Christus Medium
  • Humaniora
  • Teologi
  • Dialog Teologi dan Sains
  • Filsafat
  • Buku
  • Tentang Saya
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil Pencarian
Christus Medium
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil Pencarian
Home Teologi

Jiwa Bayi-Bayi yang Meninggal Sebelum Dibaptis

Jiwa bayi-bayi yang meninggal sebelum dibaptis berada di Limbus Puerorum

19 April 2024
inTeologi
4
Jiwa Bayi-Bayi yang Meninggal Sebelum Dibaptis
Share on FacebookShare on Whats AppShare on Twitter

Selain tentang keselamatan orang-orang benar dari Perjanjian Lama, tradisi Gereja juga mengajarkan tentang keselamatan anak-anak bayi yang meninggal dunia sebelum dibaptis, misalnya karena terjadi keguguran, lahir mati, sindrom kematian mendadak, atau tragedi lain sebelum bayi dibaptis.

Dalam dunia teologi ada hipotesis tradisional tentang keberadaan jiwa bayi-bayi yang meninggal sebelum dibaptis. Mereka tidak melakukan dosa personal, namun menerima warisan dosa asal. Tradisi Gereja berpandangan bahwa anak-anak itu berada di limbus puerorum (penantian anak-anak), karena mereka belum masuk dalam kebahagiaan surgawi untuk memandang wajah Allah. Keberadaan mereka ini berbeda dengan orang dewasa yang telah memiliki dosa personal dan karena itu berada dalam hukuman.

Anak-anak dalam limbus puerorum tidak menderita hukuman, namun belum menatap wajah Allah. Keyakinan ini dipengaruhi pandangan Santo Agustinus Hippo tentang dosa asal yang diturunkan dari orang tua kepada anak. Anak-anak itu mengalami sukacita alami oleh rahmat Allah, namun belum dapat memandang wajah Allah dalam sukacita abadi, karena sudah ternoda dosa asal warisan orang tua. Sebagai sebuah gagasan teologis (bukan ajaran dogmatis) pandangan ini ditafsirkan secara beragam.

Sejak 19 April 2007 Paus Benediktus ke-XVI telah merevisi pandangan ini dengan lebih menekankan karya keselamatan dari Allah yang melampaui warisan dosa asal. Dengan demikian pandangan klasik tentang dosa asal direvisi oleh Ratzinger – meskipun belum menjadi sebuah doktrin yang dogmatis. Pandangan teologis Paus Benediktus itu tampak dalam pandangan Komisi Teologi Internasional dalam dokumen yang berjudul The Hope of Salvation for Infants who Die Without being Baptised (HS).

Komisi menempatkan kematian bayi yang belum dibaptis sebagai partisipasi dalam kematian Kristus sendiri, sehingga merekapun telah bersatu dengan-Nya (HS 85). Kematian bayi-bayi dalam situasi menderita ditempatkan dalam kesatuan dengan darah Kristus dan darah para martir kudus, sehingga dapat dikatakan sebagai pembaptisan dalam darah Kristus yang membawa keselamatan (HS 86).

Dengan demikian baptis dimaknai bukan sekedar pengampunan dosa asal, tetapi anugerah rahmat secara sakramental yang mendatangkan keselamatan bagi bayi yang meninggal sebelum dibaptis (HS 87). Komisi juga menyebutkan kemungkinan baptis rindu (in votum), yaitu kehendak baik dari orang tua bayi atau Gereja bagi bayi. Solusi semacam itu sungguh diperhatikan Gereja (HS 94). Jadi pandangan Benediktus XVI itu menjadi dasar teologis keyakinan bahwa bayi yang meninggal sebelum dibaptis sudah mengalami keselamatan abadi oleh karena jasa rahmat Allah dalam kematian Yesus Kristus.

BacaJuga

Beragam Tingkatan Dokumen Kepausan

Lima Poin Utama Magnifica Humanitas

Kolegialitas para Uskup

Era AI: Ke Mana Arah Hidup Manusia?

Quo Vadis Humanitas?

Dilexi Te dan Natal 2025

Tags: limbus puerorum
ShareSendTweet
Artikel Sebelumnya

Gereja Katolik Ikon Allah Trinitas

Artikel Berikut

Bunda Maria Tidak Menggantikan Yesus

TerkaitTulisan

DILEXI TE Seruan Apostolik Paus Leo XIV

Beragam Tingkatan Dokumen Kepausan

Magnifica Humanitas Ensiklik Pertama Paus Leo XIV

Lima Poin Utama Magnifica Humanitas

Kolegialitas para Uskup

Era AI: Ke Mana Arah Hidup Manusia?

Quo Vadis Humanitas?

Dilexi Te dan Natal 2025

Gereja: Komunitas Pengharapan

Poin-Poin Inti Dilexi Te

Komentar 4

  1. Theresia Ina Duran says:
    2 tahun yang lalu

    Terimakasih Pater

    Balas
  2. Nita says:
    2 tahun yang lalu

    Bagus, menambah pengetahuan saya.. Terima kasih Pater.

    Balas
  3. Irene says:
    2 tahun yang lalu

    Terima kasih Pater Andre

    Balas
  4. Yudi says:
    2 tahun yang lalu

    Tks Pater Andre jd tbh mengerti dan tahu. Smkn cinta dan bangga dgn Katolik.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

  • Komjen. Pol. Marthinus Hukom Raih Gelar Doktor di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
  • Pemeriksaan Batin Gereja Katolik Indonesia
  • Beragam Tingkatan Dokumen Kepausan
  • Lima Poin Utama Magnifica Humanitas
  • Magnifica Humanitas Ensiklik Pertama Paus Leo XIV

Komentar Terbaru

  • Theresia Ina Duran pada Mengapa Juni Disebut Bulan Hati Kudus Yesus?
  • Agustinus Pati Arkian Atakowa pada Beragam Tingkatan Dokumen Kepausan
  • Yoseph Paulus Laiyan pada Mukjizat Berkat Paus Benediktus XVI Diselidiki Vatikan
  • Soviani pada Mukjizat Berkat Paus Benediktus XVI Diselidiki Vatikan
  • Agustinus Pati Arkian Atakowa pada Mukjizat Berkat Paus Benediktus XVI Diselidiki Vatikan

Tag

AllahBonaventuraBunda MariaCorona VirusDilexit NosdisabilitasEkaristiEnsiklik Tutti FratelliFransiskanFransiskus AssisiFratelli TuttiGerejaGereja Katolikharapanhikmat roh kudusimankarunia Roh KuduskasihLaudato Silogika kasihlogika salibmanusia sebagai citra AllahnatalPaus Benediktus XVIPaus FransiskusPaus Leo ke-XIVPaus Leo XIVPrapaskahRoh KudussabdaSalibSanta Mariasanto agustinusSanto Agustinus HippoSanto BonaventuraSanto Fransiskus AssisiSanto YusufTeilhard de ChardinTeologiTrinitasvirus koronawaktuwaktu dan kekekalanYesus kristusYohanes Pembaptis
@Christusmedium.com
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil Pencarian
  • Humaniora
  • Teologi
  • Dialog Teologi dan Sains
  • Filsafat
  • Buku
  • Tentang Saya

© 2018 - Andreatawolo.id