan piala, sambil mengucap syukur kepada-Mu sebab Engkau telah menjadikan kami layak berada di hadapan-Mu dan melayani-Mu”.
2.5.Agustinus Hippo (†354)
Dalam sebuah Katekese untuk para baptisan baru pada Minggu Paskah, ia menulis:
“Hendaknya anda mengerti apa yang telah anda terima, yang akan dan harus anda terima setiap hari. Roti yang anda terima di altar, yang telah dikonsekrir dengan Sabda Tuhan, adalah Tubuh Kristus. Piala, – yaitu apa yang terdapat di dalamnya – yang telah dikonsekrir dengan Sabda Tuhan adalah Darah Kristus. Melalui itu Tuhan Yesus Kristus mempercayakan kepada kita Tubuh dan Darah-Nya, yang ditumpahkan bagi kita untuk pengampunan dosa-dosa. Jika anda menerimanya dengan baik, anda menjadi apa yang anda terima. Rasul Paulus berkata: ‘Roti adalah satu, dan kita yang banyak adalah satu tubuh’ (1 Kor 10: 17)[15].
Sebagai Tubuh Kristus, Ekaristi merupakan sakramen penyatu. Berdasarkan ajaran Santo Paulus, Agustinus menekankan bahwa kesatuan ekaristis itu bersifat “ontologis”[16]. Di bawah kepemipinan uskup sebagai alter Christus (Kristus yang lain), Gereja yang merayakan dan menyantap roti Ekaristi berpartisipasi dalam Tubuh Mistik Kristus. Partisipasi dalam Tubuh Mistik itu tentu tidak selesai hanya dengan menyantap roti, tetapi dibangun dalam sebuah dimensi yang bersifat ‘konstitutif’ dalam sakramen, yaitu ‘inteligensi spiritual’[17].
Bagi Agustinus, Ekaristi bukan melulu objek indrawi tetapi juga intelek: “Saudara sekalian, ini adalah sakramen, sebab ada bagian yang kasat mata, dan bagian lain dipahami. Yang kasat mata adalah elemen fisik, sedangkan yang dipahami ialah buah-buah spiritualnya.[18]
3. Bentuk-Bentuk Komuni dalam Ekaristi
3.1. Sakramental dan Spiritual
Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae berbicara tentang komuni spiritual sebagai ungkapan kerinduan seseorang akan komuni sakramental. Konsili Trente secara jelas membedakan antara komuni spiritual dan komuni sakramental [DS.1648]: Yang pertama tanpa Hosti Kudus, jadi sebagai kerinduan yang mendalam; yang kedua dengan menerimanya[19].
Komuni sakramental: ketika umat yang berpartisipasi dalam Misa menerima roti dan/ anggur yang telah dikonsekrir sebagai tanda sakramental kehadiran nyata Yesus Kristus.
Pada kondisi tertentu orang menerima komuni sakramental, namun ia sebenarnya tidak layak, karena dosa berat atau karena halangan lain menurut Hukum Gereja. Sebab itu, rahmat ilahi tidak atau kurang berdayaguna baginya. Secara indrawi terdapat tanda sakramental, namun daya kerja rahmat tak efektif. Dalam disposisi ini, orang memang menerima tanda, namun oleh karena dosa berat, tanda tersebut hanya ‘tanda telanjang’ (signum nudum[20]).
Komuni spiritual: Ketika umat yang berpartisipasi dalam Misa tanpa menerima roti dan / anggur yang telah dikonsekrir, namun daya rahmat Tuhan tetap bekerja. Ini terjadi karena situasi sulit, misalnya pandemi korona sekarang ini. Meskipun tanpa menerima sakramen secara nyata, namun itu tidak menghalangi daya rahmat dalam diri orang beriman.
Komuni yang utuh terjadi ketika orang menerima roti dan/ anggur yang dikonsekrir dalam disposisi batin yang bersih, tanpa dosa, layak secara hukum, sehingga rahmat yang telah dianugerahkan sungguh berdayaguna serta berbuah dalam hidup. Pada bentuk ini, baik dimensi tanda sakramental maupun rahmat Allah (yang ditandakan) terpenuhi dalam diri jemaat.
3.2.Sakramental dan Spiritual Merupakan Satu-Kesatuan
Istilah komuni sakramental dan komuni spiritual memiliki makna lebih mendalam. Corak sakramental dan spiritual merupakan dua dimensi tak terpisahkan dari Gereja. Konsili Vatikan II memaknai Gereja sebagai sakramen, yaitu ‘tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia’ (LG. 1). Dan sebagai sakramen, Gereja sekaligus sebuah misteri, karena memiliki ciri mistik-spiritual, yaitu sebagai ‘Tubuh Mistik Kristus’ (LG. 7).
Dengan kata lain, komuni yang diterima umat beriman secara pantas dan layak, baik secara sakramental maupun spiritual, terwujud dalam rangkulan persekutuan Gereja. Imam sebagai wakil Kristus yang sah, berdoa di hadapan Tuhan “sehati-sejiwa dengan jemaat-jemaat separoki dan sekeuskupan dalam kesatuan dengan seluruh Gereja” (Konsekrasi DSA II).
3.3.Pengalaman Mistik-Spiritual Para Kudus
Pengalaman dan penghayatan komuni batin dalam sejarah Gereja terjadi pada orang-orang kudus seperti misalnya St Klara Assisi, St Alfonsus Liguori, St Katarine dari Siena, St Pio dari Pietreclica (Padre Pio), St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, St Yohanes Paulus II. Pengalaman mistik-spiritual mereka itu memperlihatkan bahwa ketika orang sungguh memiliki kerinduan mendalam akan kehadiran Yesus, batinnya merasakan suatu kemanisan spiritual, karena Tuhan sendiri memuaskan kerinduan mereka dengan cara-Nya sendiri.
4. Persekutuan Batin dalam Jejaring Virtual
4.1.Persekutuan Spiritual adalah Jiwa Gereja
Dalam Ekaristi daring, kita terpisah secara fisik, namun tetap bersekutu secara spiritual. Meskipun Ekaristi dirayakan tanpa kehadiran bersama secara fisik, dan tanpa penerimaan hosti kudus, Ekaristi itu sah dan bermakna, sebab Ekaristi, tidak melulu bersifat indrawi, tetapi juga mistik-spiritual. Meskipun tidak terjadi kontak secara indrawi antara umat dan Imam selebran, mereka semua adalah persekutuan karena satu iman dalam Kristus.
Sesungguhnya komuni batin bukan pertimbangan yang muncul karena suatu situasi khusus. Dimensi ini justru merupakan ciri intrinsik Ekaristi. Yesus sendiri telah meletakkan dengan kokoh dasar spiritual bagi Gereja sebagai sebuah Komunitas Ekaristi. Jemaat Kristiani sejak awal, berpegang teguh pada amanat ini, dan tetap menjadikannya sebagai kekuatan spiritual yang mendorong mereka bertekun dan bersatu hati, meskipun dalam masa pengejaran.
Bagi kita sekarang, situasi sulit karena pandemi korona mendorong kita menghayati dengan lebih sungguh dimensi persekutuan spiritual sebagai Gereja: Apakah Ekaristi kita telah sungguh didasarkan pada ikatan spiritual atau sebatas perkumpulan dan ritualisme belaka?
4.2.Apakah ‘Komuni Spiritual’ juga Sakramen?
Jawabannya ya. Dasarnya: selain pada corak persekutuan spiritual Gereja di atas, juga pada teologi dan hukum. Teologi dan Hukum Gereja Katolik menetapkan bahwa syarat-syarat penentu validitas Sakramen Ekaristi adalah pelayan resmi, yaitu Imam tertahbis secara sah sebagai wakil Kristus (in persona Christi) [KHK. 900] serta Materi dan Forma Ekaristi[21].
Materi Ekaristi ialah roti dan anggur yang akan dikonsekrir oleh Imam menjadi Tubuh dan Darah Kristus; Forma Ekaristi ialah seluruh Doa Syukur Agung. Ketika Imam mengkonsekrir roti dan anggur dengan mengucapkan seluruh Doa Syukur Agung, Ekaristi sah dan valid. Secara teologis, sah berarti Kristus hadir secara nyata (realis praesentia) [DS.1651].
4.3.Rahmat Tuhan Berdaya, Namun Bukan Magis
Dari sudut pandang dunia simbol dan tanda, tentu harus diakui bahwa dalam ‘komuni spiritual’ kita merasa ada kekurangan. Namun kekurangan ini tidak mengurangi daya rahmat ilahi dalam Ekaristi. Ekaristi daring menjadi kesempatan untuk mengundang Tuhan hadir dalam hati. Komuni tanpa hosti kudus menjadi saat untuk menyadari bahwa peran simbol memang terbatas, tidak mutlak, namun kasih Tuhan tidak dibatasi simbol; bahwa, meskipun manusia suka menuntut tanda, namun kasih Tuhan selalu menyapa dengan lembut.
Gereja meyakini bahwa corak dasar rahmat ialah gratis atau cuma-cuma. Dalam misa daring, daya rahmat tak tampak secara nyata dalam tanda sakramental roti dan anggur. Kekurangan ini mendorong suatu kerinduan dalam diri manusia. Umat beriman hanya merindukan atau mendambakan kehadiran Tuhan secara mendalam, karena ia tak dapat menyantap-Nya melalui tanda konkret. Karena itu komuni spiritual juga sering disebut ‘komuni batin’ atau ‘komuni rindu’. Kita puas dengan mendambakan kehadiran nyata Tuhan.
Ketika kita harus beribadah di rumah saja, Yesus sedang berkata kepada kita, seperti kepada Zakheus: ‘hari ini aku harus menumpang di rumahmu’ (Luk. 19: 5). Dan kalaupun Tuhan mau datang ke dalam rumah kita, kita sadar bahwa sebenarnya tidak ada manusia sungguh layak menerima Dia: ‘Ya Tuhan, saya tidak pantas, bersabdalah saja, maka saya sembuh’ (bdk. Luk 7:6). Dengan kata lain, rahmat Tuhan sudah tersedia bagi kita, tetapi ia bukan kekuatan magis yang bisa kita tentukan atau atur dengan kata-kata mantra. Rahmat menjadi berdaya dan berbuah ketika manusia dengan tekun dan sepenuh hati melakukan kebajikan-kebajikan.
5. Yang Perlu Lebih Mendalam
5.1.Anugerah Persekutuan dengan Kristus
Ekaristi merupakan anugerah persekutuan yang paling istimewa[22], karena dengannya semua jemaat disatukan dalam hidup Kristus. Persekutuan ini tidak dibangun oleh manusia sendiri, tetapi oleh Kristus sebagai Tuan Rumah, melalui hidangan-Nya, yang tidak lain adalah diri-Nya sendiri. Dengan kata lain, “kebersamaan Ekaristis adalah kebersamaan dengan Kristus, yakni kebersamaan yang diadakan dan disediakan oleh Kristus sendiri”[23].
Karena itu, Ekaristi adalah identitas Gereja. Bagi Rahner, “dalam kurban perjamuan Ekaristi, Gereja merealisasikan diri dalam komitmennya yang absolut, dan mengungkapkan diri secara paling luhur, bukan sebagai individu tertentu, melainkan sebagai komunitas keselamatan”. Dan dalam dimensi eklesialnya, Ekaristi merupakan sakramen gerejani dalam makna “paling radikal”[24], sebab setiap orang yang berpartisipasi di dalamnya menerima komunikasi diri Kristus sendiri dalam wujud yang paling intens, yaitu Tubuh dan Darah-Nya.
