Magnifica Humanitas. Tentang Perlindungan Pribadi Manusia di Era Artifical Intelligence. Seperti tampak pada judulnya, Ensiklik pertama Paus Leo ini berbicara tentang keluhuran martabat manusia dalam era kemajuan Artificial Intelligence. Poin yang disoroti ialah martabat manusia; dan konteks aktual yang menjadi locus refleksi ialah kemajuan teknologi AI.
Kemajuan mutakhir AI dibicarakan mengingat bahwa dalam sejarah dunia, di tangan manusia, teknologi tidak pernah netral, tetapi berdampak. Dalam konteks Ensiklik ini, pertanyaan utamanya bukan boleh atau tidak boleh menggunakan AI, tetapi apa dampaknya bagi bumi dan umat manusia?
Dua dokumen lain paling dekat yang mengantisipasi isu martabat manusia ialah Deklarasi tentang Martabat Manusia, Dignitas Infinita 8 April 2024 dan refleksi teologi, Quo Vadis Humanitas 19 Februari 2026. Keduanya terbit dari Dikasteri Doktrin Iman. Baik QVH maupun MH, khususnya bab tiga, menanggapi isu posthumanisme dan transhumanisme.
Dua paragraf pertama MH dengan terang menegaskan corak kristologis: keyakinan Kristiani bahwa keluhuran martabat manusia yang utuh menjadi jelas hanya dalam peristiwa Firman menjadi daging, diri Yesus Kristus. Dalam Kristus manusia memandang keindahan martabatnya. Yesus itu manusia utuh, karena Ia menyadari dan mempersembahkan kehendak dan keterbatasan-Nya kepada Bapa.
Selain ciri kristologis, ciri kodrat manusia sebagai citra Allah Trinitas pun dirumuskan: “Berlandaskan Kristus, batu yang hidup, kita mengalami karya Roh Kudus yang penuh kuasa dan misterius, dan kita percaya bahwa setiap upaya manusia yang tulus untuk bekerja sama dengan-Nya demi kebaikan, akan diberkati oleh Bapa surgawi kita, yang kepada-Nya kita menaruh harapan kita” (2).
Bab pertama, sebagai refleksi biblis, menampilkan dua teks biblis yang kontras satu sama lain: Kisah Menara Babel versus pembangunan kembali kota Yerusalem. Yang pertama menampilkan ambisi manusia membangun menara dengan mengabaikan kuasa Allah. Ambisi manusia itu mendatangkan keruntuhan. Teks kedua, menampilkan kerja sama untuk membangun kota yang telah runtuh, tahap demi tahap, melibatkan tanggung jawab bersama, bertujuan membangun kebaikan bersama, tanpa mengabaikan kuasa Allah.
Kedua teks biblis ini memberi ilustrasi tentang pencapaian manusia yang paling paling menakjubkan di era ini, sehingga ia begitu terobsesi dengan kemampuannya sendiri. Obsesinya itu dapat berbuah baik, yaitu keutuhan hidup di rumah bersama, atau sebaliknya menjadi bencana baginya. Paus Leo mengulang kalimat yang sering dikatakan Paus Fransiskus: Manusia dapat menciptakan untuk membinasakan, ia menjadi monster bagi dirinya.
Di era kontemporer ini, semakin kuat dirasakan bahwa kekuasaan tidak selalu berbanding lurus dengan kebaikan bersama. Paus menegaskan kritik Romano Guardini kepada orang modern: Orang-orang kontemporer tidak pernah dilatih untuk menggunakan kekausaan dengan baik. Oleh sebab itu, sangat diperlukan regulasi yang transparan bagi para pemegang kekuasaan, termasuk bagi pencipta teknologi AI agar kuasa mereka benar-benar dapat digunakan untuk kebaikan bersama, dan tidak merugikan masyarakat, terutama kaum rentan.
Kedua, rangkuman padat tentang ASG Katolik. Mulai dari Rerum Novarum Paus Leo XIII pada 1891, sampai ajaran Paus Fransiskus. Setiap era memiliki hal baru tersendiri. Hal baru sekarang ialah mesin algoritma. Juga di era AI ini kemajuan hendaknya dimaknai sebagai sarana untuk kesejahteraan umat manusia, keluhuran martabat manusia, kebaikan bersama.
Dari masa ke masa Ajaran Sosial Gereja Katolik konsisten menyuarakan primat martabat manusia; sumber bumi bagi semua umat manusia; subsidiaritas, keadilan sosial. Magnifica Humanitas memberi suara moral bagi Negara dalam mengambil keputusan politik, agar tidak dihantui sindrom Babel melainkan dengan spirit sinodalitas.
“Saya fokus menegaskan kembali beberapa elemen esensial untuk diserment moral dan sosial untuk menjaga primat pribadi manusia, untuk memastikan bahwa ia selalu inteligensi manusia, dengan kesadaran dan kebebasannya, yang memberi petunjuk teknis dan secara bertanggung jawab membatasi penggunaan dan keterbatasannya.” (97)
Bab ketiga Ensiklik tampak sebagai inti gagasan Paus. Seperti yang ia katakan dalam persentasi peluncuran Ensiklik, AI perlu dilucuti senjatanya. Paus tidak anti AI, namun ia menegaskan keyakinannya bahwa AI tidak akan menggantikan manusia. Kemajuan teknologi yang canggih sekalipun tidak akan menggantikan martabat manusia sebagai gambar Allah Trintias.
“Melucuti senjata AI berarti membebaskannya dari mentalitas persaingan ‘bersenjata’, yang saat ini tidak hanya terbatas pada konteks militer, tetapi juga merupakan fenomena ekonomi dan kognitif. […] Melucuti senjata berarti melawan asumsi bahwa kekuatan teknis secara otomatis memberikan hak untuk memerintah. Melucuti senjata tidak berarti menolak teknologi, tetapi mencegahnya mendominasi umat manusia. Ini berarti membebaskan teknologi dari kendali monopoli dan membukanya untuk diskusi dan debat, sehingga menjadikannya ramah manusia dan mengembalikannya ke pluralitas budaya dan cara hidup manusia. Tugas kita saat ini bukan hanya etis atau teknis. Ini bersifat ekologis dalam arti yang paling dalam, karena menyangkut dimensi baru dari rumah kita bersama. AI sudah menjadi lingkungan tempat kita berada, serta kekuatan yang harus kita hadapi. Karena alasan ini, hanya mengaturnya saja tidak cukup; ia harus dilucuti senjatanya, diterima, dan dapat diakses” (110).
Seperti telah direfleksikan KTI dalam QVH, demikian pula bab tiga MH secara tajam menampilkan refleksi tentang keberadaan manusia di persimpangan: Antara kemajuan teknologi yang disertai klaim ‘tak terbatas’ di satu pihak, dan risiko terburuknya, yaitu utopia keabadian dengan asumsi yang naif dan sombong. Mau di bawa ke mana humanitas kita?
Manusia memiliki keluhuran yang tidak terbatas, dignitas infinita. Manusia itu makhluk fana, namun keluhurannya tidak terbatas. Artinya keluruhan manusia yang paling final tidak ia temukan dalam dirinya sendiri, tidak pula dalam apa yang ia ciptakan, melainkan dalam relasi dengan Pencipta-Nya: Kita adalah lebih dari apa yang kita ciptakan. Seluruh hidup kita, termasuk keterbatasan fisik, tetap layak, karena keluhuran kita datang dari Tuhan.
Keutuhan martabat manusia terwujud bukan ketika ia menjadi manusia super dengan mengandalkan rekayasa teknologi. Optimisme berlebihan pada rekayasa teknologi mengaburkan harapan manusia pada kasih Allah yang tidak terbatas. Justru karena keterbatasan itu kita dapat memaknai kasi sayang, solidaritas, persaudaraan, dan kebergantungan kita pada sesama manusia dan ciptaan lain.
Ensiklik menolak isu transumanisme dan posthumanisme. Dua pandanga ini berpegang pada optimisme futuristik, bahwa keterbatasan fisik manusia dapat diatasi dengan algoritma. Filosofi ini tidak sesuai dengan moral kristiani, karena membenarkan pengorbanan tertentu pada manusia demi memaksimalkan tubuh manusia, dan karena itu menghindari penderitaan.
“Jika manusia diperlakukan sebagai sesuatu yang perlu disempurnakan atau dilampaui, maka menjadi lebih mudah untuk menerima bahwa beberapa kehidupan kurang berguna, kurang diinginkan, atau kurang layak. Atas nama kemajuan, ‘pengorbanan yang perlu’ dapat mulai dibenarkan, dengan membebankan beban tersebut kepada yang paling rentan demi optimalisasi spesies yang dianggap semu” (117).
Bagi orang Kristiani, justru dalam keterbatasan itulah kita dapat memaknai martabat kita di hadapan Tuhan. Meskipun kita mengalami sakit dan penderitaan, kita tetap berharga di hadapan Tuhan. Kesejahteraan harus menyeluruh dan bertahan. “Kemanusiaan bertumbuh bukan meskipun keterbatasan, tetapi melalui keterbatasannya” (118).
“Justru dalam keterbatasan kita inilah hal-hal berikut dapat terwujud: belas kasih, serta kepedulian yang tulus terhadap kebutuhan orang lain; kemurahan hati yang dapat muncul bahkan di tengah kegelapan dan kegagalan; […] ketika kita menghadapi penolakan, ketika kita menderita sakit atau kehilangan orang yang dicintai, ketika kita menghadapi kelemahan atau kegagalan kita sendiri. Secara misterius, justru di saat-saat seperti itulah kita dapat menemukan kebijaksanaan baru, secara nyata merasakan kedekatan orang lain dan mengalami hadirat Tuhan” (119).
Bab keempat. Struktur ekonomi perlu dievaluasi: apakah dibangun untuk kepentinga bersama, atau demi segelintir orang. Empat corak sistem ekonomi yang baik: keluhuran martabat manusia, kebaikan bersama, tujuan untuk kebaikan universal, subsidiaritas, solidaritas dan keadilan. Untuk mencapai itu, tidak cukup suatu analisis yang abstak. Lebih jauh perlu langkah-langkah konkret untuk membangun peradaban kasih di era AI.
Paus berbicara tentang pentingnya ekologi komunikasi. AI hendaknya membentuk komunikasi yang lebih transparan, terutama demi perlindungan data pribadi. Kerja sama antara dunia jurnalisme, keluarga, sekolah diperlukan untuk membangun sikap kritis mengenai dunia komersial dan finansial secara daring. Pendidikan di keluarga dan sekolah dimaksudkan untuk membangun sikap kritis terhadap informasi dan keterampilan memverifikasi fakta.
Perlu disadari bahwa hasrat untuk mengetahui tidak identik dengan bertanya untuk segera mendapat jawaban. Pendidikan membantuk cara pandang yang lebih luas. Generasi muda perlu dilindungi dari rasa optimisme pada mesin yang sempurna, sehingga puas dengan jawaban dangkal yang diberikannya. Hendaknya diingat bahwa:
“Memiliki perangkat seluler pribadi di usia terlalu muda dan menggunakannya tanpa pengawasan orang dewasa dapat memperburuk kerentanan kaum muda, memicu kecanduan, dan membuat mereka rentan terhadap isolasi, perundungan dan perundungan siber, serta tekanan untuk membagikan gambar intim atau informasi sensitif” (141).
Tujuan utama langkah-langkah ini ialah membentuk cara pandang semua pihak tentang filosofi kerja dalam iman Kristiani. Parlu disadari bahwa diri manusia adalah tujuan utama, sedangkan tata ekonomi harus mendukungnya. Kerja adalah ruang pengalaman, ekspresi, kotribusi, perjumpaan, bukan sekedar untuk mengatasi solusi dan mendapat gaji.
