Apa itu Gereja? Apakah pada masa Perjanjian Lama, sudah ada Gereja? Apakah Yesus Kristus adalah pendiri Gereja? Pertanyaan-pertanyaan tersebut coba dijawab dalam artikel ini.
Etimologi. Kata ‘gereja’ dapat ditelusuri dari Alkitab terjemahan bahasa Yunani, yaitu ekklēsia (bahasa Latin: ecclesia). Dalam teks-teks Perjanjian Baru, istilah ekklēsia sering kali merujuk pada istilah bahasa Ibrani qāhāl atau ēdâ, yang berarti perkumpulan rakyat atau jemaat. Kata bahasa Indonesia ‘gereja’ berasal dari kata bahasa Portugis igreja.
Kata qāhāl dikaitkan dengan perkumpulan orang untuk sebuah kegiatan yang berkonotasi sakral. Misalnya dalam Ul 9: 10; 10: 4; 18: 6. Istilah ēdâ menunjuk perkumpulan jemaat di bawah seorang pemimpin (Kel 16: 22; 38: 25; Im 4; 15; 8: 3-5; 9: 5; 10: 6,17; 24: 4, 16). Dalam Kel 12: 3,6,47, kata ēdâ menunjuk umat Israel yang berkumpul untuk ritus Makan Paskah.
Sejarah umat Israel tak hanya bersifat profan, tetapi juga sakral, karena terkait erat dengan rencana Allah untuk menyelamatkan dunia. Israel disebut sebagai jemaat Allah (Bil 16: 3). Sebab itu pemahaman tentang Gereja berakar dalam Perjanjian Lama, meskipun di sana belum terbentuk Gereja sebagai suatu struktur seperti yang kita pahami sekarang.
Yesus Mendirikan Jemaat yang Tetap Hidup. Hubungan Gereja sekarang dengan umat Israel dahulu sudah kelihatan, sekurang-kurangnya jika kita memaknai kata gereja secara etimologis. Dalam PB, terdapat dua teks Injil Matius yang menjadi dasar pemaknaan kata ekklēsia. Pertama, Mat 16: 18: “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya”.
Tiga poin fundamental terkandung dalam ayat tersebut: 1] Yesus berbicara tegas sebagai orang pertama (Aku), disertai ekspresi personalisasi: Aku mendirikan jemaat-Ku; 2] Petrus bukan pendiri Gereja, namun diberi mandat sebagai batu dasar bagi Gereja, dan Yesus sendiri menjamin bahwa jemaat-Nya tak akan dikuasai maut; 3]. Gereja yang didirikan Kristus tidak akan dikuasai maut, artinya pemerintahan Kristus berlaku baik di dunia maupun di akhirat.
Matius memberi gelar ‘batu karang’ (Kefas) bagi Petrus. Penekanan nama ini paralel dengan beberapa teks dari surar Paulus: Gal 1, 18; 2: 9,11,14; 1Kor 1: 12; 3: 22; 9: 5; 15: 5.
Dalam PL, batu merupakan simbol kekuatan Allah yang menjamin hidup manusia dalam situasi sulit. “Sebab siapakah Allah selain dari Tuhan, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita”? (Mzm 18:32; bdk 62: 8; 73: 26; 89: 27; Yes 51: 1-2).
Teks penting yang kedua dari PB ialah Mat 18: 17. “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai”.
Ayat tersebut memberi indikasi kesatuan jemaat Matius: Mereka hidup di bawah otoritas norma dan kepeimimpinan. Spirit dasar dari persekutuan jemaat ini ialah persaudaraan. Sebab itu, amarah dan kebohongan merupakan lawan dari corak dasar jemaat tersebut.
Kristus Kepala Gereja. Teks Mat 6: 18 menujukkan bahwa Gereja memiliki makna ganda: Ia merupakan sebuah komunitas jemaat lokal yang hidup dalam batas wilayah atau komunitas di bawah seorang pemimpin. Namun Gereja juga memiliki dimensi rohani-spiritual, karena ia milik Kristus. Injil Matius menunjukkan bahwa Krstus adalah pendiri dan pemilik Gereja.
Paulus memaknai Gereja sebagai ‘Tubuh Mistik Kristus’ (Ef 1: 23; Kol 1: 18). Gereja digambarkan sebagai tubuh, dan Kristus adalah kepala tubuh, artinya sebagai sumber hidup rohani bagi Gereja (Ef 4: 16: Kol 2: 19). Kristus mengasihi Gereja seperti suami mengasihi isteri (Ef 5: 25). Sebagai kepala Gereja, Kristus melindunginya dari pemerintah dunia yang gelap (Ef 6: 12).
Konsili Vatikan II, dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, memaknai Gereja sebagai ‘sakramen’, yaitu ‘tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia’ (LG. 1). Sakralitas Gereja didasarkan pada persekutuan Trinitas: ‘Gereja tampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus’ (4).
Yesus Mendirikan Gereja? Apakah dalam sejarah umat Israel sudah terdapat Gereja (G besar)? Jawabanya: belum ada. Namun perlu dikatakan bahwa spirit awal hidup menggereja sudah ada di sana, terutama dalam pengertian bahwa Allah sendiri memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya, hadir untuk menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir.
Apakah Yesus mendirikan Gereja? Jawabannya ‘ya’ dan ‘tidak’. Ya, karena Ia sendiri, melalui seluruh hidup dan karya, serta kematian dan kebangkitan-Nya, serta melalui ajaran yang Ia berikan kepada para Rasul, memberi dasar kuat serta sentral bagi kumpulan jemaat Kristiani. Ia sendiri menegaskan bahwa Ia mendirikan dan menjadi pemimpin jemaat (teks Matius).
Tidak, karena Yesus tidak eksplisit merencanakan sebuah komunitas Gereja yang disertai strukutur organisasi seperti yang kita miliki sekarang. Dengan kata lain, relasi Gereja sekarang dengan Kristus terutama bersifat batiniah-spiritual, bukan organisasasi-struktural.
Terima kasih pater untuk penjelasannya.
selama ini sy kira jawabnya hanya satu yaitu,,,Ya,,ya Yesus benar Mendirikan Gereja berdasarkan Mandat Yesus pada Petrus ” di atas Wadas ini akan Ku dirikan Jemaat-Ku”. Hehehe
Terimakasih ama pater,jadi tambah wawasan untuk berpikir dan menjawab ketika pertanyaan itu muncul dalam kehidupan ber KBG.??????
Pemahaman tentang Gereja dalam kaitan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru….Terima kasih atas penjelasan pater, —Salam dan doa, semoga pater sehat selalu..
Terima kasih Pater
Terimakasih sda untuk setiap ulasannya….