5.2.Sehati dalam Komunitas
Berdasarkan studi tentang pandangan Santo Paulus, Kenan Osborne menegaskan bahwa dalam persekutuan Ekaristi, komunitas adalah realitas penting dan mendasar. Komunitas yang terpecah-pecah menyelewengkan Ekaristi yang sesungguhnya. Osborne juga menekankan bahwa: “Suatu perayaan Ekaristi perjamuan Tuhan yang sejati hanya terjadi apabila ada suatu komunitas iman yang layak, dan hanya dengan dasar inilah, kita dapat berbicara tentang spiritualitas ekaristis […] Sekalipun kata-kata ritual (1Kor 11: 24-25) diucapkan, namun tanpa adanya kasih (1Kor 11: 21-22), sebenarnya tidak ada Ekaristi”[25].
5.3.Persekutuan Semesta
Meyakini bahwa ‘Kristus hadir dalam rupa roti dan anggur’ bukan berarti menyangkal kehadiran-Nya dalam ciptaan dan dalam diri sesama, khususnya mereka yang menderita. Bagi seorang Kristiani yang hidup dalam rasa syukur, Ekaristi tidak selesai sebagai ritual di altar, melainkan mengalir sebagai “Ekaristi dunia”[26]. Bagi Paus Fransiskus, tujuan terdalam dari solidaritas global yang mengalir dari spirit Ekaristi ialah agar ibu bumi menampilkan situasi aslinya: utuh, indah dan harmonis. Keselamatan terwujud ketika relasi antara manusia semakin manusiawi, dan alam semesta sungguh menjadi ‘rumah bersama’ (LS. 1)[27].
6. Agar Tetap Mengalami Gairah Ekaristi
6.1.Bertekun Sehati Mendengarkan Sabda
Situasi sulit karena pandemi korona menjadi kesempatan bagi komunitas dan keluarga kita untuk lebih bertekun mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan.
Meja Sabda adalah bagian integral dari Meja Perjamuan. Bagi Karl Rahner, realisasi diri Gereja dalam Ekaristi terkait erat dengan Sabda. Karena itu Ekaristi dimaknainya dalam perspektif Sabda: “The Eucharist is Word”, demikian Rahner, “karena di sini (dalam Ekaristi), Logos Ilahi yang telah menjadi daging hadir dalam substansinya; di sini seluruh misteri keselamatan dinyatakan: terjadi anamnesis, di mana peristiwa pemberian diri Allah kepada dunia dan penyerahan diri Kristus di salib hadir di tengah kita secara sakramental; dalam ruang dan waktu, kematian Yesus diwartakan dan kedatangan-Nya kembali dirindukan”[28].
Ketika Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus, kedua murid mendengar Sabda-Nya, melihat Ia mengucap berkat, memecahkan roti, dan memberikannya kepada mereka. Lukas memang tidak menekankan tindakan ‘makan’ roti. Digambarkan bahwa Yesus malahan lenyap dari kedua murid itu. Namun Lukas melukiskan bahwa mata mereka terbuka dan mereka mengenal Dia, hati mereka berkobar-kobar, bangun kembali ke Yerusalem, dan di sana meyakinkan teman-teman bahwa sesungguhnya Tuhan telah bangkit (bdk. Luk 24: 31-35).
6.2.Bertekun dalam Amal Kasih
Kehadiran nyata Tuhan tidak hanya ditemui melalui ritus-ritus dalam gedung gereja, melainkan terutama dalam solidaritas dengan sesama. Sebab ketika kita tidak mampu menemukan Tuhan dalam diri sesama dan alam, sebetulanya kita juga tidak menemukan Dia dalam ritus-ritus dan doa-doa kita. Seruan tegas Yesus: “Kamu harus memberi mereka makan” (bdk. Mat 14: 14-23) merupakan amanat bagi kita untuk mewujudkan buah Ekaristi dalam tindakan kasih.
6.3.Sabat Bagi Ibu Bumi dan Sesama
Syukur adalah corak dasar komunitas ekaristis. Orang yang tahu bersyukur, tidak menuntut dan menumpuk segala sesuatu bagi dirinya. Syukur atas bumi berarti memberi kesempatan bagi alam, berhenti mengeksploitasinya. Syukur juga berarti memberi kesempatan bagi mereka yang lemah dan tersingkir untuk menerima hak-haknya. Itulah makna sabat: istirahat, pemulihan hubungan dengan Allah, sesama dan dunia (bdk. Kel. 23: 12) [LS 273].
6.4.Bertekun Dalam Pengharapan (bdk. Kis. 2: 46).
Persekutuan virtual menantang kita untuk lebih bertekun dan sehati dalam doa sebagai satu Gereja, komunitas, maupun keluarga. Ketekunan dalam iman yang mengandalkan pertolongan Tuhan membuahkan harapan dalam situasi-situasi sulit seperti sakit, kesepian, kematian.
Persekutuan virtual tak mengurangi harapan Gereja bahwa kesatuan Ekaristi adalah jaminan kemuliaan eskatologis: “Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (SC. 47); “Dalam pemecahan roti Ekaristis, kita secara nyata ikut serta dalam Tubuh Tuhan; maka kita diangkat untuk bersatu dengan Dia dan bersatu antara kita” (LG. 7). Paus Fransiskus pun melukiskan harapan Kristiani sebagai kekuatan yang ‘melampaui matahari’ (Judul Pokok IX dari Bab VI Laudato Sí).
Sumber Bacaan
Brown Raymond, The Gospel according to John I-XII, The Anchor Yale Bible, Yale University, New Haven and London, 2008.
Carbajo Nunes Martin, Sister Mother Earth. Franciscan Roots of the Laudato Sí, Tau Publishing, Phoenix, 2017.
Gagliardi Mauro, La Verità è Sintetica. Teologia dogmatica Cattolica, Cantagalli, Siena, 2017.
Groenen Cletus, Sakramentologi. Ciri sakramental karya penyelamatan Allah. Sejarah, wujud, sturktur, Kanisius, Yogyakarta, 1989.
Greshake Gisbert, Vivere nel Mondo. Questioni fondamentali della spiritualità cristiana, Queriniana, Brescia, 2102.
Jones Cheslyn et all (eds.), The Study of Liturgy, SPCK, London, 2004.
Martasudjita Emanuel, Sakramen-sakramen Gereja. Tinjauan Teologis, Liturgis dan pastoral, Kanisius, Yogyakarta, 2003
Marsili S., Eucaristia, Teologia e Storia della Celebrazione, Marietti, Milano, 2007.
Mazza Enrico, La Celebrazione eucaristica. Genesi del rito e sviluppo dell’interpretazione, EDB, Bologna, 2003.
Osborne Kenan, Komunitas, Ekaristi dan Spiritualitas (penerjemah: J Hartono SJ dan Tim Seminar Teologi Modern Fakultas Teologi, USD), Kanisius, Yogyakarta, 2008.
O’Connor James, The Hidden Manna. A Theology of the Eucharist, Ignatius, San Francesco, 1998.
Rahner Karl, The Content of Faith. The Best of Karl Rahner’s Theological Writings (eds. by Karl Lehmann and Albert Raffelt, trans. by Harvey D. Egan), Corssraod, NY., 1992.
[1] Kis 2: 46a: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah”.
[2] Cheslyn Jones et all (eds), The Study of Liturgy, 190.
[3] Bdk. Marsili, Eucaristia, 11-12.
[4] Martasudjita, Ekaristi, 237.
[5] Bdk. Gagliardi, La Verità è Sintetica, 740-742.
[6] Bdk. S. Marsili, Eucaristia, 20-21.
[7] Cheslyn Jones, The Study of Liturgy, 198.
[8] Tentang penggunaan kata daging, Brown memberi catatan demikian: Sebenarnya tidak ada kata tubuh dalam bahasa Ibrani atau Aram sebagai istilah yang biasanya kita mengerti; banyak ahli berpendapat bahwa pada Perjamuan Terakhir, kata yang digunakan Yesus sebenarnya ialah sebuah padanan dalam bahasa Aram, yang berarti Ini adalah daging-Ku. Dengan observasi itu ia meyakini bahwa “John is the closest of the Gospels to the original eucharistic language of Jesus”. Pilihan kata daging dengan jelas menunjuk misteri inkarnasi (in carnis) Kristus. Lihat R. Brown, The Gospel according to John I-XII, 285; Bdk. Martasudjita, Ekaristi, 244.
[9] Martasudjita, Ekaristi, 244.
[10] Dikutip dalam S. Marsili, Eucaristia, 15.
[11] Kepada umat di Philadelphia 4 (E. Mazza, La celebrazione eucaristica, 106).
[12] Kepada umat di Philadelphia 4 (E. Mazza, La celebrazione eucaristica, 108).
[13] Sebagaimana dikutip oleh O’Connor, The Hidden Manna, 13-14.
[14] Pada Konsili Vatikan II, dalam rangka pembaruan ritus-ritus sakramen, Konsili membentuk sebuah tim kerja bernama Coetus X. Salah satu tugas khusus tim ini ialah meninjau Kanon Romawi. Dari studi tim ini muncul tiga usulan paling penting: 1) Kanon ini dipertahankan tetapi dengan modifiaksi pada beberapa elemen kecil; 2) perlu ada sebuah Doa Syukur Agung yang kedua dengan variasi prefasi; dan 3) perlu sebuah anafora lain lagi dengan prefasi tetap. Menanggapi usulan Coetus X itu Konsili merumuskan dua anafora baru dengan memodifikasi materi-materi anafora Hippolitus dan Anafora versi Basilius dari Alexandria. Bdk. Alan F. Detscher, “The Eucharistic Prayers of the Roman Catholic Church”, 16-23.
[15] Sermo. CCXXVIII: On Easter Sunday (Bdk. James T. O’Connor, The Hidden Manna, 57.
[16] E. Mazza, La celebrazione eucaristica, 150.
[17] E. Mazza, La celebrazione eucaristica, 151.
[18] Sermoni 272: Ista, fratres, ideo dicuntur sacramenta, quia in eis aliud uidetur, aliud intelligitur. Quod uidetur, speciem habet corporalem, quod intelligitur, fructum habet spiritualem” (dikutip dalam E. Mazza, La celebrazione eucaristica, 151).
[19] Bdk. Gagliardi, La Verità è Sintetica, 788-789.
[20] Bdk. Groenen, Sakramentologi, 60-61.
[21] Bdk. Gagliardi, La Verità è Sintetica, 747-749.
[22] Bdk. Gisbert Greshake, Vivere nel Mondo, 58-60.
[23] Martasudjita, Ekaristi, 237.
[24] Karl Rahner, The Content of Faith (eds. by Karl Lehmann and Albert Raffelt), 548-549.
[25] Osborne, Komunitas, Ekaristi dan Spiritualitas, 36.
[26] Osborne, Komunitas, Ekaristi, dan Spiritualitas, 190.
[27] Bdk. Carbajo Nunes, Sister Mother Earth, 21, 210.
[28] Karl Rahner, Theological Investigations IV (translated by Kevin Smyth), 281.
Terimakasih Pater atas pencerahan akan Makna Ekaristi di masa Pandemi ini. Tulisanya singkat, enak dibaca dan mudah di pahami.