Delapan abad lalu Fransiskus Assisi mewariskan kepada Gereja suatu pesan tentang manusia: Jangan lelah menjadi manusia. Cintailah kemanusiaanmu, karena ia anugerah Allah. Fransiskus mengalami bahwa kemanusiaannya diterima oleh Allah.
Tuhan mencintai Fransiskus yang terluka, mengasihi dia sebelum ia mendambakan Dia. Maka Fransiskus tidak takut melihat dirinya. Fransiskus mengalami kasih Tuhan dalam sentuhan kasih insani-Nya yang radikal. Tidak ada manusia begitu hangat seperti Yesus.
Fransiskus jatuh cinta pada Yesus, karena Ia mau menjadi daging. Daging itu rapuh, namun Tuhan memilihnya sebagai tempat penjelmaan Diri-Nya. Jangan jijik dengan kedagingan kita, tapi sambutlah dia, rasakan kasih insani Yesus yang menyentuhnya.
Fransiskus tak puas memandang Yesus tersalib. Ia masuk bersembunyi dalam luka-luka-Nya itu, dan dibasuh oleh bilur-bilur-Nya. Fransiskus bukan menjadi miskin agar dapat mengikuti Yesus. Rahamt-Nya telah menyembuhkan dia, maka ia mau menjadi miskin.
Setelah delapan abad, Fransiskus menyapa kita dengan sapaan lembut. Ia pernah mendamaikan warga Gubio dengan seekor serigala buas. Ia mengajak warga berdamai dengan serigala. Berdamailah dengan serigalamu. Jangan menyerang dia.
Warga dunia kini diintai serigala baru. Manusia daging berinteligensi itu, seakan menjelma menjadi serigala, lalu memberontak melawan dirinya. Fransiskus kembali menyapa lembut: berdamailah dengan dirimu, berdamailah dengan buatan tanganmu.
Seperti Fransikus, kita telah mengalami kasih Tuhan. Ia yang Mahakuasa mengasihi kita dengan sentuhan insani yang paling lembut. Ini bukan sentuhan virtual yang bening, tapi sentuhan kulit yang hangat. Ia mengundangmu: Taruhlah jarimu di sini.
Dulu Fransiskus menyapa saudara serigala. Kini kita berseru: Terpujilah Engkau Tuhanku karena saudara robot, dia memantulkan aku. Ketika saatnya mesin binasa oleh karat dan ngengat, aku mau berseru sambil menatap sang Tersalib: magnifica humanitas!


