Saya terkesan dengan salah satu bagian dari Ensiklik Magnifica Humanitas, karena sangat relevan jika dihadapkan dengan isu akhir-akhir ini dalam Gereja Indonesia, atau yang dihubungkan dengannya. Tentu suatu isu perlu diuji kebenarannya. Bagian yang saya maksudkan terdapat dalam bab dua, paragraf 86-89, di bawah judul An examen for the Church.
Paus tidak sedang bicara tentang Indonesia, namun pokok ini seakan berbicara kepada kita, pantas dimaknai sebagai ajakan: saatnya Gereja Indonesia memeriksa batinnya. Paus Leo berbicara tentang pentingnya tranparansi dan akuntabilitas dalam tubuh Gereja. Bahasa sederhananya kejujuran. Ia juga mengkritik keras budaya paternalisme dalam Gereja, jadi soal pemimpin yang main kuasa. Paus menantang Gereja untuk berbagi seperti cara hidup jemaat perdana.
Pada bab kedua Ensiklik Magnifica Humanitas, setelah menguraikan secara mendalam prinsip-prinsip dasar Ajaran Sosial Gereja, yaitu kebaikan bersama, kebaikan yang bertujuan universal, subsidiaritas, solidaritas, keadilan sosial, dan serta pengembangan manusia secara utuh, ia menutupnya dengan mengajak Gereja bertanya kepada dirinya. Bagi Paus, bagian ini dekat di hatinya.
Sebagai penutup (bab kedua), izinkan saya menyentuh satu hal yang sangat dekat di hati saya. Ajaran Sosial Gereja bukan hanya pesan untuk dunia di luar sana. Ajaran ini juga panggilan untuk Gereja bercermin dan memeriksa batinnya sendiri. Gereja adalah rumah dan sekolah persekutuan.
Karena itu Gereja selalu dipanggil untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip yang diuraikan dalam bab ini sungguh hidup, terutama di dalam struktur dan cara kerja kita sendiri. Di dalam Gereja, kebaikan bersama berwujud dalam cara berjalan bersama secara sinodal demi perutusan bagi Kerajaan Allah. Gereja adalah pelaku persekutuan dan sejarah dari sinodalitas dan perutusan. Hal ini menuntut kita memperhatikan bagaimana keputusan diambil dan tanggung jawab dijalankan. Dokumen Akhir Sinode menegaskan: budaya transparansi, akuntabilitas, dan evaluasi adalah praktik-praktik kunci untuk pembaruan yang misioner.
Karena itu, subsidiaritas menjadi pegangan utama dalam menata Gereja dan hidup pastoral kita. Artinya: kita mengakui dan mendampingi umat serta komunitas-komunitas gereja yang ada di tengah, supaya mereka bebas menjalankan tanggung jawabnya. Kita menghargai karisma dan talenta setiap orang, dan tidak jatuh ke sikap paternalisme yang justru mematikan semangat Injil. Keterlibatan semua umat yang dibaptis dalam mengambil keputusan dan memikul perutusan bersama harus nyata. Bukan sekadar rapat formal atau lembaga di atas kertas, tetapi ruang-ruang yang sungguh-sungguh mengajak semua orang ikut serta.
Bagi kita, umat Kristiani, solidaritas berawal dari Kristus sendiri dan dihidupi lewat Ekaristi. Dari iman dan sakramen kita menjadi satu: Baptis dan Penguatan menyatukan kita dalam Kristus, hingga kita menjadi satu tubuh, satu Roh, satu hati dan satu jiwa (bdk. Ef 4: 4; Kis 4: 32).
Ekaristi adalah sakramen persatuan. Dari sanalah kita belajar punya rasa memiliki sebagai Tubuh Kristus, dan belajar berbagi. Perbedaan cara pandang, kepekaan, bahkan keyakinan yang kuat dari tiap orang, justru jadi kekayaan Gereja. Asalkan kita tetap ingat: persatuan itu anugerah dari Allah yang kita terima, sekaligus tanggung jawab yang harus kita jaga bersama.
Menghidupi keadilan di Gereja berarti berani membereskan relasi dan struktur kita dari hal-hal yang melukai: ketimpangan, tertutup, dan kuasa yang disalahgunakan. Maka mendengarkan korban, baik karena luka rohani, ekonomi, kelembagaan, seksual, penyalahgunaan kuasa, maupun luka hati nurani, adalah bagian penting dari jalan keadilan.
Kita perlu mengakui luka itu, memulihkannya seadil-adilnya, dan mengambil langkah supaya tidak terjadi lagi. Setiap kuasa di Gereja ada untuk melayani persekutuan dan perutusan. Setiap wewenang ada untuk melayani Umat Allah. Pelayanan ini kita wujudkan bukan hanya lewat doa dan sakramen, bukan hanya lewat cara bekerja yang sinodal, tetapi juga lewat berbagi nyata.
Seperti Gereja perdana, apa yang kita miliki dibagi, supaya tidak ada yang berkekurangan di antara kita, dan supaya semua pengelolaan sungguh menolong pewartaan Injil kepada yang paling kecil dan paling miskin. Karena itu, baik juga kalau tanggung jawab pelayanan dievaluasi secara berkala. Bukan untuk menghakimi orang, tapi supaya kita sama-sama belajar dan bertumbuh demi misi.
Hanya kalau kita sungguh membuka hati pada Roh Kudus, prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja ini akan menjadi daging dan darah dalam hidup kita. Dengan begitu, Gereja bisa jadi saksi yang dipercaya oleh dunia: bahwa mengejar kebaikan bersama, dengan tanggung jawab dan persaudaraan yang dibagi, itu bukan mimpi. Hal itu mungkin, dan harus kita wujudkan.


