Christus Medium
  • Humaniora
  • Teologi
  • Dialog Teologi dan Sains
  • Filsafat
  • Buku
  • Tentang Saya
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil Pencarian
Christus Medium
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil Pencarian
Home Humaniora

Terlahir untuk Bertanya

Manusia bertanya, dan ia sendiri sebuah pertanyaan

24 Februari 2020
inHumaniora
1
Terlahir untuk Bertanya
Share on FacebookShare on Whats AppShare on Twitter

Manusia adalah makhluk yang bertanya: Ia bertanya tentang apa saja. Ia memiliki rasa ingin tahu. Ia bertanya agar dapat mengerti, untuk memperoleh informasi pasti, untuk dapat membuat pertimbangan yang jelas. Manusia juga bertanya tentang sebab-musabab benda atau kejadian, tentang tujuan sebuah tindakan, tentang keberadaan orang atau makhluk lain di sekitarnya.

Rasa ingin tahu manusia begitu luas, sehingga ia mengembangkan ilmu pengetahuan untuk membuka tabir keajaiban alam semesta. Menarik bahwa pertanyaan manusia juga ditujukan kepada dirinya atau keberadaannya sebagai manusia: Dari mana aku berasal? Ke manakah aku akan pergi? Apa yang paling kucari dalam hidup? Setelah hidup di dunia ini, apa yang akan kualami? Itulah contoh pertanyaan mendasar manusia.

Lebih lagi manusia tidak hanya bertanya tentang hal-hal sekitar dirinya maupun tentang dirinya sendiri. Sebenarnya manusia itu sendiri merupakan sebuah pertanyaan. Karl Rahner (1904-1984) menulis begini: ‘Saya percaya bahwa manusia adalah sebuah pertanyaan yang tidak ada jawabannya’ [I believe that man is the question to which there is no answer].

Pandangan bahwa manusia dapat bertanya dan bahwa dia sendiri adalah sebuah pertanyaan mau mengatakan keberadaan manusia di dunia ini sifatnya terbatas, tidak mutlak, makhluk fana. Hasrat manusia terarah kepada sebuah realitas yang tidak dapat ia jangkau. Semakin mendalam pertanyaannya, semakin ia sadar bahwa ia sendiri tidak mampu menjawabnya.

Dalam kegiatan hidupnya manusia berusaha, dengan penuh kesadaran dan kemauan, mewujudkan apa yang dikehendakinya. Tindakan-tindakan konkret manusia selalu mengarah pada maksud tertentu. Menurut Maurice Blondel (1861-1949), kehendak manusia tidak akan pernah berhenti mendambakan kebahagiaan (atau apa yang dianggapnya sebagai kebahagiaan).

Manusia mendambakan sesuatu yang dapat memenuhi keinginannya secara total dan definitif, sesuatu yang serba memuaskan; bukan hanya dalam satu atau beberapa segi melainkan menyeluruh; dan bukan hanya untuk sementara waktu tetapi untuk selama-lamanya.

BacaJuga

Komjen. Pol. Marthinus Hukom Raih Gelar Doktor di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Ketika Paus Ditahan Polantas

Paus Fransiskus: Ketika Tuhan Menampar

Guru Katolik Zaman Now

Ketika Paus ditanya: Seandainya bisa Membuat Mukjizat, apa yang dilakukan?

Kiat Sukses di Tahun Baru

Tetapi kalau ditanya seperti apa kebahagiaan itu, jawabannya kabur (sekurang-kurangnya beragam). Rupanya manusia belum tahu juga apa yang persis membahagiakannya secara menyeluruh dan untuk selamanya. Yang jelas hanyalah bahwa setiap orang ingin bahagia.

Blondel merumuskan pertanyaan dengan lebih tajam: Dalam dan oleh objek konkret manakah keinginan umum dan dasariah akan kebahagiaan dapat dipenuhi sedemikian rupa sehingga puaslah manusia secara total dan untuk selamanya? Atau pertanyaannya: bilamanakah kegiatan manusia selesai? Tujuan konkret manakah yang bersifat sedemikian memuaskan dan memenuhi keinginan manusia sehingga pencapaiannya membuat ia ‘beristirahat’?

 

 

Tags: makhluk penanyaManusia
Share74SendTweet
Artikel Sebelumnya

Secret of Love

Artikel Berikut

[Bukan] Eks Imam S3 Vatikan

TerkaitTulisan

Komjen. Pol. Marthinus Hukom Raih Gelar Doktor di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Komjen. Pol. Marthinus Hukom Raih Gelar Doktor di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Ketika Paus Ditahan Polantas

Ketika Paus Ditahan Polantas

Paus Fransiskus: Ketika Tuhan Menampar

Guru Katolik Zaman Now

Ketika Paus ditanya: Seandainya bisa Membuat Mukjizat, apa yang dilakukan?

Kiat Sukses di Tahun Baru

Bahagia Seperti St. Yusuf? Ada Lima Kata Kunci

Takjub Pada Yesus Belum Tentu Beriman

Komentar 1

  1. Romaida katarina simbolon says:
    6 tahun yang lalu

    Terimakasih Pater. Tulisan manusia bertanya.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terbaru

  • Komjen. Pol. Marthinus Hukom Raih Gelar Doktor di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
  • Pemeriksaan Batin Gereja Katolik Indonesia
  • Beragam Tingkatan Dokumen Kepausan
  • Lima Poin Utama Magnifica Humanitas
  • Magnifica Humanitas Ensiklik Pertama Paus Leo XIV

Komentar Terbaru

  • Theresia Ina Duran pada Mengapa Juni Disebut Bulan Hati Kudus Yesus?
  • Agustinus Pati Arkian Atakowa pada Beragam Tingkatan Dokumen Kepausan
  • Yoseph Paulus Laiyan pada Mukjizat Berkat Paus Benediktus XVI Diselidiki Vatikan
  • Soviani pada Mukjizat Berkat Paus Benediktus XVI Diselidiki Vatikan
  • Agustinus Pati Arkian Atakowa pada Mukjizat Berkat Paus Benediktus XVI Diselidiki Vatikan

Tag

AllahBonaventuraBunda MariaCorona VirusDilexit NosdisabilitasEkaristiEnsiklik Tutti FratelliFransiskanFransiskus AssisiFratelli TuttiGerejaGereja Katolikharapanhikmat roh kudusimankarunia Roh KuduskasihLaudato Silogika kasihlogika salibmanusia sebagai citra AllahnatalPaus Benediktus XVIPaus FransiskusPaus Leo ke-XIVPaus Leo XIVPrapaskahRoh KudussabdaSalibSanta Mariasanto agustinusSanto Agustinus HippoSanto BonaventuraSanto Fransiskus AssisiSanto YusufTeilhard de ChardinTeologiTrinitasvirus koronawaktuwaktu dan kekekalanYesus kristusYohanes Pembaptis
@Christusmedium.com
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil Pencarian
  • Humaniora
  • Teologi
  • Dialog Teologi dan Sains
  • Filsafat
  • Buku
  • Tentang Saya

© 2018 - Andreatawolo.id