Rerum Novarum telah menyuarakan hak hidup para pekerja. Hak itu harus tetap dilindungi di era AI. Negara berperan menjamin transparansi dan akuntabilitas ekonomi. Sistem politik dan ekonomi hendaknya menjamin perlindungan hak dan martabat manusia, dan bertujuan untuk kepentingan bersama, bukan demi segelintir orang atau kelompok.
Bab kelima, berbicara tentang peradaban cinta. Lawan dari peradaban cinta adalah permusuhan, konkretnya perang. Normalisasi perang adalah racun perdamaian. Tegasnya: peradaban kasih mendatangkan hidup, kultur perang membawa kematian. Persoalan AI sekarang bukan hanya soal efisiensi, tetapi dampaknya: untuk kehidupan atau kematian? Sering kali media ikut membangun opini, membentuk mentalitas ‘musuh versus lawan’.
Teknologi pada dirinya ambivalen. Batas antara proteksi dan serangan menjadi kabur. Kembali ke makna ilsutrasi biblis: AI untuk Menara Babel atau membangun kembali kota Yerusalem? Serangan cyber, manipulasi inforamsi dan keputusan automatis mendatangkan tragedi bagi manusia. Tendensi negatif ini membawa kehancuran, mengabaikan harapan dan solidaritas untuk bekerja bersama, mulai dari lingkungan keluarga sampai tingkat global.
Peradaban cinta bukan sebuah utopia yang naif, melainkan proyek kehidupan yang meminta komitmen bersama semua pihak. “Tidak cukup bagi kecerdasan buatan untuk membuat kita lebih efisien atau terhubung; ia juga harus berfungsi untuk membangun keluarga manusia universal, dengan hak dan kewajiban bersama, di mana kedekatan digital menjadi peluang nyata untuk bertemu dan saling peduli” (187).
Dalam sejarah, teori perang untuk keadilan tidak pernah valid. Yang kita butuhkan ialah diplomasi, dialog, dan pengampunan. Sebaliknya perang hanya mendatangkan kehancuran. Perang mencerminkan optimisme dangkal bahwa kekuasaan itu tidak terbatas. Orang yang membangun industri senjata untuk kekuatan militer dengan sendirinya membangun taktik kuasa ekonomi dan finansial untuk pertahanan diri yang lebih kuat.
Sebagai Penutup, Paus menegaskan tentang pentingnya solidaritas dan kerja sama dalam harapan yang teguh. “Tiap-tiap orang harus memperhatikan bagaimana ia harus membangun di atasnya” (1Kor 3: 10). Kata-kata Paulus ini memberi gambaran bagaimana kita harus menjaga kesatuan. Dalam kesatuan itu, setiap partisipasi merupakan sumbangan barharga.
Ensiklik diakhiri dengan ajakan memuji Tuhan seperti Bunda Maria. Maria memuji Tuhan, karena ia menyadari dengan rendah hati bahwa keluhuran martabatnya hanya terwujud dalam harapan akan karya keselamatan Allah. Nyanyian Maria ini adalah nyanyian harapan. Seperti Maria, mari kita menjadi “penenun harapan” (245): berharap bahwa Roh Kudus menyertai kita, juga di era AI ini, sehingga kita dengan rendah hati dan setia membangun peradaban kasih.
Sebagai anak spiritual Santo Agustinus, Paus Leo memaknai kembali kata-kata Agustinus: “Tuhan, engkau telah menjadikan kami bagi-Mu, dan jiwa kami belum berdiam sebelum ia beristirahat di dalam Engkau” (Conf. I, 1). Bagi Agustinus, manusia citra Allah Trinitas, capax Dei Trinitatis, menemukan jawaban atas kerinduanya sebagai manusia hanya ketika ia mengambil bagian dalam persekutuan kasih Allah Trinitas.


