Christus Medium
  • Humaniora
  • Teologi
  • Dialog Teologi dan Sains
  • Filsafat
  • Buku
  • Tentang Saya
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil Pencarian
Christus Medium
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil Pencarian
Home Teologi

Dogma Maria Perawan

Memahami Dogma Keperawanan Maria

7 Mei 2021
inTeologi
3
Dogma Maria Perawan
Share on FacebookShare on Whats AppShare on Twitter

Maria selalu dan tetap perawan (semper virgo). Itulah salah satu dari empat Dogma tentang Maria yang diakui dan diajarkan Gereja Katolik. Bagaimana menjelaskan dogma ini?

Salah satu teks Injil yang boleh dipandang sebagai benih dari dogma ini ialah reaksi Maria kepada Malaikat Gabriel: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1: 4). “Belum bersuami” mengindikasikan keperawanan Maria.

Santo Paulus hanya satu kali mengacu pada Maria, dan sebenarnya sedang berbicara tentang misteri Kristus. “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal 4:4-5).

Apa yang dimaksudkan dengan “perawan”? Salah satu dokumen Gereja, yaitu Sinode Lateran, 31 Oktober 649, menjelaskannya. Dalam Kanon 3, Sinode ini menggunakan istilah absque semine (Latin), senza seme (Italia) yang berarti tanpa benih. Penggalan kalimatnya: […] Maria… pada masa masa mengandung tanpa benih dari Roh Kudus…” [DS 503].

Selain pernyataan Sinode itu ada beberapa Konsili sebelum dan sesudahnya pun telah menetapkan dogma keperawanan Maria, yaitu Konsili Konstantinopel I (381), Efesus (431), Kalsedon (451), Lateran IV (1215), Lion II (1274), dan Fiorentina (1439).

Inti argumen dari Konsili-Konsili itu sama: Maria mengandung Yesus Putra Allah, maka ia dimurnikan oleh keallahan Yesus. Yesus adalah Putra Allah, artinya Ia memiliki kesucian tertinggi, dan dalam rahim Maria, kesucian Yesus termanifestasi dalam keperawanan Maria. Maria tidak dapat dipahami terlepas dari peran Allah Bapa dalam diri Yesus Putra-Nya.

BacaJuga

Quo Vadis Humanitas?

Dilexi Te dan Natal 2025

Gereja: Komunitas Pengharapan

Poin-Poin Inti Dilexi Te

Roh Kudus Menurut St Agustinus Hippo

Reformator Anti Bunda Maria?

Maria itu tetap dan selalu perawan karena ia dipilih dan diberkati oleh rahmat Allah. Oleh sebab itu Gereja meyakini bahwa Maria itu perawan sebelum melahirkan, ketika melahirkan, dan setelah melahirkan Yesus (ante partum, in partu, post partum).

Santo Agustinus Hippo (†430) dan Santo Zeno dari Verona (†371) pun meyakni bahwa Maria itu mengandung sebagai perawan, melahirkan sebagai perawan, dan setelah melahirkan ia tinggal tetap perawan selama hidupnya (virgo concepit, virgo peperit, virgo permanist).

Keperawanan sebelum melahirkan, artinya Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa diperanakkan oleh seorang bapak inasni. Keperawanan waktu melahirkan, artinya rahim Maria tetap utuh ketika Yesus lari dari padanya. Keperawanan sesudah melahirkan berarti Maria tidak pernah bersetubuh sehinggga juga tidak ada saudara sekandung Yesus.

Sungguh hanya rahmat Allah nan luhur yang memungkinkan semua ini. Kristus adalah Pribadi Ilahi yang sempurna. Karena itu kelahiran-Nya dari rahim Maria tak menyebabkannya ternoda, melainkan memurnikan dan mengangkatnya kepada tingkat keluhuran yang lebih tinggi [Gagliardi, 2017. La Verità è Sintetica, 469-472].

 

Tags: Bunda MariaDogmaPerawan Maria
ShareSendTweet
Artikel Sebelumnya

Paus Membarui Litani Santo Yusuf

Artikel Berikut

Kembali Mencuat Polemik Pernikahan LGBT

TerkaitTulisan

Kebangkitan Teologi Harapan

Quo Vadis Humanitas?

DILEXI TE Seruan Apostolik Paus Leo XIV

Dilexi Te dan Natal 2025

Gereja: Komunitas Pengharapan

Poin-Poin Inti Dilexi Te

Roh Kudus Menurut St Agustinus Hippo

Reformator Anti Bunda Maria?

Yesus Bangkit Atau Dibangkitkan?

Kebangkitan Teologi Harapan

Komentar 3

  1. Lusi Sinurat says:
    5 tahun yang lalu

    Hanya Rahmat Allah nan luhur yang memungkinkan semua ini… Gracias Padre

    Balas
  2. Irma Mikarsa says:
    5 tahun yang lalu

    Terima kasih pater

    Balas
  3. Widi says:
    5 tahun yang lalu

    Danke schon Vater

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

  • Surat Cinta Ramadhan dari OFM
  • Quo Vadis Humanitas?
  • SSPX Mau Menahbiskan Uskup Tanpa Mandat Paus
  • Sejarah dan Makna Rabu Abu
  • Rekonsiliasi Penuh Vatikan dan SSPX?

Komentar Terbaru

  • Ning floren pada Sejarah dan Makna Rabu Abu
  • Agustinus Pati Arkian Atakowa pada Berpuasa Ala Paus Fransiskus
  • Agustinus Pati Arkian Atakowa pada Berpuasa Ala Paus Fransiskus
  • soviani making pada Sejarah dan Makna Rabu Abu
  • Agustinus Bora Dairo pada Senyum Uskup Paskalis

Tag

AllahBonaventuraBunda MariaCorona VirusDilexit NosdisabilitasEkaristiEnsiklik Tutti FratelliFransiskanFransiskus AssisiFratelli TuttiGerejaGereja Katolikharapanhikmat roh kudusimankarunia Roh KuduskasihLaudato Silogika kasihlogika salibManusiamanusia sebagai citra AllahnatalPaus FransiskusPaus Leo ke-XIVPaus Leo XIVPrapaskahRoh KudussabdaSalibSanta Mariasanto agustinusSanto Agustinus HippoSanto BonaventuraSanto Fransiskus AssisiSanto YusufTeilhard de ChardinTeologiTrinitasvirus koronawaktuwaktu dan kekekalanYesus kristusYohanes Pembaptis
@Christusmedium.com
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil Pencarian
  • Humaniora
  • Teologi
  • Dialog Teologi dan Sains
  • Filsafat
  • Buku
  • Tentang Saya

© 2018 - Andreatawolo.id