Jean Vanier (1928-2019), seorang humanis, filsuf dan teolog Katolik dari Kanada, yang telah mendedikasikan hampir lima puluh tahun hidupnya bagi para penyandang disabilitas intelektual, menggambarkan dunia sekarang sabagai dunia yang terluka (wounded world). Krisis dunia itu telah melukai wajah kemanusiaan. Cara hidup ratusan komunitas L’Arche yang dirintisnya di Prancis sejak 1964, merupakan contoh upaya memberi kesaksian tentang harapan pembaruan wajah humanitas.
Menarik bahwa di antara tokoh-tokoh besar yang menginspirasi hidup dan karya Vanier (Misalnya saja Mahatmah Gandhi, Martin Luther King, dan Paus Fransiskus), Santo Fransiskus Assisi adalah salah satunya. Misalnya pilihan Fransiskus untuk hidup di tengah orang kusta dan jalan damai yang ia tempuh ketika perang salib berkecamuk. Buku Vanier A Cry Is Heard [ACH] yang terbit 2017 dan We Need one Another [WNA], terbit 2018, memuat beberapa poin refleksi atas pengalaman hidupnya dengan inspirasi cara hidup Fransiskus Assisi.
Fransiskus dan Orang Kusta. Berikut ini kesaksian Fransiskus sendiri dalam Wasiatnya serta rekaman sejarah dari Thomas dari Celano, tentang perjumpaan dengan orang kusta: “Beginilah Tuhan menganugerahkan kepadaku, Saudara Fransiskus, untuk melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri mengantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan bandan” [Was.1-3].
“Kemudian, pencinta suci kerendahan hati mutlak itu pergi kepada orang-orang kusta dan hidup bersama dengan mereka. Ia melayani mereka semua dengan amat sungguh-sungguh demi Tuhan dan ia membasuh segalanya yang membusuk, bahkan membersihkan nanah dari luka-luka, sebagaiamana dikatakannya sendiri dalam Wasiatnya” [Thomas Celano, # 17].
Dunia yang Disable. Digambarkan bahwa semesta ini disable karena ciri relasional yang menjadi kodrat manusia dan segenap ciptaan diblok oleh primat individualisme. Batas-batas ras, budaya dan agama, intrik-intrik politik, kekuasaan dan kepentingan ekonomi serta konflik politik telah menutup ruang relasi dalam diri manusia. Dunia terluka. Kodrat manusia sebagai makhluk relasional terluka. Ibu bumi telah menjadi ringkih (vulnurable world) karena setiap penghuni tak saling peduli. Tanah, udara, api dan angin sebagai elemen utama rumah bumi telah tercemar oleh eksploitasi manusia.
Kultur dunia sekarang ialah kesuksesan dan kesempurnaan. Dan oleh provokasi media sosial, kultur itu telah membentuk sebuah gaya hidup global. Kultur dunia mengkondisikan penolakan bagi orang yang lemah dan terbatas. Namun itu bukan cara Tuhan. Kristus datang menggandeng tangan orang lemah dan tidak berdaya: Tuhan merangkul dan mengasihi mereka… Tuhan memilih kaum yang lemah (WNA, 86). Kepada dunia Yesus telah mewahyukan dua hal istimewa: Pertama, Allah adalah kasih dan Ia mengasihi. Kedua, Allah menghadirkan kasih lewat sesama ciptaan. Melalui relasi dengan sesama hidup seseorang dibarui. Kasih menguatkan harapan: Dengan kasih, kita dimampukan untuk saling menyembuhkan (WNA, 104). Atau dalam bahasa Fransiskus, Yesus mengajarkan kita memperlakukan segenap ciptaan sebagai saudara.
