Kita semua sepakat: tak ada manusia yang pantas berbicara tentang Tuhan. Apakah itu berarti kita diam saja tentang Tuhan? Bagi Santo Agustinus, meskipun bahasa kita terbatas dan memang tak layak mengungkapkan tentang Tuhan, kita justru wajib berbicara tentang Tuhan, meskipun Ia tetap tak terperikan. Menarik, berbicara tentang Tuhan itu kewajiban.
Bila filsuf Ludwig Wittgenstein, seorang tokoh terkenal dari aliran Filsafat Bahasa, berpendapat bahwa orang orang harus diam diri tentang yang tak terkatakan (Tuhan), Bapa Gereja terkemuka, Santo Agustinus berkeyakinan bahwa kita justru wajib berbicara tentang Allah, kendati Ia bersifat tak terperikan.
Alasan Agustinus rangkap empat: untuk menghindari salah paham tentang-Nya, untuk menolong sesama dalam pergumulannya mencari-cari Tuhan, untuk mewartakan keagungan dan kebaikan-Nya dengan akibat – yang disukai Tuhan – bahwa kita sendiri digembirakan oleh kata-kata puji dan syukur kita, dan akhirnya untuk mengingatkan kita bahwa Tuhanlah kerinduan kita yang terdalam.
Kata Santo Agustinus: ‘Merindukan, mengejar, mendambakan Allah itu mungkin bagi kita. Memikirkan atau mengungkapkan-Nya dengan kata-kata yang layak bagi-Nya itu tidak mungkin’ (Nico Dister, Teologi Trinitas dalam Konteks Mistagogi, 309-310).
Untuk mewartakan keagungan dan kebaikan-Nya. Gracias Padre.
Sipp. Terima kasih Pater
Terima kasih Pater ….
Merindukan , mengejar,mendambakan …hal yg mungkin bagi Allah dan sudah sewajarnya.
Trimakasih Pater…
Pace e bene
Tk, saudaraku utk artikelnya yang bagus.