Bab Kedua Fratelli Tutti dengan judul Orang Asing di Jalan, diawali dengan teks Gaudium et Spes (GS.1) dari Konsili Vatikan II yang menyatakan bahwa sukacita, harapan dan kesedihan semua manusia adalah sukacita, harapan dan kesedihan para pengikut Kristus. “Kegembiraan dan Harapan, duka dan kecemsan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.
Paus lalu membentangkan teks Luk 10: 25-37, perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati. Perumpamaan dengan tema belas kasihan ini dikemukakan Yesus untuk menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat: ‘siapakah sesamaku manusia’?
Pijakan Alkitab. Yesus tidak menunjuk kriteria tertentu, tetapi berkisah tentang orang Samaria yang baik hati. Di akhir perumpamaan itu Yesus bertanya kepada ahli Taurat: ‘siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama bagi manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun’? Ahli Taurat menjawab dengan tepat: ‘orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya’. Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘pergilah dan perbuatlah demikian’ [56].
Pertanyaan tentang siapa sesamaku berakar dalam Perjanjian Lama, terutama dalam kisah Kain dan Habel. Kepada Kain yang telah membunuh adiknya, Tuhan bertanya: ‘di mana Habel adikamu’? Kain menjawab: ‘Aku tidak tahu. Apakah aku penjaga adikku’? (Kej 4: 9). Pertanyaan Tuhan ini mengajak kita menyadari tentang semua bentuk perbedaan yang dibuat manusia, yang menjadi pembenaran bagi dirinya untuk tidak bertanggung jawab terhadap sesamanya. Jawaban serupa dari Kain sering keluar dari mulut kita: apakah aku penjaga saudaraku? Apakah aku penjaga saudaraku? [57].
Dasar alkitabiah dari persaudaraan universal ialah kesetaraan manusia di hadapan satu Pencipta (bdk Ayb 31: 15). Dalam tradisi Yahudi, paham cinta kepada sesama mula-mula dibatasi pada ikatan keluarga: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’ (Im 19: 18). Namun dalam perkembangan kemudian, penerapannya semakin meluas, karena pemaknaan ‘saudara’ ditempakan pada kasih Tuhan yang universal: ‘Belaskasih manusia hanya merangkum sesamanya, sedangkan belaskasihan Tuhan melingkungi segala makhluk’ (Sir 18: 13). Dalam Perjanjian Baru, teks Mat 7: 12 merangkum isi hukum Taurat dan para nabi: ‘segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka’.
Aku setara dengan saudaraku karena kami sama-sama dijadikan dari rahim Tuhan; ia saudaraku, karena ia bukan tiruan, tetapi dijadikan pula oleh Bapa. Kasih Tuhan melampaui batas-batas buatan manusia. Ia menerbitkan matahari bagi orang jahat maupun orang baik (Mat 5: 45). Maka, hendaknya kalian menjadi sempurna seperti Bapamu sempurna adanya (Luk 6: 36) [58-59].
Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan teks-teks yang menjadi dasar untuk membuka hati bagi orang-orang asing. Orang Israel dulu menjadi orang asing di Mesir, dan mereka diselamatkan Tuhan (bdk Kel 20: 20; 23: 9; Im 19: 33-34; Ul 24: 21-22). Dalam PB, perhatian bagi orang asing didasarkan pada teks Gal 5: 14; 1Yoh 2: 10-11; 3: 14; 4: 20. Ajakan berbuat baik bagi orang asing juga terjadi dalam komunitas Paulus (1Tes 3: 12) maupun komunitas Yohanes (3 Yoh: 5) [60-62].
Ditinggalkan. Ada seseorang yang jatuh di tangan penyamun. Ia terluka, hampir mati. Dua orang yang memiliki peran penting dalam masyarakat mengabaikannya. Lewat begitu saja. Untuk sekedar mencari bantuan pun mereka tidak sempat. Seorang Samaria datang memberi pertolongan: merawat, membayar biaya perawatan. Ia memberikan hal yang dalam dunia serba cepat ini kita sangat menghematnya: waktu. Ia mungkin memiliki rencana lain, namun ia mengabaikan semuanya, dan mengutamakan orang asing yang terluka. Ia memberi waktunya bagi seorang asing [63].