Melampaui Kemurahan Hati. Sikap Fransiskus mencerminkan pesan Injil tentang tindakan kasih yang tulus kepada sesama. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: “Siapakah sesamaku manusia”? (Luk 10: 29). Yesus tidak menunjuk batasan tentang sesama. Ia berkisah tentang orang Samaria yang baik hati. Ada seseorang yang dirampok para penyamun dalam perjalanan. Ia ditinggalkan terkapar di jalan, terluka, hampir mati. Dua orang religius Yahudi yang melihatnya, lewat begitu saja, karena dihantui rasa takut melawan tradisi. Orang Samaria juga lewat di situ. Ia melepaskan stigma perbedaan. Ia mengurus pengobatan sesama sampai sembuh. Ia mendobrak tembok batas antara manusia melalui tindakan kasih. Kedua orang yang lama terpisah oleh stigma agama, kini menyatu sebagai sahabat. “Pergi dan perbuatlah demikian”, kata Yesus memberi amanat.
Fransiskus Assisi merupakan model gerakan pembaruan di tengah dunia yang terluka dan disable. Dalam dunia terluka ini, yang dibutuhkan manusia adalah keberanian keluar dari ketakutan-ketakutan akibat stigma-stigma sosial. Tembok-tembok pemisah itu telah membuat manusia takut. Seperti diserukan Paus Fransiskus, cara hidup Fransiskus Assisi menginspirasi harapan akan etos kemanusiaan baru. Bagi Vanier, manusia di zaman ini ditantang untuk bersaksi dengan cara baru: bergerak dari kemurahan hati menuju perjumpaan: From generosity to encounter [ACH, 82]. Fransiskus telah memberi kesaksian tentang perjumpaan dengan sesama melalui sikapnya kepada orang kusta. Mula-mula ia menghindari orang kusta; lalu ia merasa cukup puas ketika memberikan sedekah kepada mereka. Meski demikian ia merasakan sebuah kerinduan batian lebih mendalam yang belum terjawab. Ia terus mencarinya.
Dikisahkan bahwa terdorong Roh Kudus, Fransiskus kemudian memberanikan diri menjumpai orang kusta. Ia belum puas hanya turun dari kudanya untuk memberi sedekah kepada orang kusta. Kini ia mau bekerja dengan tangannya merawat mereka: Ia memberi kesaksian tentang perjumpaan (encounter) yang otentik. Melalui perjumpaan itu, Fransiskus pun mengalami pembaruan dalam dirinya: Tembok-tembok ketakutan yang meliputi hatinya, yang telah memisahkannya dari orang-orang yang terabaikan, telah runtuh. Ia menemukan kebebasan baru dan sukacita persekutuan hidup sebagai anak Allah di tengah anak-anak Allah: ketulusannya sebagai anak menyatu dengan ketulusan mereka [ACH, 83-4].
Pilihan sikap Fransiskus menjadi model sikap kita terhadap mereka yang lemah dan diabaikan. Sikap yang paling esensial ialah perjumpaan untuk saling mendengar dari hati ke hati. Bagi Vanier, demi kemanusiaan yang terluka dalam dunia sekarang ini, kemurahan hati saja tidak cukup. Orang yang bersikap murah hati, mungkin saja menempatkan diri sebagai pihak yang lebih kuat. Ia memberi sesuatu kepada pihak yang lemah; ia tampil sebagai penolong yang kuat; ia mau agar mereka yang lemah segera berubah. Namun itu bukan yang paling esensial bagi dunia yang terluka. Yang paling utama ialah perjumpaan sebagai sahabat, yaitu ketika tidak ada pihak yang kuat menyumbang kepada yang lemah, atau yang kuat berjasa bagi yang disable. Menjadi sahabat berarti setara dalam relasi, saling percaya, dan saling mengasihi tanpa pamrih. Fransikus menjadi sahabat orang-orang kusta, dan mutu relasional dirinyapun dibarui.
Peristiwa lain dalam hidup Fransiskus yang relevan bagi dunia sekarang ini ialah perjumpaan dan dialognya dengan Sultan Malik Al-Kamil ketika perang salib berkecamuk. Peristiwa ini menunjukkan figur Fransiskus sebagai pembawa damai dalam perang (ACH, 127): Ia menjumpai Sultan tanpa membawa atribut perang. Ia datang membawa pesan damai. Damai mengalahkan ketakutan dan melampaui batas-batas. Fransiskus disambut Sultan. Keduanya menjadi sahabat. Terjadilah dialog persaudaraan. Dambaan akan damai lebih kuat dari naluri jahat untuk perang.
