Akhir-akhir ini Daniel Mananta, artis, pembawa acara, dan Youtuber, ramai dibicarakan di medsos. Dalam sebuah videonya ia membuat pernyataan kontroversial tentang patung sebagai sarana doa. Pernyataan itu tampak jelas diarahkan kepada orang Kristiani. Ia juga menyebut orang Nasrani.
Daniel mengatakan bahwa ia setuju dengan pandangan Ustadz Abdul Somad yang mengatakan bahwa ada unclean spirit (roh jahat) di patung. Ustadz Abdul Somad pernah membuat pernyataan serupa, dan diketahui bahwa beberapa waktu lalu ia hadir sebagai narasumber di podcast Daniel.
Pro dan kontra bermunculan di medsos. Banyak orang Kristen (Katolik) mengkritik Daniel karena dianggap salah paham mengenai tujuan penggunaan simbol dalam praktik doa dan devosi sehat. Bagaimana mungkin ada unclean spirit di patung yang merupakan tanda dan simbol iman?
Teologi Katolik menempatkan dimensi indrawi manusia sebagai bagian dari ekspresi iman. Sebagai makhluk indrawi manusia memerlukan sarana untuk mengungkapkan imannya. Sebab Allah itu wujud Tertinggi, Maha Sempurna, melampaui nalar manusia. Sebenarnya semua agama butuh simbol.
Umat Katolik tak menyembah berhala dengan menjadikan patung sebagai tujuan doanya. Doa ditujukan kepada Tuhan. Pendoa mungkin saja menganggap patung sebagai benda magis, bahkan memperlakukannya sebagai berhala, sehingga mengaburkan iman akan Allah. Dalam hal ini kontroversi pernyataan Daniel dapat dimaknai sebagai kesempatan memurnikan iman.
Tetapi berhala sebenarnya bukan melulu soal penggunaan simbol oleh umat beragama. Iman Kristiani berpandangan bahwa berhala yang lebih serius terjadi dalam sikap manusia. Orang hidup dalam berhala ketika ia melekat pada materi duniawi, sehingga menjadikannya allah baru.
Pernyataan Daniel bisa ditanggapi secara positif: tantangan bagi orang Kristiani untuk memperdalam imannya. Misalnya dengan membaca teks Yes. 44: 13-20 yang ia kutip. Namun sangat dianjurkan bahwa teks itu dibaca secara utuh, ditafsirkan dengan memerhatikan konteksnya. Salam kasih!
Terimakasih Pater, pencerahan nya