Dengan siapa Anda menyamakan diri: orang terluka, penyamun, imam, orang Samaria? Pertanyaan ini sungguh menantang kita. Mengabaikan: itulah mentalitas dunia kita. Dan sayangnya, itu menjadi umum. Sejauh sesuatu atau seseorang tidak menjadi urusanku atau menimbulkan masalah bagiku, aku tak akan menyentuhnya. Kita mengutamakan kepentingan diri. Kita mengutamakan kemajuan dunia dengan menghindari sesama yang terluka. Orang Samaria yang baik hati mengundang kita untuk memaknai bahwa hidup bukan berarti: melewati melainkan menjumpai [64-66].
Perumpamaan ini adalah panggilan bagi kita untuk merawat sesama yang terluka. Kebaikan bersama dalam masyarakat terwujud bukan karena kita mengabaikan mereka yang terluka. Sebaliknya: menjumpai dan merawat adalah cara terbaik membangun rumah bersama. Yang ditampilkan dalam perumpamaan ini bukan sebuah ajaran teoritis-ideal, melainkan corak universal manusia: dijadikan dari dan demi satu tujuan, yaitu kasih. Kita tidak pantas membangun kesejahteraan dengan membelakangi sesama yang terluka [67-68].
Kisah yang Terulang. Kisah dalam teks ini selalu kembali dalam sejarah dan pengalaman keseharian kita. Setiap hari selalu ada orang yang terluka di dunia. Maka kita selalu dihadapkan pada pilihan: menjadi imam dan lewi atau orang Samaria yang baik hati? Harus dikatakan pula bahwa kalau kita melihat sejarah hidup kita secara keseluruhan, secara tertentu kita masuk dalam semua peran itu: orang yang terluka, penyamun, imam atau lewi, maupun orang Samaria yang murah hati.
Di hadapan orang terluka, kita berhadapan dengan dua pilihan yang jelas: menjadi orang yang mengabaikan atau yang merawatnya? Itulah tantangan bagi dunia aktual. Orang Samaria telah memperlihatkan bahwa ia tergerak oleh rasa kemanusiaan. Motif kemanusiaan membuka hatinya melampaui batas agama, kultur, atau peran sosial, yang telah lama membatasi mereka [69-71].
Sosok. Sosok penyamun dalam teks ini jelas kita lihat juga dalam kenyataan sosial: Orang yang mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok, yang bertindak brutal dengan kekerasan.
Apa yang akan kita lakukan ketika melihat kekerasan penyamun yang meniggalkan orang terluka: Kita mungkin saja mengambil tindakan yang berbeda: menjauh dari panyamun agar terlindung dari kekerasan atau memilih untuk mengejar para penyamun? Akankah kenyataan orang terluka menjadi alasan untuk membenarkan cara bertindak kita yang berbeda-beda? [72]
Perumpamaan lalu menampilkan sosok seperti imam dan lewi, yaitu orang yang hanya melihat dari kejauhan. Merasa sedih pun tidak. Ada jarak yang memisahkan mereka dengan orang terluka yang terkapar di jalan. Orang dengan mudah menemukan perbedaan yang menjadi alasan untuk menghindari diri dari orang yang terluka. Yang perlu disadari di sini ialah bahwa kita dapat membenarkan diri dengan berbagai alasan, bahkan demi alasan kemajuan, tetapi dengan cara mengabaikan saudara yang terluka [72-74]. Sikap imam dan lewi menunjukkan bahwa:
“…percaya pada Tuhan dan menyembah-Nya bukan jaminan bahwa orang hidup sesuai keinginan Tuhan. Seseorang yang beriman belum tentu setia pada semua yang dituntut oleh iman itu sendiri, meskipun ia bisa merasa dekat dengan Tuhan dan merasa lebih layak dari orang lain. Sebaliknya ada orang yang menghayati iman dengan memupuk hati yang terbuka bagi saudari dan saudara lain, dan itu menjamin keterbukaan otentik kepada Tuhan… Paradoksnya ialah bahwa sering kali mereka yang tidak percaya dapat menjalankan kehendak Tuhan secara lebih baik dari pada orang percaya” [74].
Penyamun adalah orang yang membuat sistem: menunggu sasaran dengan cara rahasia, mengantisipasi saingan, memanfaatkan orang lain yang dapat diajak bekerja sama. Sosok seperti ini banyak kita jumpai dalam masyarakat: Mereka adalah orang-orang yang tampil dalam sistem sosial dan politik, namun dengan licik mempropagandakan kepentingan pribadi atau kelompok. Paus menekankan bahwa adanya bahaya kemunafikan dalam sistem politik dan sosial [75].
Akhirnya ada sosok orang terluka. Mungkin kita sendiri pernah merasakan sebagai korban terluka, baik dalam lingkungan kecil seperti keluarga dan komunitas atau dalam konteks sosial-politik: karena sistem politik, karena kepentingan penguasa, ideologi. Kita tergeletak dibiarkan terluka di jalan. Di zaman kemajuan ini, orang terluka sering hanya mendapat perlakuan yang elegan: menjadi berita hangat di media, tetapi tidak disentuh, tidak ditolong. Mereka hanya dilihat dari kejauhan [76].
Mulai Lagi. Dalam situasi seperti pandemi korona ini, kita punya banyak kesempatan untuk menjadi seperti orang Samaria yang baik hati, menjadi saudara bagi orang lain, tanpa menunggu sistem. Kita dapat berbuat baik, dari bentuk yang sederhana sampai yang lebih besar. Di hadapan berbagai kepentingan serta ambisi politik dan ekonomi, kita konsisten berbuat baik; juga kalau kita tahu bahwa logika kekerasan itu selalu terulang, karena ambisi-ambisi manusia [77].
Tuhan telah menabur benih baik dalam diri manusia, tinggal kita merawatnya, tanpa takut, dan selalu bersama, bukan sendiri dan secara individu. Orang Samaria itu telah melakukan misi kemanusiaan secara tulus, tidak meminta balasan atau ucapan terima kasih. Ia melakukan apa yang seharusnya dilakukan: demi martabat manusia. Ia tidak melakukannya sendiri. Ia meminta bantuan kepada pemilik penginapan untuk membantu merawat orang yang terluka [77-79].
Sesama tanpa Batas. Kata ‘sesama’ waktu itu diartikan sebagai orang yang menjadi bagian dari kelompok atau keluarga. Orang Samaria adalah kelompok pinggiran, seorang pagan. Sebagai orang asing justru dialah yang telah memperlihatkan apa artinya menjadi sesama: Ia adalah orang yang bebas. Ia membongkar batas antara Yahudi dan Samaria, sebuah batas ideologis yang telah lama membelenggu mereka. Di hadapan luka kemanusiaan, kita perlu bergerak keluar dari batas diri. Yesus sendiri telah memperlihatkan keterbukaan bagi perbedaan (bdk Yoh 4: 9; 8: 48) [80-83].
Yesus sendiri dalam hidupnya membangun relasi yang melampaui batas. Menarik, dalam teks perumpamaan ini orang yang jatuh di tangan penyamun adalah penduduk Yerusalem, seorang Yahudi; sedangkan yang membantunya adalah seorang Samaria, orang asing di mata Yahudi. Orang Samaria dianggap sebagai orang pinggiran, pagan, berbahaya: ‘bukan bangsa’ (Sir 50: 25, 26).
Maka dapat dipahami mengapa perempuan Samaria bertanya kepada Yesus: ‘Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria’? (Yoh 4: 9). Orang yang mau menyerang Yesus juga menuduh dia sebagai orang Samaria dan kerasukan setan (Yoh 8: 48). Maka teks ini menggerakkan kita untuk mengasihi melampau semua batas agama dan manipulasi.
Yesus sendiri pernah berkata: “Ketika Aku seorang asing kamu memberi Aku tumpangan” (Mat 25: 35). Menerima orang asing berarti menerima Yesus sendiri (Mat 25: 40,45). Bagi seorang Kristiani, tanpa menyoal asal seseorang, ia tetap dapat mengasihinya sebagai sesama ‘satu daging’ (bdk Yes 58: 7). Poin kemanusiaan universal ini hendaknya mewarnai katekese Gereja [84-86].
Selamat pg pater, terima ksih utk atas ensikik Fratelli tutti… Marilah kita berbuat baik terhadap sesama tanpa memandang siapapun dia. Belajar dr orang samaria yang baik hati…
Terima kasih Pater untuk renungan yg menginspirasi. kita berbuat baik ada pamrihnya karena berbagai batas persamaan. Smg kita dapat bersolider tanpa pamrih dan tanpa batas persamaan.
Sl Luar biasa sharenya Kak Pater dan sl menginspirasi .. semoga kamu jg memiliki Kasih yg tampa batas seperti Tuhan sudah memberikan pada kita semua…. Amen…
Terima kasih kak Pater…
Slm sehat dan tetap semangaaat dr kami b3..