Fransiskus memberi inspirasi kepada dunia untuk berani keluar dari stigma perbedaan. Keluar dari batas-batas perbedaan menjadikan kita lebih bebas bercakap-cakap. Dari Fransiskus kita belajar melepas stigma negatif terhadap pribadi atau kelompok lain. Fransiskus berani bedamai dengan Sultan, karena ia telah berdamai dengan dirinya. Dari Fransiskus kita belajar bahwa, jika seseorang mau menjadi pembawa damai, ia pertama-tama harus berdamai dengan dirinya. Fransiskus adalah contoh pribadi yang sadar akan pentingnya kedamaian dalam diri sendiri sebagai dasar untuk membangun relasi persekutuan dengan sesama dan ciptaan lain.
Disable Jesus dan Harapan Pembaruan. Sejalan dengan spirit inkarnasi Fransiskus Assisi, bagi Vanier, kata-kata Injili “Firman menjadi manusia” adalah sebuah ekspresi yang kuat. Allah bukan hanya menjadi manusia laki-laki. Ia “menjadi daging”. Daging itu lemah dan rapuh. Jesus became vulnurable (WNA, 34). Injil Yohanes menekankan misteri Firman menjadi manusia. Yang Ilahi menjelmakan diri dalam daging. Maka kata-kata Injil itu dapat dirumuskan begini: the Word became vulnurable (WNA, 78).
Dunia kita adalah dunia yang disable, dunia berkebutuhan khusus. Kodrat manusia sebagai makhluk relasional terluka. Kita butuh perjumpaan. Yesus datang untuk menyembuhkan luka dunia: Ia menyatukan kita dalam kasih. Dalam kasih tidak ada pihak yang kuat atau lemah. Semua adalah saudara. Tak ada abilitas dan disabilitas. Kita belum sempurna, namun sama-sama dibarui Yesus.
Warisan tradisi agama mungkin telah membentuk gambaran tentang Tuhan sebagai penguasa, sehingga manusia takut dihukum. Lalu manusia sibuk membuat ritual persembahan untuk memengaruhi Allah. Yesus membawa etos baru: Tuhan Mahakasih dan lemah lembut; Ia mengambil resiko menjadi terluka seperti manusia. Tetapi justru karena itu Ia tampil sebagai Allah yang solider dengan manusia. Ia Allah bagi kita.
Pada wajah Yesus terpancar Allah yang berseru: “Jangan takut”! Ia mengundang kita memikul salib dan mengikuti Dia berjalan menuju kebangkitan. We are the children of the cross dan children of the Ressurection (WNA, 71). Menjadi daging adalah cara Yesus mengisi ruang relasional dalam diri kita, ruang yang telah lama hampah karena batas-batas buatan dunia. Yesus sumber harapan hidup baru. Sebagaimana kepada sahabat-Nya Lazarus kitapun dipanggil keluar dari kubur. This is our resurrection. Jesus calls us from the tomb to give us his spirit, a spirit of love, wisdom, and community, for loving one another (WNA, 133).
[Scotus, 3/10/2019].
Terimàkasih pater tulisan yang bagus. Selamat pesta st.Fransiskus. semoga saya mampu meneladan fransiskus yang dina di zaman sekarang.
Selamat Pesta Sr, Pax te cum.
Terimakasih Pater
semoga setelah saya membaca tulisan yang sangat bagus ini .tentang kisah Santo Fransiskus . saya dapat betul betul memahami bagai mana cara kita berkuat kasih terhadap sesama
Selamat Merayakan Pesta nama St Fransiskus
Salom. Terima kasih telah mengunjungi blog saya dan membaca artikel ini. Pax te cum! ?
Kami dari komunitas DV, sangat suka membaca artize ini. sanat inspiratif bagi komunitas naka2 muda kami
Share ya. Terima kasih. Sukses selalu. Tuhan memberkati.