Salah satu karya sangat penting Santo Agustinus ialah buku De Trinitate (The Trinity, Tentang Trinitas). Menarik, karya ini ia kerjakan selama 20 tahun, mulai tahun 399 sampai 419 (atau 400-420).
Ia sendiri menyadari bahwa karya ini sesuatu yang serius, karena merupakan bentuk pembelaan kebenaran utama iman Kristen di hadapan para lawannya. Oleh karena itu ia menulis begini:
“Selain misteri kesatuan Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, tidak ada tema lain yang tentangnya kita mungkin melakukan kesalahan paling serius, tetapi yang sekaligus mendorong penelitian paling ketat, dan membuahkan penemuan yang paling kaya” (De Trinitate I: 3.5).
Karya ini juga mengekspresikan dambaan terdalam hati Agustinus sebagai seorang Kristen akan sang Pencipta. Hal itu diungkapkannya dalam sebuah doa dengan dengan mengutip kata-kata Mazmur 105: 3-4: “Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan! Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu”! (De Trinitate I, 2.5).
Hal lain yang menarik dari karya tersebut ialah doa permohonan Agustinus kepada Tuhan untuk membimbing dia sendiri sebagai penulis maupun mereka yang akan membaca karyanya ini:
“Saya berdoa mohon pertolongan Tuhan agar dapat memahami dan menjelaskan hal-hal yang saya maksudkan, dan sekaligus mohon pengampunan sekiranya saya salah […]; saya mohon maaf juga kepada mereka yang hendak membaca karya ini, kalau mereka menemukan bahwa saya telah mengatakan apa yang seharusnya tidak mampu saya katakan, atau karena mereka memahaminya dengan lebih baik, atau merekalah yang tidak dapat memahaminya karena bahasaku yang sulit dimengerti; dan sayapun memaafkan para pembaca sekiranya mereka tidak dapat memahaminya justru karena kelambanan mereka sendiri” (De Trinitate V, 1).
Bagi Agustinus, intelek merupakan karunia yang istimewa bagi manusia. Namun sebenarnya manusia sendiri tidak mampu menjelaskan asal-muasal intelek dan bagaimana kemampuan istimewa itu bekerja dalam dirinya. Karena itu ia mengingatkan pembcanya bahwa jika manusia tidak mampu menyelami keistimewaan intelek, maka tak layak pula baginya mengklaim mampu menyelami misteri Allah Trinitas dengan intelek itu:
“Seperti apakah kemampuan intelektual yang dimiliki manusia sehingga, dengannya ia hendak memahami Allah, sementara ia sendiri tidak menyelami kemampuannya itu sendiri? Seandainya ia mampu menyelami kemampuan intelektualnya, ia harus ingat bahwa itu merupakan kemampuan terbaik yang ia miliki [….] Jika kita tidak mampu memahami bagian yang paling istimewa dalam diri kita, bagaimana kita mampu memahami Dia yang jauh lebih mulia dari kemampuan istimewa yang kita miliki itu”? (De Trinitate V, 2).
“Rasul Yohanes berkata: Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah” (1Yoh 4: 8, 16). Mengapa harus pergi sambil berlari ke langit yang paling tinggi, ke bumi yang paling dalam, hanya untuk mencari Dia yang tinggal dalam diri kita, sekiranya kita mau tinggal dalam Dia? Allah adalah kasih. Dalam kasih terdapat tiga hal: dia yang mencintai, dia yang dicintai, dan kasih” (bdk. De Trinitate VIII, 7.11).
myroom 28/08/019
Bermegalah didalam namaNya yang kudus,biarlah bersukahati orang orang yang mencari Tuhan.Carlah Tuhan dan kekuatanNya carilanh wajahNya selalu*(Mazmur 105:3_4)**Allah adalah Kasih,barang siapa berada di dalam kasih ia tetap berada di dqlam Allah..&&&Terima kasih pater,telah menyuguhkan tulisan tentang Trinitas***(Salam & Doa..semoga ama romo sehat selalu.)
Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum!