Francis of Assisi a seed for eternal life. Fransiskus Assisi dilukiskan sebagai sebuah benih hidup kekal. Setelah delapan abad, di manakah benih itu?
Benih itu telah menjadi pohon yang subur dan berbuah lebat. Kini benih itu telah kembali menjadi humus bagi masa depan baru.
Benih kehidupan kekal tumbuh dalam hati Fransiskus Assisi. Hatinya ibarat humus tanah yang subur. Humilitas menjadikan benih ilahi tumbuh, bercabang, berdaun lebat, berbuah banyak.
Humus tanah tidak menyuburkan dirinya. Ia humus bagi pohon yang baru. Ia humble. Ketika buah dimakan, daun menjadi obat-obatan, dan pohon menjadi tiang, orang tak memuji humus. Hati Fransiskus lembut dan rendah. Ia tersembunyi. Ia tak menjadi congkak.
Fransiskus menikmati hidupnya di dunia. Tepatnya ia mengasihi dunia. Maka ia mau merehabnya. Anehnya ia tak berniat memiliki dunia. Ia mengambil jarak darinya. Tak melekat padanya. Fransiskus merangkul erat dunia, maka ia tahu bahwa aroma harum dunia berhembus sesaat.
Tanah yang subur sekalipun tetaplah tanah. Ia memberi hidup, namun ia tak pernah tumbuh sebagai benih, apa lagi menjadi pohon. Pada saatnya tanah menjadi tandus. Humusnya mati demi benih baru. Fransiskus sadar betul, ia hanya musafir dan perantau di dunia.
Baik kehidupan maupun kematian sangat dekat dengan tanah. Tanah digali untuk menanam atau menguburkan sesuatu. Fransiskus selalu memaknai keduanya. Maka bagi dia, Sorella Morte bukan sebuah film horror, melainkan adegan baru dari orkestra kudus kudus kudus.
Setelah semua siklus dunia ia jalani dan musim-musim ia lewati, Fransiskus tahu, kini saatnya ia melewati pintu sempit. Kesuburannya telah mengalir, meresap jauh, dan ia tetap sebuah benih, bagaikan biji sesawi, melebur menjadi debu tanah, menumbuhkan harapan baru.


