Ada beberapa nama dokumen kepausan. Misalnya Deklarasi, Surat Apostolik, Nasihat, Dogma, Bulla, Ensiklik. Bagaimana kita dapat membedakan berbagai teks yang diterbitkan oleh Tahta Suci? Apakah kita wajib taat pada mereka? Dokumen-dokumen itu memiliki kekuatan yang berbeda-beda.
Dogma. Istilah bahasa Yunani dogma berarti kepercayaan. Dogma adalah kebenaran iman yang terkandung dalam Wahyu Ilahi. Ini adalah ajaran yang diproklamirkan secara meriah, yang hanya dapat diumumkan secara resmi oleh sebuah Konsili atau oleh Paus, ketika Paus secara eksplisit menggunakan infalibilitas kepausannya. Contoh dogma adalah kodrat ganda Kristus, Maria Bunda Allah, dan transubstansiasi. Setiap umat Katolik wajib menaatinya. Perbedaan pendapat mengenai dogma merupakan asal mula skisma yang memecah-belah Gereja universal.
Konstitusi Dogmatis. Konstitusi dogmatis adalah dokumen resmi Gereja: pokok bahasannya menyangkut kebenaran iman. Ini sebenarnya adalah empat konstitusi konsili yang ditetapkan oleh Konsili Vatikan Kedua. Konstitusi dogmatis dipilih, kemudian diumumkan secara resmi oleh Paus Paulus VI pada tahun 1965. Di antara konstitusi tersebut, yang paling terkenal adalah Dei Verbum yang berkaitan dengan Wahyu ilahi.
Konstitusi Apostolik. Konstitusi apostolik adalah teks yang setara dengan undang-undang untuk ranah sipil. Hal ini berasal dari Paus sendiri dan legitim, ibarat undang-undang, misalnya mengenai pertanyaan tentang dogma, disiplin umum atau struktur Gereja, dan melibatkan infalibilitas kepausan. Misalnya Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus pada tahun 1950. Ini mendefinisikan Dogma Bunda Maria diangkat ke Sorga, yang menegaskan bahwa Maria diangkat ke surga dengan seluruh tubuhnya. Setiap umat Katolik wajib menaatinya.
Dekret. Dekret adalah ‘tindakan pemerintahan hierarki gerejawi yang menjadi dasar kanon konsili dan keputusan resmi tertentu dari Paus’. Sebuah dekrit tidak dikeluarkan oleh Paus yang berdaulat saja, namun dikeluarkan dan dirumuskan oleh kuria Romawi, secara lebih luas. Sebuah dekret disetujui melalui pemungutan suara: hukum kanonik pada kenyataannya menekankan bahwa dekret ‘adalah hukum yang selayaknya’. Setiap umat Katolik wajib menaatinya.
Bulla Kepausan. Bulla kepausan adalah surat meriah, disegel dengan segel timah atau segel lilin: inilah yang memberinya nama (dari bahasa Latin bulla, segel). Konstitusi Apostolik bisa berbentuk bulla. Dokumen ini tidak diberi wewenang magisterial yang lebih besar. Sebuah Bulla dibuat untuk mengumumkan pengangkatan uskup, kanonisasi, atau definisi dogmatis.
Ensiklik. Ensiklik adalah surat meriah dari Paus yang ditujukan kepada seluruh Gereja atau uskup, suatu wilayah atau seluruh dunia. Surat ini dengan jelas menyatakan posisi Gereja Katolik pada tema tertentu, seperti persahabatan (Fratelli tutti), ekologi (Laudato si’), tentang harapan (Spe salvi), dan kasih Kristus (Dilixit Nos).
Nasihat Apostolik. Seperti Ensiklik, Nasihat Apostolik ditujukan kepada Gereja universal atau kepada para uskup, dan juga menguraikan posisi resmi Takhta Suci mengenai suatu masalah tertentu. Namun, lebih dari sekedar ensiklik, dokumen ini mengungkap ‘kesimpulan Paus terhadap refleksi kolektif, seperti kesimpulan sinode para uskup’. Misalnya Amoris Laetitia yang mengandung nasihat untuk menghayati cinta dalam keluarga. Hal ini berkaitan dengan fungsi pastoral Paus, bukan infalibilitasnya.
Motu Proprio. Secara harafiah berarti atas inisiatifnya sendiri. Tindakan legislatif ini disamakan dengan dekrit, yaitu keputusan yang dikeluarkan oleh otoritas Paus yang bertindak atas inisiatifnya sendiri dan bukan sebagai tanggapan atas suatu permintaan. Misalnya, motu proprio Traditionis Custodes menetapkan posisi Paus Fransiskus mengenai penggunaan liturgi Romawi. Hal ini tidak termasuk dalam infalibilitas kepausan.
Deklarasi. Sebuah deklarasi, demikian penjelasan Takhta Suci dalam konteks penerbitan Fiducia Supplicans, menawarkan kontribusi spesifik dan inovatif terhadap makna pastoral (suatu tindakan Gereja) untuk memperluas dan memperkaya pemahaman klasiknya. Dalam kenyataan, ini adalah refleksi teologis, berdasarkan visi pastoral Paus. Sebuah deklarasi tidak memiliki nilai hukum atau dogmatis: ia mengikat Paus tetapi tidak berada di bawah yurisdiksi infalibilitas kepausan.
Responsum. Responsum berarti jawaban; ini tidak memberikan kontribusi baru apa pun. Tujuannya adalah untuk mengingat kembali sebuah doktrin Gereja. Hal ini memberikan titik terang magisterial, atas nama Gereja, untuk menghindari masalah atau kontradiksi yang dapat ditimbulkan oleh sebuah deklarasi, dengan tujuan agar orang tetap setia pada tradisi dan kesatuan Gereja. Hal ini melibatkan magisterium tetapi tidak termasuk dalam infalibilitas kepausan.
Surat Apostolik. Surat Apostolik adalah dokumen meriah yang dikeluarkan oleh Vatikan, yang memuat penjelasan sikap Paus kepada pejabat Gereja atau kepada kategori umat beriman. Pada umumnya, karena Paus ingin menyadarkan mereka akan sebuah orientasi atau ajaran yang menyangkut salah satu penerimanya. Ini tidak memiliki cakupan universal, tetapi juga dimaksudkan sebagai surat terbuka. Surat-surat Apostolik Paus Fransiskus seringkali berbentuk motu proprio. Mereka tidak termasuk dalam infalibilitas kepausan.


