Gereja Katolik ada dan hidup di dunia. Selama di di dunia Gereja itu bersifat sementara: Ia berdosa sekaligus kudus; berada di dunia sekaligus terarah kepada kehidupan surgawi; terluka dan ringkih, namun sekaligus penuh harapan akan sukacita akhir yang sempurna.
Selama masih di dunia Gereja bersksi tentang cirinya sebagai komunitas yang hidup kini dan sekarang, sekaligus yang berziarah menuju tujuan akhir di sana dan nanti. Pembelaan ini dikemukakan teolog dan filsuf Perancis Jean Luc Marion dalam bukunya A Brief Apology for a Catholic Moment (2021).
Dalam bahasa Santo Agustinus Hippo, Gereja melakukan tugasnya (actio) di dunia sekarang ini, namun dengan mata hati yang memandang (contemplatio) ke depan, yaitu saat kepenuhan eskatologis. Realitas akhir itu ibarat sebuah rahasia: tersingkap tetapi belum terbuka lebar.
Jadi Gereja adalah komunitas sempurna, bukan berarti ia sudah sempurna adanya di dunia, tetapi karena ia secara konsisten mengupayakan pertobatan dari dalam. Itulah identitasnya. Karena itu Gereja tak perlu berambisi untuk mengubah dunia, apalagi melekat padanya. Ketika Gereja atau komunitas gerejawi sudah merasa nyaman di dunia, misalnya karena perkawinan tak sehat dengan kuasa politik, ia sebenarnya kehilangan identitasnya.
Komunitas Katolik hendaknya hidup dalam krisis yang benar (true crisis), karena ia selalu ditantang untuk setia pada kehendak Allah Bapa, bukan kehendak dunia. Gereja Katolik tidak melekat pada dunia karena ia telah ‘dihakimi’ oleh Yesus, bukan dengan ukuran manusia, melainkan kekuatan Roh Allah sendiri:
‘Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorang pun, dan kalaupun Aku menghakimi (krinō, I put into crisis), penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Bapa yang mengutus Aku’ (Yoh. 8: 15-16).
Komunitas Katolik perlu hidup dalam krisis karena ia terpusat pada Kristus, yang dengan hidup dan pewartaan-Nya, memotivasi umat-Nya untuk menanggapi panggilannya sebagai anak Allah secara bebas. Gereja hidup dalam roh pembaruan terus-menerus, semper reformanda.
Dalam semangat pembaruan itu Gereja menghayati makna pertobatan atau metanoia: menyadari kelemahan dan dosanya, namun tidak mundur tan putus asa, melainkan mau berusaha bangkit kembali, membarui diri, menyembuhkan lukanya oleh dan demi kasih Yesus Kristus.
Dalam krisis agama karena arus sekularisme, Gereja Katolik mampu menampilkan kekhasannya, yaitu kesadaran yang matang bahwa dia tidak sempurna. Menurut pandangan Marion, kesadaran serupa tidak menjadi corak yang dipandang serius dalam komunitas sosial yang lain.
Terimakasih Pater, jadi semakin diserahkan.